Pertumbuhan Industri Non Migas 6,3 Persen

Selasa, 29 Mei 2012, 08:01 WIB
Pertumbuhan Industri Non Migas 6,3 Persen
Kementerian Perin­dus­trian (Kemenperin)
RMOL.Kementerian Perin­dus­trian (Kemenperin) mencatat pertumbuhan industri non mi­gas triwulan I-2012 sebesar 6,3 persen. Pertumbuhan ini masih lebih rendah dibanding per­tumbuhan industri sepan­jang 2011 sebesar 6,83 persen.

Menteri Perindustrian (Men­perin) MS Hidayat mengata­kan, masih rendahnya pertum­buhan industri pada kuartal I disebabkan siklus kerja in­dus­tri periode itu pada umum­nya tidak terlalu agresif.

Apalagi dampak krisis Ero­pa juga berimbas pada penu­runan kinerja ekspor industri. “Biasanya pada kuartal II me­ningkat lagi. Pertumbuhan ta­hun ini bisa 6,8 persen (sama tahun lalu) sudah bagus,” kata Hidayat di DPR, kemarin.

Hidayat mengatakan, tri­wu­lan I kontribusi sektor in­dustri terhadap pendapatan domestik bruto mencapai 20,47 persen. Angka itu me­mang masih lebih rendah dari 2011 sebesar 20,91 persen.

Bekas Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) itu menga­takan, industri pe­ngolahan masih menjadi sek­tor pen­do­rong perekonomian In­donesia.

Dia juga mengatakan, nilai investasi penanaman modal da­lam negeri (PMDN) industri tri­wulan I mencapai Rp 8,12 trili­un dan investasi PMA sektor in­dustri 2,31 miliar dolar AS.

Menurut Hidayat, sektor in­dustri yang mengalami per­tumbuhan tinggi adalah pupuk, kimia dan barang dari karet se­besar 9,19 persen, industri mi­numan dan tembakau 8,19 per­sen, industri alat angkut, me­sin dan peralatannya sebe­sar 6,23 persen, serta semen dan barang galian bukan logam sebesar 6,11 persen.

Sementara sektor industri yang mengalami deindustria­lisasi adalah industri tekstil, barang kulit dan alas kaki, industri barang kayu dan hasil hutan serta industri logam dasar besi dan baja.

Gejala ini terjadi pada 2006 hingga 2009, karena saat ini sedang terjadi krisis di negara tujuan ekspor seperti Jepang, Amerika dan Eropa.

“Serbuan barang China yang harganya murah dengan kua­litas rendah juga mengurangi pangsa pasar dalam negeri. Na­mun, dua tahun terakhir  ko­mo­ditas itu mulai mengalami kenaikan lagi,” katanya.

Menteri Keuangan (Men­keu) Agus Martowardojo me­ngatakan, Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang cu­kup baik untuk menghadapi per­kembangan ekonomi dunia yang terus menurun.

Menurut Agus, dari sisi ke­tahanan fiskal, pemerintah op­timis dapat menjaga defisit di bawah 3 persen. Sedangkan un­tuk menjaga momentum per­­tumbuhan ekonomi, peme­rin­tah akan terus memperbaiki ik­lim investasi dan me­ning­kat­kan kondisi infrastruktur. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA