“Masalah lifting ini sering menjadi tekanan buat Menteri ESDM. Siapapun menterinya seÂÂtiap bahas lifting di dalam rapat, pasti mukanya langsung puÂcat,†aku Wacik saat pembuÂkaÂan paÂmeran Indonesia PetÂroleum Association (IPA) ke-36 di Jakarta, kemarin.
Wacik pun membenarkan, hamÂpir setiap tahun produksi miÂnyak Indonesia menurun. Dia bahkan bercerita saat masih menÂjadi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, dirinya kerap melihat menteri-menteri ESDM sebelumÂnya selalu bermasalah dengan lifting minyak.
“Saya juga penah bertanya keÂnapa lifting minyak kok terus tuÂrun. Tapi pas saya menjadi menÂteri ESDM ternyata susah juga. Orang luar boleh katakan muÂdah naikkan lifting, tapi keÂnyataan-nya susah,†curhatnya.
Wacik yang mengenakan jas hitam itu mengatakan, penurunan produksi minyak itu terjadi secara alamiah, sehingga tak ada yang bisa melawan atau mencegahnya.
Dulu Indonesia pernah jaya di minyak dan menjadi sekjen OPEC (negara-negara penghasil minyak). Namun, setelah proÂdukÂsi terus turun, Indonesia keÂluar dari organisasi itu.
Menteri asal Partai Demokrat ini mengatakan, saat ini produksi minyak Indonesia berada di kiÂsaran 910-915 ribu barel per hari. Angka ini masih belum meÂmeÂnuhi target lifting 930 ribu barel per hari.
Kendati begitu, dia optimis daÂpat memenuhi target lifting 1 juta barel per hari pada 2014 yang diperintahkan oleh Presiden. Target itu bisa tercapai jika Blok Cepu sukses berproduksi 160 ribu barel per hari.
“Saya selalu bertanya, mengaÂpa kita terus berkutat di lifting miÂnyak, kenapa tidak gabungkan dengan gas. Nanti ke depan bisa juga lifting energi yang meÂmaÂsukkan batubara,†katanya.
Menurutnya, saat ini total proÂduksi migas dan batubara menÂcapai 6 juta barel setara minyak. Dengan rincian produksi minyak 910 ribu barel, gas 1,3 juta barel setara minyak, dan batubara 3 juta setara minyak.
Untuk pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan BeÂlanja Negara (RAPBN) 2012, peÂmerintah sudah mengajukan penghitungan lifting minyak deÂngan memasukan gas.
“Sebab, 25 persen pendapatan negera disumbang sektor migas. Jika ditambah dengan tambang jumlahnya akan mencapai 35 persen. Jadi peran industri ini saÂngat penting bagi pertumbuhan ekonomi,†terangnya.
Wacik juga menyatakan akan memberikan insentif di bidang huÂlu untuk meningkatkan invesÂtaÂsi dan produksi minyak karena saat ini tidak ada temuan baru sekÂÂÂtor migas. “Saya sudah biÂcara dengan Menteri Keuangan (Agus Martowardojo) untuk insentif di sektro hulu,†ujarnya.
Di tempat yang sama, PreÂsiÂden IPA Elisabeth Proust meÂngataÂkan, produksi minyak naÂsional akan terus turun selama tidak diÂteÂmukan cadangan baru. MenuÂrutnya, 3/4 lebih cadangan miÂnyak yang dimiliki Indonesia sudah diproduksi.
“Minyak memang memberiÂkan pendapatan negara paling besar dan juga pertumbuhan ekoÂnomi Indonesia, namun caÂdangan terÂsisa 10 miliar barel setara minyak dengan gas 75 persenÂnya,†kata Proust.
Karena itu, tidak aneh jika proÂduksi minyak Indonesia terus turun dari 1,3 juta barel per hari pada 2001 menjadi 900 ribu barel per hari di 2011. Kondisi ini, diseÂbabkan terus berkurangÂnya proÂduksi dari lapangan yang ada karena sudah tua dan tidak adaÂnya lapangan baru.
Karena itu, pemerintah harus cepat menemukan lapangan miÂnyak baru untuk menjaga proÂduksinya. Apalagi sektor migas masih menjadi pendorong utaÂma dan terbesar bagi pertumÂbuhan ekonomi Indonesia.
Pada 2011, sektor migas meÂnyumbang 7 persen untuk Pro‑Âduk Domestik Bruto (PDB) dan lebih dari 25 persen untuk total penÂdaÂpatan negara. Sedangkan total investasi langsung dan tiÂdak langÂsungnya mencapai 16 miliar dolar AS. “Setiap tahun investasi yang masuk mencapai 100 juta dolar AS,†katanya.
Proust mengakui, jika saat ini caÂdangan minyak Indonesia kalah besar dari cadangan gas. NaÂmun, yang menjadi kendala paÂsokan gas saat ini adalah maÂsalah infraÂstruktur penyaluran dari daerah suplai ke daerah yang membuÂtuhkan.
“Suplai gas saat ini berada di Kalimantan dan Sumatera, seÂdangÂkan permintaan banyak dari Jawa dan Sumatera,†jelasnya.
Menurut Proust, untuk meÂningÂÂkatkan kegiatan produksi diperÂlukan investasi-investasi baru. KareÂna itu, pihaknya meÂminta kepada pemerintah untuk memÂberikan dukungan insentif dalam industri migas. Apalagi investasi di bidang migas meruÂpakan inÂvestasi jangka panjang dan penuh risiko.
Presiden Direktur Total E&P Indonesie itu juga meminta peÂmerintah berhati-hati melakuÂkan amandemen Undang-UnÂdang Migas. Namun, jika itu memang akan dilakukan, asosiasi minta dilibatkan dalam pemÂbahasan tersebut. [Harian Rakyat Merdeka]
< SEBELUMNYA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: