Muka Menteri ESDM Langsung Pucat Tiap Kali Bahas Lifting

Curhat di Pameran IPA, Wacik Ngaku Susah Naikkan Produksi Minyak

Kamis, 24 Mei 2012, 08:10 WIB
Muka Menteri ESDM Langsung Pucat Tiap Kali Bahas Lifting
Jero Wacik
RMOL.Produksi minyak alias lifting ternyata menjadi hal yang menakutkan bagi setiap menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM). Termasuk Jero Wacik yang kini berada di posisi itu.

“Masalah lifting ini sering menjadi tekanan buat Menteri ESDM. Siapapun menterinya se­­tiap bahas lifting di dalam rapat, pasti mukanya langsung pu­cat,” aku Wacik saat pembu­ka­an pa­meran Indonesia Pet­roleum Association (IPA) ke-36 di Jakarta, kemarin.

Wacik pun membenarkan, ham­pir setiap tahun produksi mi­nyak Indonesia menurun. Dia bahkan bercerita saat masih men­jadi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, dirinya kerap melihat menteri-menteri ESDM sebelum­nya selalu bermasalah dengan lifting minyak.

“Saya juga penah bertanya ke­napa lifting minyak kok terus tu­run. Tapi pas saya menjadi men­teri ESDM ternyata susah juga. Orang luar boleh katakan mu­dah naikkan lifting, tapi ke­nyataan-nya susah,” curhatnya.

Wacik yang mengenakan jas hitam itu mengatakan, penurunan produksi minyak itu terjadi secara alamiah, sehingga tak ada yang bisa melawan atau mencegahnya.

Dulu Indonesia pernah jaya di minyak dan menjadi sekjen OPEC (negara-negara penghasil minyak). Namun, setelah pro­duk­si terus turun, Indonesia ke­luar dari organisasi itu.

Menteri asal Partai Demokrat ini mengatakan, saat ini produksi minyak Indonesia berada di ki­saran 910-915 ribu barel per hari. Angka ini masih belum me­me­nuhi target lifting 930 ribu barel per hari.

Kendati begitu, dia optimis da­pat memenuhi target lifting 1 juta barel per hari pada 2014 yang diperintahkan oleh Presiden. Target itu bisa tercapai jika Blok Cepu sukses berproduksi 160 ribu barel per hari.

“Saya selalu bertanya, menga­pa kita terus berkutat di lifting mi­nyak, kenapa tidak gabungkan dengan gas. Nanti ke depan bisa juga lifting energi yang me­ma­sukkan batubara,” katanya.

Menurutnya, saat ini total pro­duksi migas dan batubara men­capai 6 juta barel setara minyak. Dengan rincian produksi minyak 910 ribu barel, gas 1,3 juta barel setara minyak, dan batubara 3 juta setara minyak.

Untuk pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Be­lanja Negara (RAPBN) 2012, pe­merintah sudah mengajukan penghitungan lifting minyak de­ngan memasukan gas.

“Sebab, 25 persen pendapatan negera disumbang sektor migas. Jika ditambah dengan tambang jumlahnya akan mencapai 35 persen. Jadi peran industri ini sa­ngat penting bagi pertumbuhan ekonomi,” terangnya.

Wacik juga menyatakan akan memberikan insentif di bidang hu­lu untuk meningkatkan inves­ta­si dan produksi minyak karena saat ini tidak ada temuan baru sek­­­tor migas. “Saya sudah bi­cara dengan Menteri Keuangan (Agus Martowardojo) untuk insentif di sektro hulu,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Pre­si­den IPA Elisabeth Proust me­ngata­kan, produksi minyak na­sional akan terus turun selama tidak di­te­mukan cadangan baru. Menu­rutnya, 3/4 lebih cadangan mi­nyak yang dimiliki Indonesia sudah diproduksi.

“Minyak memang memberi­kan pendapatan negara paling besar dan juga pertumbuhan eko­nomi Indonesia, namun ca­dangan ter­sisa 10 miliar barel setara minyak dengan gas 75 persen­nya,” kata Proust.

Karena itu, tidak aneh jika pro­duksi minyak Indonesia terus turun dari 1,3 juta barel per hari pada 2001 menjadi 900 ribu barel per hari di 2011. Kondisi ini, dise­babkan terus berkurang­nya pro­duksi dari lapangan yang ada karena sudah tua dan tidak ada­nya lapangan baru.

Karena itu, pemerintah harus cepat menemukan lapangan mi­nyak baru untuk menjaga pro­duksinya. Apalagi sektor migas masih menjadi pendorong uta­ma dan terbesar bagi pertum­buhan ekonomi Indonesia.

Pada 2011, sektor migas me­nyumbang 7 persen untuk Pro‑­duk Domestik Bruto (PDB) dan lebih dari 25 persen untuk total pen­da­patan negara. Sedangkan total investasi langsung dan ti­dak lang­sungnya mencapai 16 miliar dolar AS. “Setiap tahun investasi yang masuk mencapai 100 juta dolar AS,” katanya.

Proust mengakui, jika saat ini ca­dangan minyak Indonesia kalah besar dari cadangan gas. Na­mun, yang menjadi kendala pa­sokan gas saat ini adalah ma­salah infra­struktur penyaluran dari daerah suplai ke daerah yang membu­tuhkan.

“Suplai gas saat ini berada di Kalimantan dan Sumatera, se­dang­kan permintaan banyak dari Jawa dan Sumatera,” jelasnya.

Menurut Proust, untuk me­ning­­katkan kegiatan produksi diper­lukan investasi-investasi baru. Kare­na itu, pihaknya me­minta kepada pemerintah untuk mem­berikan dukungan insentif dalam industri migas. Apalagi investasi di bidang migas meru­pakan in­vestasi jangka panjang dan penuh risiko.

Presiden Direktur Total E&P Indonesie itu juga meminta pe­merintah berhati-hati melaku­kan amandemen Undang-Un­dang Migas. Namun, jika itu memang akan dilakukan, asosiasi minta dilibatkan dalam pem­bahasan tersebut. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA