Semula harga satu kuintal kacang kedelai impor dengan kualitas terÂbaik berkisar antara Rp 600 ribu hingga Rp 650 ribu. Tetapi daÂlam beberapa minggu terakhir, hargaÂnya nyaris tembus Rp 700 ribu per kuintal. Hal tersebut saÂngat memÂberatkan kalangan pengÂrajin tempe, sehingga mereka harus meÂmutar otak agar usahanya terus berjalan dan tidak merugi.
Salah satu pengrajin tempe, Suharjo, mengeluhkan tingginya harga bahan baku yang selama ini digunakan. Menurutnya, dengan semakin tingginya harga tersebut, maka harus ada pengeluaran ekstra yang harus ditempuh, seÂdangÂkan penjualan tempenya tidak meningkat. Dalam satu hari, dia memproduksi kacang sekitar 60 kilogram (kg).
“Sekarang daÂgang lagi tidak terlalu ramai. Ditambah dengan harga kedelai yang melambung tinggi. SedangÂkan harga jual kami tetap, tidak ikut naik. Ini jelas memberatkan kami sebagai pengrajin tempe, keuntungan semakin tipis,†ucapÂnya saat ditemui Rakyat Merdeka di Pondok Aren, Tangerang Selatan, kemarin.
Dia meminta pemerintah memÂperhatikan keberlangsungan proÂduksi para pengrajin tempe. Selain itu, pemerintah diharapkan mampu mengontrol harga kacang kedelai di pasaran, khususnya kedelai impor yang menjadi baÂhan baku utama.
“Saya harap pemerintah bisa menurunkan harga kedelai. Biar para pengrajin bisa memproduksi seperti semula. Kalau sekarang terpaksa ukuran tempe sedikit mengecil, supaya kami tidak merugi,†tuturnya.
Pendapat senada diungÂkapÂkan pengrajin tempe lainnya, Rudi di Bintaro, Jakarta SelaÂtan. Ia berÂsama sesama pengraÂjin masih teÂrus membuat tempe meski harga beli baÂhan baku terus melamÂbung.
“Ya mau gimana lagi, kalau kita tidak berdagang kita nggak punya penghasilan lain. Ya terÂpaksa kita terus produksi dengan keuntungan yang semakin tipis,†keluhnya saat ditemui Rakyat Merdeka, kemarin.
Menanggapi soal pasokan keÂdalai, Direktur Jenderal PerdagaÂngan Dalam Negeri Kementerian PerÂdagangan (Kemendag) GuÂnaryo menjelaskan, kenaikan harga keÂdelai di sektor industri karena kebijakan negara asal pengimpornya. Selain itu, kuota kedelai di Indonesia kurang menÂcukupi, sehingga terus impor.
“Karena juga ada tambahan bea keluar (BK) sekitar lima persen. Itu juga yang memÂpengaruhi harga kedelai mengapa jadi meÂlambung tinggi,†ujarnya saat diÂkontak Rakyat Merdeka, kemarin.
Gunaryo menduga adanya perÂmainan harga yang dilakukan para importir. Mekanismenya, mereka menjual stok barang yang lama dan menjualnya dengan harga tinggi seperti sekarang ini. “Hal seperti ini dijadikan manfaat bagi para importir nakal untuk mengais keuntungan berlipat. Kami akan meminimalisir keÂjadian serupa agar tidak merugiÂkan pembeli,†janjinya.
Dikatakan Gunaryo, pihaknya sedang mencarikan jalan keluar permasalahan ini dengan bebeÂrapa pihak terkait. Diantaranya dengan Kementerian PerindusÂtrian.
“Kita akan menÂcoba melaÂlui kebijakan fiskal yang diterapÂkan saat ini. Supaya harga kedelai impor tersebut tiÂdak terlalu tinggi. Yang lebih penting kita harapkan saat ini kita jangan sampai kebutuhan para pegrajin kurang,†jelasnya.
Sedangkan skema pembelian tunai, tidak akan mempengaruhi kenaikan harga. Namun, jika diÂangsur otomatis akan berpengaÂruh pada kenaikan harga. DiaÂkuiÂnya, Kemendag tampak angkat taÂngan dalam menstaÂbilÂkan harga kedeÂlai untuk industri kecil apaÂbila skema pembelian diangsur. Selama ini kacang kedelai yang digunakan berasal Amerika Serikat. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: