Rencana itu banyak mendapat kritikan. Salah satunya dari Ketua Umum Himpunan Pengusaha Indonesia (Hipmi) Raja Sapta Oktohari. Dia meminta pemerinÂtah transparan kepada semua stakeholder terkait pembatasan penggunaan BBM.
Menurutnya, keputusan pemeÂrinÂtah membuat bingung kalaÂngan pengusaha dan investor yang ingin menanamkan modal di Tanah Air.
“Ini adalah situasi yang harus dihadapi bersama-sama. Jangan sampai tiba-tiba berubah. Padahal rencana awal kan konversi BBM ke BBG, tapi kita sama-sama tahu bahannya (gas) masih susah dan langka,†ujarnya kepada wartaÂwan di kantornya, kemarin.
Raja menambahkan, pembataÂsan BBM subsidi dan konversi ke gas yang tarik ulur, jelas merugiÂkan kalangan pengusaha. “KetiÂdak pastian itu membuat kami keÂsulitan untuk menentukan langÂkah apa yang harus kami ambil ke depannya,†tandasnya.
Selama ini, dia menilai pemeÂrintah sering mengalami kegagaÂlan komunikasi. Akibatnya, peÂngusaha kesulitan meningkatkan daya saing produk dalam rangka menjelang Asean Economic ComÂmunity pada 2015. Okto meÂnyaÂrankan, pemerintah semestiÂnya mensosialisasikan kebijakan tiga bulan sebelum kebijakan baru diÂterapkan. “Pemerintah harus konÂsisten terhadap semua yang sudah menjadi keputusan. Tak boleh maju mundur,†tegasnya.
Selain itu, kerugian yang diaÂlami memang ada. Contohnya, belakangan ini kalangan industri kelabakan dikarenakan harga bahan bakar gas akan naik sebeÂsar 10 persen. Hal itu jelas memÂbuat panik, karena sosialisasinya masih sangat kuÂrang dan tidak maksimal.
“Kalau kita menilai bahwa infrastruktur gasnya belum siap. Kalau mau konversi, konversinya ke mana? Dan kalau sudah di konversi, mau diisi ke mana? Ini yang mungkin perlu pemerintah melakukan kerja sama dengan para stakeholder. Kami dari Hipmi siap untuk melakukan kerja sama dengan pemerintah,†tegasnya.
Ketua IV bidang Energi Hipmi Reza Ihsan Rajasa menambahÂkan, pemerintah seharusnya memÂbuat sosialisasi kebijakan energi seperti penghematan mauÂpun kenaikan BBM subsidi yang mengena serta tepat sasaran ke masyarakat.
Menurut anak Menko PerekoÂnomian Hatta Rajasa ini, semakin ditundaÂnya kebijakan energi justru meÂnimbulkan ketidakpasÂtian. Adapun dari sisi penguÂsaha, masih belum jelasnya keÂbijakan energi memang belum berpengaÂruh secara signifikan terhadap kegiatan bisnis.
“Meski terjadi inflasi, bagusÂnya harga kebutuhan pokok maÂsih terjaga kestabilannya di tengah ketidakpastian kebijakan energi,†jelasnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: