Anggota Komisi VII DPR Dewi Aryani berjanji akan menÂdukung setiap langkah Pertami-na untuk membabat habis setiap aksi mafia impor minyak.
“Tudingan tersebut haÂrus diÂbuktikan sekaligus dibeÂresÂkan. Karena itu, kita mengÂapÂresiasi langÂkah Pertamina yang berÂjanji tidak akan membeli miÂnyak lewat trader (pedagang),†cetus politisi PDIP ini di Jakarta, kemarin.
Diakui Dewi, masalah impor minÂyak sangat rawan dipolitisasi karena nilainya yang sangat beÂsar. SeÂbaÂgai gambaran, setiap hari InÂdoÂneÂsia membutuhkan konÂsumsi BBM 1,3 juta barel per hari. SeÂmenÂtara produksi miÂnyak yang dilakukan oleh konÂtraktor hanya 900.000 barel, seÂhingga sisanya harus diimpor.
Dari 900.000 barel, ada sekitar 300.000-400.000 barel seÂbaÂgÂai biaÂya yang dikeluarkan (cost reÂcovery) dari eksplorasi. SeÂdangÂkan sisanya, baru dimasukkan ke kilang-kilang minyak Indonesia.
Dia mengakui, selama ini meÂkaÂnisme impor minyak yang dilaÂkukan Pertamina kerap berÂmaÂsalah. Ditambah lagi, keÂmamÂpuÂan kilang di dalam negeri sangat minim.
“Seperti misalnya peristiwa laÂlu Pertamina sempat ‘diÂrampok’ di Somalia, namun tidak ada asuÂransinya. Akibatnya nilai keruÂgian mencapai Rp 1,2 triÂliun. Ini semua harus dibeÂnahi,†cetusnya.
Dewi menyarankan, PertaÂmiÂna harus membenahi kembali meÂkanisme impor minyak terÂseÂbut. Banyak cara yang bisa diÂlakukan untuk menhindari mafia minyak.
“Impor harus meÂmenuhi komÂpoÂÂnen CRFI, yaitu cost, freight, receive dan insuÂrance,†sarannya.
Sebelumnya, Pertamina berÂjanÂji akan mengimpor minyak mentah dan BBM secara langÂsung ke produsen mulai kuartal ketiga 2012. Dirut Pertamina KaÂÂren Agustiawan mengatakan, meÂkanisme impor secara langÂsung tersebut akan dilakukan dengan prinsip kehati-hatian.
“Kami mesti memastikan langÂkah terÂsebut tidak menimbulkan risiko, seÂperti kegagalan pasokÂan impor yang akan berakibat paÂda terjaÂdinya krisis energi di dalam neÂgeri,†kata Karen.
Menurut Karen, pihaknya meÂnyamÂbut baik dukungan pemeÂrintah mengimpor secara langÂsung tersebut. Dalam kontrak pemÂbelian langsung, meÂmang memerlukan pemÂbiÂcaraan antar pemerintah (goÂvernÂment to goÂvernment/G to G) terÂlebih dahulu.
Karen mengatakan, PertaÂmina akan mengupayakan peÂnyeÂrapan minyak mentah domestik seÂcara maksimal untuk memeÂnuhi keÂbuÂtuhan kilang BBM.
“Melalui upaya-upaya terseÂbut, kami ingin meningkatkan ketahanan pasokan energi naÂsioÂnal dan mendukung optiÂmaÂlisasi kinerja Petral (anak perusahaan Pertamina yang bergerak dalam perÂdagangan minyak dan proÂduk),†terang Karen.
Menurut dia, sistem pengadaÂan minyak mentah dan BBM yang dilakukan Petral selama ini telah berjalan baik dan dengan prinsip-prinsip tata kelola peÂrÂuÂsaÂhaan yang baik (good corÂpoÂraÂte goverÂnance/GCG).
Namun, Pertamina akan terus meÂlakukan perbaikan secara berÂÂkesinamÂbungan pada proses peÂmeÂnuhan kebutuhan BBM nasional. “Kami berupaya melaÂkuÂkan impor langsung dari NOC (natioÂnal oil company), produsen miÂnyak dan pemilik kilang,†terang Karen.
Pertamina, lanjutnya, juga akan mengurangi secara bertahap keÂtergantungan terhadap impor BBM dan minyak mentah melaÂlui pembangunan dua kilang terÂinÂtegrasi di Balongan, Jawa BaÂrat dan Tuban, Jawa Timur.
Pengamat energi dari ReforÂMiner Institute KoÂmaidi NotoneÂgoro mengatakan, PerÂtamina perÂlu mengkomÂbiÂnasikan mekanisÂme pengadaan imÂpor antara pemÂbeliÂan secara langÂsung dan melalui pedaÂgang (trader).
“Masing-masing punya kele bahÂwa pemÂbeÂlian melalui trader itu jelek dan rawan mafia minyak,†ujarnya.
Dalam pembelian meÂlalui meÂkanisme antarpemerintah pun (G to G), lanjut Komaidi, juga tetap berpeluang ada mafia jika meÂmang ada niat. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: