RMOL. Wakil Presiden (Wapres) BoeÂdiono menginginkan pertumÂbuhan ekonomi Indonesia miÂnimal 7-8 persen agar dapat meÂnyerap tenaga kerja. “Angka 6,5 persen itu belum cukup, angka 7-8 persen yang kita inginkan,†kata Boediono di Jakarta, kemarin.
Menurut Wapres, pertumÂbuhan ekonomi 7-8 persen mungkin haÂnya cukup untuk mengurangi maÂsalah angkatan kerja yang muda dan tua.
Boediono mengatakan, hal mendasar yang perlu diperÂhatiÂkan untuk menciptakan lapangan kerja adalah memperhatikan perÂtumbuhan ekonomi. “Suka atau tidak suka, kenyataannya untuk menciptakan lapangan kerja adaÂlah dengan pertumbuhan ekoÂnomi,†jelasnya.
Pertumbuhan ekonomi memerÂlukan ekspansi dunia usaha. SeÂlanjutnya, dunia usaha baru akan membuka lapangan kerja.
Oleh sebab itu, menurut BoeÂdiono, pertumbuhan ekonomi adaÂÂlah prasyarat untuk membuka laÂpangan kerja, baik untuk angÂkatan kerja muda atau lainnya. Karena itu, kunci pertumbuhan ekonomi adalah investasi.
Dalam siaran persnya, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) meÂnyebutkan, dari jumlah penduduk Indonesia 237,6 juta orang pada 2010, sebanyak 40 juta orang (16,8 persen) berusia 15-24 tahun (kaum muda).
Walau selama lima tahun terÂakhir jumlah pengangguran seÂmakin menurun menjadi 6,8 persen pada 2011, tetapi secara absolut jumlahnya relatif masih tinggi sekitar 7 juta orang dan leÂbih setengah pengangguran adaÂlah kaum muda.
Ketua Umum Kadin Suryo Bambang Sulisto mengatakan, tiga bulan terakhir Kadin berÂsama asosiasi/organisasi peÂngemÂÂbaÂngan masyarakat lainnya telah melakukan identifikasi kebutuÂhan tenaga kerja untuk lima tahun mendatang.
Berdasarkan informasi yang diberikan oleh 13 asosiasi inÂdustri/lembaga pengembangan masyarakat, telah teridentifikasi kebutuhan tenaga kerja muda untuk tiga tahun mendatang (2012-2014) dibutuhkan 1,9 juta tenaga kerja baru.
Sebelumnya, Badan Pusat StaÂtistik (BPS) mencatat pertumÂbuhan ekonomi pada kuartal I-2012 sebesar 6,3 persen dibanÂding periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan itu pun masih dikuasai Pulau Jawa.
Kepala BPS Suryamin mengaÂtakan, sektor pengolahan menjadi pemicu utama tingginya pertumÂbuhan ekonomi. Selain itu, ada sekÂtor perdagangan dan sektor jasa seÂperti hotel dan restoran. “Sektor-sekÂtor ini yang meÂnyumbang ProÂduk Domestik Bruto (PDB) paling tinggi,†kata Suryamin. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.