Menurut Dirjen PerdaÂgaÂngan Luar Negeri Kementerian PerdaÂgangan Dedi Saleh, porsi impor daging sapi IndoneÂsia yang berasal dari AS tidak terlalu beÂsar, yaitu kurang dari 10 persen.
“Impor daging sapi Indonesia sebagian besar berasal dari luar AS. Ada daging sapi impor asal Australia, New Zealand dan Kanada. Dari negara-negara lain, (daging sapi) itu tidak ada kenÂdala dan masih berjalan hingga saat ini,†ujarnya di Jakarta, JuÂmat (27/4).
Dedi menjelaskan, impor daÂging dari AS sudah dihentikan dari Kementerian Pertanian (KeÂmentan) sejak 24 April. Karena keputusan pemberhentian impor itu wewenang Kementan, maka pihaknya tidak bisa memastikan sampai kapan kebijakan pemberÂhentian ekspor itu akan diberlaÂkuÂkan.
“Tergantung assasment (peÂnilaian) di Amerika. Kalau di sananya (kasusnya) sudah selesai dan yakin aman, impornya akan dibuka lagi,†jelasnya.
Di tempat terpisah, Asosiasi Pengusaha Importir Daging IndoÂnesia (Aspidi) tidak memperÂmaÂsalahkan keputusan pemerintah tersebut. Direktur Eksekutif Aspidi Thomas Sembiring meÂngaÂtakan, dari jatah impor daging sapi sebanyak 20.400 ton pada kuartal satu tahun ini, hanya sekitar 5,8 persen atau sebanyak 1.185 ton yang diimpor dari AS.
“Jumlah itu tidak signifikan dibandingkan dari Australia dan Selandia Baru. Dari data Aspidi, impor daging sapi dari AS hanya dinikmati oleh semÂbilan peÂruÂsahaan importir,†ujarÂnya.
Menurut Thomas, keputusan penghentian impor daging sapi dari AS tersebut merupakan hak peÂmerintah. Berbeda dengan virus flu burung atau penyakit kuku dan mulut, penyakit sapi gila itu sebenarnya bersifat kaÂsuistik. Wilayah AS yang terÂjangÂkit penyakit sapi gila terseÂbut ada di California. Padahal sentra penggemukan sapi terÂbesar di AS adalah di wilayah mid west. “Meski demikian, kami hormati keputusan pemeÂrintah,†jelasnya.
Hal senada disampaikan Ketua Asosiasi Distributor DaÂging Indonesia (ADDI) Suharjito. Ia mengatakan, selama ini anggoÂtanya tidak ada yang melakukan impor daging sapi dari Amerika. “Mayoritas dari Australia dan SeÂlandia Baru,†ujarnya.
Menurut Suharjito, berbeda dengan daging sapi asal AusÂtralia dan Selandia Baru, daging sapi asal AS merupakan jenis daging sapi premium. Impor daÂging sapi asal AS mayoritas berjenis tenderloin dan sirloin. “Pasar daging asal AS juga terÂbatas, rata-rata konsuÂmennya itu kalaÂngan hotel dan restoran,†ungkapnya.
Bagi Aspidi dan ADDI, yang menjadi permasalahan saat ini adalah berkurangnya stok impor daging yang diberikan pemerinÂtah. Sekadar informasi, kuota impor daging sapi tahun ini hanya sebanyak 34 ribu ton, turun 66 persen dibandingkan 2011 yang mencapai 100 ribu ton. Untuk itu, mereka meminta kran impor daging dibuka lagi.
Anggota Komisi IV DPR HerÂmanto mendukung kebijakan pemerintah tersebut. MenurutÂnya, pemerintah perlu melakukan seleksi ketat dalam proses impor daging sapi.
“Jika daging bertulang dan isi perut sapi tersebut ternyata terÂkontaminasi penyakit, maka harus dikembalikan ke negara asal. Kalau perlu menghentikan kontrak pengiriman daging sapi dari negara yang bersangkutan,†jelas Hermanto kepada Rakyat Merdeka, Jumat (27/3).
Hermanto berharap dengan adaÂnya kasus tersebut, pemerinÂtah bisa mendorong produksi daÂging sapi di dalam negeri. “KeÂbutuhan daging sapi daÂlam neÂgeri tidak bisa selalu berganÂtung pada impor. Harus ada keÂmauan dan usaha untuk bisa swaÂsembada daging sapi,†tandasnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: