Amankan Stok, Pengusaha Desak Kran Impor Dibuka

Hanya Sembilan Importir Yang Nikmati Daging Sapi Amerika

Senin, 30 April 2012, 08:20 WIB
Amankan Stok, Pengusaha Desak Kran Impor Dibuka
ilustrasi, daging sapi
RMOL.Langkah pemeritah menghentikan se­men­tara impor daging sapi dari Amerika Serikat (AS) akibat kasus sapi gila ditanggapi dingin oleh pengusaha. Mereka malah minta kran impor dibuka lagi.

Menurut Dirjen Perda­ga­ngan Luar Negeri Kementerian Perda­gangan Dedi Saleh, porsi impor daging sapi Indone­sia yang berasal dari AS tidak terlalu be­sar, yaitu kurang dari 10 persen.

“Impor daging sapi Indonesia sebagian besar berasal dari luar AS. Ada daging sapi impor asal Australia, New Zealand dan Kanada. Dari negara-negara lain, (daging sapi) itu tidak ada ken­dala dan masih berjalan hingga saat ini,” ujarnya di Jakarta, Ju­mat (27/4).

Dedi  menjelaskan, impor da­ging dari AS sudah dihentikan dari Kementerian Pertanian (Ke­mentan) sejak 24 April. Karena keputusan pemberhentian impor itu wewenang Kementan, maka pihaknya tidak bisa memastikan sampai kapan kebijakan pember­hentian ekspor itu akan diberla­ku­kan.

“Tergantung assasment (pe­nilaian) di Amerika. Kalau di sananya (kasusnya) sudah selesai dan yakin aman, impornya akan dibuka lagi,” jelasnya.

Di tempat terpisah, Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indo­nesia (Aspidi) tidak memper­ma­salahkan keputusan pemerintah tersebut. Direktur Eksekutif Aspidi Thomas Sembiring me­nga­takan, dari jatah impor daging sapi sebanyak 20.400 ton pada kuartal satu tahun ini, hanya sekitar 5,8 persen atau sebanyak 1.185 ton yang diimpor dari AS.

“Jumlah itu tidak signifikan dibandingkan dari Australia dan Selandia Baru. Dari data Aspidi, impor daging sapi dari AS  hanya dinikmati oleh sem­bilan pe­ru­sahaan importir,” ujar­nya.

Menurut Thomas, keputusan penghentian impor daging sapi dari AS tersebut merupakan hak pe­merintah. Berbeda dengan virus flu burung atau penyakit kuku dan mulut, penyakit sapi gila itu sebenarnya bersifat ka­suistik. Wilayah AS yang ter­jang­kit penyakit sapi gila terse­but ada di California. Padahal sentra penggemukan sapi ter­besar di AS adalah di wilayah mid west. “Meski demikian, kami hormati keputusan peme­rintah,” jelasnya.

Hal senada  disampaikan Ketua Asosiasi Distributor Da­ging Indonesia (ADDI) Suharjito. Ia mengatakan, selama ini anggo­tanya tidak ada yang melakukan impor daging sapi dari Amerika. “Mayoritas dari Australia dan Se­landia Baru,” ujarnya.

Menurut Suharjito, berbeda dengan daging sapi asal Aus­tralia dan Selandia Baru, daging sapi asal AS merupakan jenis daging sapi premium. Impor da­ging sapi asal AS mayoritas berjenis tenderloin dan sirloin. “Pasar daging asal AS juga ter­batas, rata-rata konsu­mennya itu kala­ngan hotel dan restoran,” ungkapnya.

Bagi Aspidi dan ADDI, yang menjadi permasalahan saat ini adalah berkurangnya stok impor daging yang diberikan pemerin­tah. Sekadar informasi, kuota impor daging sapi tahun ini hanya sebanyak 34 ribu ton, turun 66 persen dibandingkan 2011 yang mencapai 100 ribu ton. Untuk itu, mereka meminta kran impor daging dibuka lagi.

Anggota Komisi IV DPR Her­manto mendukung kebijakan pemerintah tersebut.  Menurut­nya, pemerintah perlu melakukan seleksi ketat dalam proses impor daging sapi.

“Jika daging bertulang dan isi perut sapi tersebut ternyata ter­kontaminasi penyakit, maka harus dikembalikan ke negara asal. Kalau perlu menghentikan kontrak pengiriman daging sapi dari negara yang bersangkutan,” jelas Hermanto kepada Rakyat Merdeka, Jumat (27/3).

Hermanto berharap dengan ada­nya kasus tersebut, pemerin­tah bisa mendorong produksi da­ging sapi di dalam negeri.  “Ke­butuhan daging sapi da­lam ne­geri tidak bisa selalu bergan­tung pada impor. Harus ada ke­mauan dan usaha untuk bisa swa­sembada daging sapi,” tandasnya. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA