Coorporate Secretary Bank BuÂkopin Tantri Wulandari meÂnilai, dampak inflasi bisa kapan saja menghampiri lembaga perbankan. Karena itu, BuÂkopin tengah meÂnyiapkan jurus untuk menangÂkal dampak kenaikan inflasi.
“Inilah yang sedang kita bahas. Bagaimana caranya inflasi hanya berdampak kecil terhadap kami (Bank Bukopin),†katanya keÂpada Rakyat Merdeka, kemarin.
Tantri menjelaskan, dampak inflasi sebenarnya akan berÂpeÂngaruh terhadap pemberian kredit untuk usaha. Untuk itu, pemÂberian kredit akan dibatasi jika laju inflasi sangat deras.
“Karena pasti suku bunga kreÂdit ikut naik. Dan para naÂsaÂbah pun pasti akan kesulitan memÂbayarnya. Karena itu biaÂsaÂnya kami batasi jumlah pemÂbeÂrian kredit itu,†terangnya.
Menurut Tantri, sekarang ini pihak manajemen risiko Bukopin suÂdah siap menghadang dampak laju inflasi yang diperkirakan menÂcapai 6,7 persen di akhir tahun nanti.
“Paling dampak inflasi yang besar kami rasakan hanya satu hingga dua bulan. Setelah itu kaÂmi bisa menyesuaikan diri lagi. Jadi, kami pun tidak perlu meÂnangÂgapinya terlalu serius,†tuturnya.
Lebih lanjut ia mengatakan, belum mengetahui apakah BuÂkopin akan menaikkan suku bunga kredit dalam waktu dekat. “Keputusan menaikkan suku bunga kredit harus melalui proses terlebih dahulu. Tapi saya belum dengar Bukopin akan menaikkan suku bunga kredit,†akunya.
Direktur Kepatuhan BNI SyaÂriah Imam Teguh Saptono juga mengakui kenaikan inflasi dapat berdampak pada semua sektor lembaga perbankan, baik konÂvensional maupun syariah.
Namun, efek inflasi terhadap lembaga perbankan hendaknya tidak dijadikan sebagai momen yang menakutkan. “Bank harus selalu siap dalam menghadapi inflasi seperti ini†katanya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Imam menambahkan, pihakÂnya sudah mewanti-wanti bakal terjadi inflasi manakala harga BBM jadi dinaikkan. MenuÂrutnya, pihaknya kini terus melaÂkukan penghematan biaya opeÂraÂsional guna mendapat dampak inflasi yang berlebihan. “Kita lakukan penghematan biaya untuk mencegah efek inflasi yang berlebihan,†ujarnya.
Selain menghemat anggaran operasional, Imam menjelaskan, pihaknya tengah menyusun langÂkah preventif seperti meredam sektor-sektor sensitif yang rawan akibat terjadinya inflasi.
“Misalnya, dalam sektor pemÂberian kredit. Tentunya kami juga akan menyesuaikannya dengan inflasi yang terjadi,†tandasnya.
Hal senada dikatakan Direktur Kredit PT Bank Mega Daniel Budirahaju. Ia mengaku tidak terlalu menanggapi serius keÂnaikan inflasi akibat rencana keÂnaikan harga BBM. “Itu mah biÂasa. Kami sering menghadapi inÂflasi seperti ini,†katanya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Lebih jauh Daniel belum meÂngeÂtahui langkah apa yang diÂpersiapkan oleh Bank Mega untuk menangkal derasnya laju inflasi tatkala harga BBM benar-benar naik. “Belum ada pemÂbicaraan ke arah sana (kenaikan buÂnga kredit). Tapi, memang kaÂmi sedang mendiskusikan untuk mencari jalan keluar terbaik menghadapi inflasi ini,†tuturnya.
Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution mengatakan, batalnya kenaikan harga BBM bersubsidi pada 1 April lalu membuat inflasi tahun ini tetap terjaga di kisaran 4,5 plus minus satu persen. “Kalau ada kenaikan BBM, (inflasi) memang lebih tinggi,†kata dia.
Darmin menambahkan, jika inflasi naik karena harga BBM bersubsidi naik, inflasi juga masih dapat dikendalikan. Meski begitu, Darmin enggan meÂngaÂtakan lebih jauh terkait kebijakan yang akan diambil. “Tergantung apa responsnya baik oleh peÂmeÂrintah maupun oleh BI. Saya belum mau bilang apa yang kita lakukan,†tukas dia. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: