Ilustrasi Fenomena Blue Fire di Gunung Papandayan (Sumber: Gemini Generated Image)
Fenomena blue fire atau api biru muncul di kawasan Kawah Manuk, Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada 23-24 September 2026. Kemunculan nyala api berwarna biru tersebut menarik perhatian masyarakat karena fenomena serupa selama ini lebih dikenal dari kawasan Kawah Ijen, Jawa Timur.
Fenomena blue fire di Gunung Papandayan terlihat pada malam hingga dini hari dan kemudian menjadi perhatian karena muncul di kawasan kawah aktif. Meski memiliki daya tarik secara visual, masyarakat diingatkan untuk tidak mendekati lokasi hanya demi melihat atau mengabadikan fenomena tersebut.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa blue fire bukan merupakan lava yang berwarna biru. Fenomena tersebut berkaitan dengan gas atau material kaya sulfur yang keluar melalui rekahan dan fumarola bersuhu tinggi kemudian mengalami pembakaran ketika berinteraksi dengan oksigen.
"Di balik keindahannya, blue fire perlu dipahami sebagai pesan keselamatan karena kemunculannya menunjukkan kita berada di lingkungan vulkanik aktif dengan gas panas yang dapat berbahaya," tulis Daryono dalam unggahan Instagram pribadinya, Senin (28/9/2026).
Apa Itu Fenomena Blue Fire di Gunung Papandayan?
Blue fire adalah fenomena berupa nyala api berwarna biru yang muncul akibat pembakaran gas atau material kaya sulfur di lingkungan vulkanik. Di Gunung Papandayan, fenomena tersebut muncul di area manifestasi panas baru di kompleks Kawah Manuk.
Kemunculan blue fire di Kawah Manuk menunjukkan adanya pelepasan panas yang cukup tinggi hingga mampu menyebabkan pembakaran material permukaan. Pemeriksaan juga menemukan adanya material menyerupai abu sisa pembakaran di sekitar lokasi.
Nyala api biru relatif lebih mudah terlihat pada malam hari karena cahaya yang dihasilkan cukup lemah. Fenomena tersebut tidak berarti terdapat lava berwarna biru di dalam kawah.
Kenapa Blue Fire Bisa Muncul di Gunung Papandayan?
Menurut Daryono, blue fire terjadi ketika gas atau material yang kaya sulfur keluar dari rekahan maupun fumarola dengan temperatur tinggi. Ketika material tersebut berinteraksi dengan oksigen di udara, terjadi proses pembakaran yang menghasilkan cahaya berwarna biru.
Fenomena tersebut berkaitan dengan proses pelepasan gas panas atau degassing serta aktivitas fumarola dan sistem hidrotermal di kawasan gunung api. Badan Geologi juga mencatat bahwa fenomena serupa sebelumnya pernah teramati di Gunung Papandayan pada 22 Februari 2023 dan 12 Juli 2025.
Namun, kedua kejadian tersebut teramati di dinding Kawah Baru, sedangkan fenomena pada September 2026 muncul di area Kawah Manuk.
Apakah Blue Fire Papandayan Tanda Gunung Akan Meletus?
Kemunculan blue fire tidak otomatis menunjukkan Gunung Papandayan akan segera mengalami erupsi. Daryono menjelaskan, peningkatan aktivitas gunung api tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan munculnya fenomena tersebut.
Penilaian aktivitas gunung api perlu melihat sejumlah parameter kegunungapian, seperti perkembangan kegempaan, deformasi, perubahan temperatur, serta komposisi dan fluks gas. Badan Geologi juga menyatakan bahwa Gunung Papandayan masih berada pada Level I atau Normal.
Berdasarkan pemantauan hingga 26 September 2026, sinar api yang sebelumnya terlihat di area Kawah Manuk sudah tidak teramati. Meski demikian, pemantauan tetap dilakukan karena gas vulkanik masih terlepas di sekitar lokasi.
Bahaya Blue Fire Gunung Papandayan
Di balik fenomena blue fire Gunung Papandayan, terdapat potensi bahaya berupa paparan gas vulkanik. Badan Geologi mencatat bau sulfur yang menyengat masih tercium pada arah angin dari lokasi manifestasi panas.
Kondisi tersebut menunjukkan gas di sekitar lokasi masih berpotensi berdampak terhadap kesehatan apabila terpapar secara langsung. Gas vulkanik seperti sulfur dioksida (SO2) dan hidrogen sulfida (H2S) dapat membahayakan manusia.
Sementara itu, karbon dioksida (CO2) dalam konsentrasi tinggi dapat mengurangi ketersediaan oksigen di udara. Arah angin juga perlu diperhatikan karena dapat berubah dengan cepat dan membawa gas menuju area yang sebelumnya dianggap aman.
Daryono mengingatkan masyarakat dan pendaki agar tidak menjadikan fenomena blue fire sebagai alasan untuk mendekati kawah demi mendapatkan foto atau video. Masyarakat juga diminta tidak mendekati lubang fumarola maupun rekahan yang mengeluarkan gas.
Masker biasa tidak dapat dianggap sebagai perlindungan yang memadai apabila seseorang berada di lingkungan dengan konsentrasi gas vulkanik yang tinggi. Badan Geologi merekomendasikan masyarakat, wisatawan, pendaki, dan pengunjung tidak beraktivitas atau menginap di kawasan bukaan kawah aktif Gunung Papandayan dalam radius 500 meter.
Masyarakat juga diminta mewaspadai peningkatan konsentrasi gas beracun secara tiba-tiba serta potensi letusan yang dapat terjadi tanpa didahului gejala vulkanik yang jelas.