Berita

Ketua Umum Solidaritas Merah Putih (Solmet) Silfester Matutina. (Foto: Istimewa)

Publika

Kesaktian Silfester Mulai Berkurang

Baru Jadi Komisaris Sudah Dicopot
SENIN, 28 SEPTEMBER 2026 | 17:05 WIB

SILFESTER MATUTINA bisa dikatakan satu-satunya aib kejaksaan. Dia termasuk orang sakti di negeri ini, Di depan hidung jaksa pun tak bisa ditangkap. 

Kali ini kesaktiannya mulai berkurang. Baru saja diangkat menjadi komisaris, langsung dicopot. 

Pada 18 September 2026 dia dilantik sebagai Komisaris Independen PT Pelindo Jasa Maritim. Pada 23 September 2026 sudah dicopot. Lebih cepat dari waktu yang dibutuhkan untuk menghafal nama pejabat baru. 


Tubagus Patrick, SVP Sekretaris Perusahaan Pelindo JM, dengan tenang mengumumkan, pemegang saham telah melakukan evaluasi dan mempertimbangkan berbagai hal. Berbagai hal. Dua kata terdengar seperti mantra tandingan lebih sakti dari kesaktiannya sendiri.

Dia masuk lewat keputusan sirkuler di luar RUPS, menggantikan Eris Herryanto. Kursi masih hangat, foto formal belum sempat dipasang, sudah harus turun. 

Pelindo JM menekankan, pengangkatan dan pemberhentian adalah kewenangan pemegang saham sesuai mekanisme korporasi. Mekanisme ternyata sangat kejam, bisa mengangkat orang dengan rekam jejak pidana lalu mencabutnya sebelum sempat duduk nyaman. 

Silfester bukan orang biasa. Pengacara, pengusaha, Ketua Umum Solidaritas Merah Putih, Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Prabowo-Gibran di Pilpres 2024, dan pernah juga Komisaris Independen PT Rajawali Nusantara Indonesia alias ID Food tahun 2025. 

Latar belakang hukumnya lengkap, S1 dan S2. Semua itu biasanya cukup untuk membuat kesaktiannya bertahan lebih lama. Tapi kali ini tidak.

Putusan Mahkamah Agung Nomor 287 K/Pid/2019 yang menjatuhkan hukuman 1 tahun 6 bulan karena fitnah terhadap Jusuf Kalla seolah kembali muncul sebagai kutukan. 

Dulu kesaktiannya mampu membuat orang pura-pura lupa. Buronan di depan mata dibiarkan. Bahkan sudah jadi komisaris pun kejaksaan masih pura-pura tak tahu. 

Sekarang kesaktian itu mulai retak. Lima hari saja sudah cukup untuk membuat pemegang saham sadar dan menekan tombol cabut. Tidak ada penjelasan rinci. 

Tidak ada daftar dosa baru. Hanya “evaluasi berbagai hal.” Seolah ada kekuatan yang lebih tinggi yang tiba-tiba memutuskan mantranya sudah kedaluwarsa.

Nuan bayangkan bagaimana rasanya. Orang sebelumnya bisa menembus tembok BUMN dengan mudah, sekarang digeser sebelum sempat mengucapkan “siap melayani.” Ini bukan sekadar pencopotan. 

Ini pengumuman publik, kesaktiannya mulai berkurang. Dulu dia bisa jadi komisaris di RNI meski ada vonis. Sekarang di Pelindo JM, lima hari saja sudah cukup untuk membuat semuanya runtuh. 

Ironinya kejam. Yang dulu dilindungi oleh lupa kolektif, sekarang dihukum oleh ingatan yang tiba-tiba jernih. Kejaksaan yang selama ini seolah buta, tiba-tiba punya sekutu baru bernama “evaluasi pemegang saham.”

Kesaktian yang dulu membuatnya kebal sekarang hanya tersisa lima hari. Lebih singkat dari masa berlaku promo diskon. Lebih cepat dari janji yang dilupakan. 

Kita semua hanya bisa tertawa karena kalau tidak tertawa, kita harus mengakui betapa kejamnya sistem bisa membuat seseorang sakti di satu waktu lalu tiba-tiba biasa saja di waktu berikutnya. 

Silfester datang dengan aura tak terkalahkan. Lima hari kemudian aura itu pudar. Kursi komisaris baru saja diduduki sudah kosong lagi. 

Satu-satunya aib kejaksaan itu, yang dulu dibiarkan di depan mata, kini dicopot sebelum sempat benar-benar menikmati jabatannya. Kesaktiannya mulai berkurang. Baru jadi komisaris, sudah dicopot. Seolah alam semesta sendiri memutuskan mantranya sudah habis.

“Bang, jaksa sering memamerkan uang triliuan rupiah ke publik. Tapi, ketika berhadapan dengan Silfester, macam impoten.”

“Itu yang saya bilang tadi, satu-satunya aib kejaksaan itu, ya Silfester itu. Kalau tak ditangkap, selamanya korp cokelat tua itu menyimpan aib paling memalukan, wak.” Ups

Rosadi Jamani
Mantan wartawan

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Masuk Tahap Pembuktian, Denny Indrayana Minta MK Panggil Gibran

Senin, 28 September 2026 | 18:16

Bukan Sekadar Parlemen, MPR Penjaga Konstitusi dan Kebangsaan

Senin, 28 September 2026 | 18:09

Dari 49 Tahun, Antrean Faktual Haji Kini Jadi 14 Tahun

Senin, 28 September 2026 | 17:44

Prabowo Perintahkan Audit Forensik Tata Kelola Keuangan Haji

Senin, 28 September 2026 | 17:38

Warga Ngadu ke DPR Gegara Kasus Dugaan Mafia Tanah Disetop

Senin, 28 September 2026 | 17:33

Mengenal Megathrust, 14 Segmen Sumber Gempa di Indonesia dan Potensi Magnitudonya

Senin, 28 September 2026 | 17:25

Dirjenpas Janji Bongkar 13 Bangunan Lapas Cibinong

Senin, 28 September 2026 | 17:16

Apa Itu Fenomena Blue Fire di Gunung Papandayan? Ini Penjelasan Ahli

Senin, 28 September 2026 | 17:08

Kesaktian Silfester Mulai Berkurang

Senin, 28 September 2026 | 17:05

Harga BBM Pertamina 28 September 2026, Pertalite hingga Pertamax Masih Segini

Senin, 28 September 2026 | 16:59

Selengkapnya