Kemasan susu Frisian Flag (Foto: RMOL/Reni Erina)
Peta bisnis industri susu nasional bersiap berubah. PT Ultra Jaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) menyiapkan aksi korporasi jumbo senilai sekitar Rp16,9 triliun untuk mengambil alih seluruh saham PT Frisian Flag Indonesia (FFI).
Akuisisi 100 persen saham FFI sendiri bernilai sekitar Rp14,57 triliun. Transaksi tersebut akan dilakukan melalui mekanisme penyetoran saham atau inbreng, bukan pembayaran tunai secara langsung.
Untuk menjalankan aksi tersebut, ULTJ akan menerbitkan maksimal 7,878 miliar saham baru melalui Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) IV atau rights issue. Harga pelaksanaannya ditetapkan Rp2.150 per saham.
Sekitar 86,01 persen dana hasil rights issue setelah memperhitungkan biaya aksi korporasi akan dialokasikan untuk mengambil alih seluruh saham FFI. Sisanya akan digunakan sebagai modal kerja ULTJ.
Skema transaksi membuat saham baru ULTJ tidak seluruhnya diambil menggunakan dana tunai. Hak untuk memperoleh saham baru tersebut akan dialihkan oleh pengendali dan pemegang saham utama ULTJ kepada para pemegang saham FFI, yakni FrieslandCampina International Holding B.V. (FCIH), Blue Waves Group Ventures Pte. Ltd., dan PT Bahtera Wiraniaga Internusa.
Sebagai gantinya, ketiga pemegang saham FFI akan menyetorkan saham FFI kepada ULTJ melalui mekanisme inbreng. Dengan skema tersebut, seluruh saham FFI akan berpindah menjadi milik ULTJ.
Transaksi ini tergolong material karena nilainya setara sekitar 178,24 persen dari ekuitas ULTJ per 31 Juli 2026 yang mencapai Rp8,17 triliun.
Rencana tersebut masih membutuhkan persetujuan pemegang saham. ULTJ dijadwalkan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 27 Oktober 2026 untuk meminta persetujuan atas rights issue dan pengambilalihan FFI.
Jika transaksi terealisasi, FFI akan menjadi anak usaha ULTJ. Pada saat yang sama, struktur pemegang saham ULTJ juga akan berubah secara signifikan karena FrieslandCampina masuk sebagai pemegang saham pengendali baru.
Bagi pemegang saham publik ULTJ, aksi korporasi ini juga membawa konsekuensi dilusi apabila tidak mengambil bagian dalam rights issue. Berdasarkan keterbukaan informasi perseroan, potensi dilusi dapat mencapai sekitar 43,11 persen.