Berita

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (Foto: RMOL/Alifia Dwi)

Bisnis

Purbaya soal Utang Whoosh Dicicil 80 Tahun: Kita Udah Mati, Santai Aja!

SELASA, 08 SEPTEMBER 2026 | 17:23 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan utang Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) atau Whoosh telah direstrukturisasi dengan tenor pembayaran hingga 80 tahun.

Purbaya menyebut panjangnya tenor pembayaran tersebut membuat beban utang KCIC tidak semengerikan yang sebelumnya dibayangkan.

Hal itu disampaikan Purbaya seiring dengan rencana pengelolaan KCIC yang nantinya berada di bawah kendali Kementerian Keuangan melalui unit Special Mission Vehicle (SMV).


Menanggapi masa pembayaran utang yang mencapai puluhan tahun, Purbaya berkelakar bahwa dirinya sudah lebih dulu meninggal sebelum utang tersebut lunas.

“80 tahun (dicicil) saya dengar kemarin, makanya hebat juga tuh. Iya kita udah mati santai aja. Oh gua yang udah mati gua. Jadi tidak semengerikan yang dibayangkan sebelumnya, karena utangnya sudah direstrukturisasi,” kata Purbaya di Jakarta, Selasa, 8 September 2026.

Purbaya menjelaskan, total utang proyek KCIC diperkirakan mencapai 7,2 miliar Dolar AS atau sekitar Rp116 triliun yang dicicil hingga 80 tahun.

Dengan skema itu, cicilan utang diperkirakan berada di kisaran Rp1 triliun per tahun, meski nilainya dapat berbeda setiap tahunnya.

“Total utang besar, tapi di-stretch 80 tahun sudah di restrukturisasi. Cicilannya Rp1 triliun atau sedikit di bawah dari tahun ke tahun. Ada yang tinggi ada yang rendah, tapi kalau kita lihat oh masih bisa lah,” ujar Purbaya.

Pengelolaan kewajiban KCIC tersebut nantinya berada di bawah Kementerian Keuangan setelah proses serah-terima kepemilikan dan utang dari Danantara dilakukan. Purbaya memastikan proses serah-terima tersebut ditargetkan berlangsung pada 15 September 2026.

“Tanggal 15 (September) insya Allah, mudah-mudahan kita bisa serahterimakan dari Danantara ke kami (Kementerian Keuangan),” jelasnya.

Purbaya sebelumnya menyebut pengelolaan KCIC kemungkinan melibatkan dua SMV. Namun, setelah melihat besaran cicilan utang, ia menilai pengelolaan kereta cepat cukup ditangani satu SMV bersama Indonesia Investment Authority (INA).

“Ada kemungkinan, mungkin kita pake SMV dan INA. Ternyata cicilannya enggak gede-gede amat, harusnya sih satu SMV cukup,” tandasnya.


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Jokowi Dalangi Operasi Politik Pertahankan Wapres Gibran

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:14

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Pejabat BNPB juga Korupsi Pengadaan HT Penanganan Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:37

Status MSCI Bukan Tanda Kiamat

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:21

Penguatan Ekosistem Dagang RI Didorong Tembus 5 Besar Ekonomi Dunia

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:06

Mengenal Ahmad Luthfi Auditor BPK yang Minta Jatah Rp600 Juta

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:37

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia, Polri Sampaikan Duka Cita

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:17

MSCI Pertanyakan Pasar RI, BEI Harus Buktikan Pengawasan Bekerja

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:06

Fahira: Mimpi dan Cita-cita Tak Boleh Dibatasi Kondisi Ekonomi

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:35

Polisi Tembak Polisi di Markas Ditpolairud Pondok Cabe, Pelaku Ditahan

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:15

Selengkapnya