Berita

Ilustrasi (Artificial Intelligence)

Bisnis

Hari Buruh, Wall Street Libur

SELASA, 08 SEPTEMBER 2026 | 08:29 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Wall Street mengambil jeda perdagangan pada Senin, 7 September 2026, saat bursa saham Amerika Serikat (AS) tutup untuk memperingati Hari Buruh. Namun, liburnya pasar tidak serta-merta menghilangkan perhatian investor terhadap tekanan yang muncul setelah laporan ketenagakerjaan AS yang jauh lebih kuat dari perkiraan.

Perdagangan akan kembali dibuka pada Selasa, dengan investor mencermati dampak data pekerjaan terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Kuatnya pasar tenaga kerja berpotensi membuat bank sentral AS lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneternya.

Pada perdagangan terakhir sebelum libur, Jumat, 4 September 2026, mayoritas indeks utama Wall Street berakhir melemah. S&P 500 turun 0,38 persen menjadi 7.718,60 poin, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,51 persen menjadi 53.414,25 poin dan Nasdaq Composite turun 0,29 persen menjadi 26.506,99 poin.


Tekanan tersebut muncul setelah Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan ekonomi menambah 162.000 lapangan kerja pada Agustus, hampir tiga kali lipat dari perkiraan ekonom sekitar 53.000-55.000 pekerjaan. Tingkat pengangguran bertahan di 4,1 persen, sesuai dengan ekspektasi pasar.

Data tersebut memunculkan fenomena "kabar baik adalah kabar buruk" bagi pasar. Pertumbuhan lapangan kerja yang kuat menunjukkan ekonomi AS masih solid, tetapi sekaligus meningkatkan kekhawatiran bahwa The Fed dapat mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk memastikan inflasi tetap terkendali.

S&P 500 menjadi salah satu indeks yang ikut terkena dampaknya. Kenaikan imbal hasil US Treasury setelah rilis data pekerjaan menekan valuasi saham, terutama saham teknologi dan perusahaan bertumbuh yang sensitif terhadap perubahan suku bunga.

Saat perdagangan kembali dibuka, investor juga akan memperhatikan perkembangan ketegangan AS-Iran di sekitar Selat Hormuz yang telah mendorong harga minyak lebih tinggi. Kenaikan harga energi berpotensi menambah tekanan inflasi dan menjadi faktor lain yang diperhitungkan pasar menjelang pertemuan The Fed pada 16-17 September.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

AXA Mandiri Financial Digugat ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 17:59

Menteri Pigai Keliling SPBU: Hari Ini Distribusi BBM Bali Aman!

Minggu, 18 Oktober 2026 | 17:35

AS Ultimatum Iran: Patuhi Kesepakatan Nuklir atau Hancur

Minggu, 18 Oktober 2026 | 17:26

Bareskrim dan BNN Obok-Obok Kelab Malam, Sembilan Orang Positif Narkoba

Minggu, 18 Oktober 2026 | 17:17

Wali Kota Prancis Dipukuli Warga Israel di Tepi Barat

Minggu, 18 Oktober 2026 | 16:45

Masyarakat Diimbau Tingkatkan Kesadaran dan Partisipasi dalam Pencegahan Karhutla

Minggu, 18 Oktober 2026 | 16:42

Kabut Asap Picu Lonjakan Penjualan Tabung Oksigen dan Air Purifier di Asia Tenggara

Minggu, 18 Oktober 2026 | 16:04

Perlu Sistem Pencegahan Karhutla agar Warga Tak Terus Jadi Korban

Minggu, 18 Oktober 2026 | 15:51

Syarikat Islam Didorong Jadi Kekuatan Besar Ekonomi Umat

Minggu, 18 Oktober 2026 | 15:26

KPK Evaluasi Alasan Nusron Wahid Mangkir Sebelum Terbitkan Surat Perintah Membawa

Minggu, 18 Oktober 2026 | 15:11

Selengkapnya