Berita

Direktur Kebijakan Makroprudensial BI Alexander Lubis. (Foto: RMOL/Alifia)

Bisnis

Kredit Tumbuh Lebih Kencang dari DPK, Likuiditas Bank Mulai Tergerus?

SABTU, 29 AGUSTUS 2026 | 01:59 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Bank Indonesia (BI) mengungkapkan likuiditas sejumlah kelompok bank mulai tertekan seiring pertumbuhan kredit yang bergerak lebih cepat dibandingkan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK).

Direktur Kebijakan Makroprudensial BI Alexander Lubis mengatakan, kondisi likuiditas perbankan secara industri masih memadai, meski mulai terjadi penurunan pada beberapa kelompok bank, termasuk bank BUMN.

“Karena pertumbuhan kredit lebih cepat daripada pertumbuhan DPK-nya. Maka, meskipun likuiditas secara umum tetap memadai, namun mulai menemukan sejumlah kelompok bank itu mulai mengalami penurunan,” kata Alex dalam Taklimat Media di Kantor BI, Jakarta pada Jumat, 28 Agustus 2026.


BI mencatat kredit perbankan tumbuh 13,6 persen secara tahunan (yoy) pada Juli 2026. Pertumbuhan tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan DPK yang hanya tumbuh 7,7 persen.

Menurut Alex, kondisi ketahanan perbankan secara umum masih terjaga karena ditopang permodalan yang tinggi dan risiko kredit yang terkendali. Namun, perkembangan likuiditas menunjukkan kondisi yang berbeda pada masing-masing kelompok bank.

Berdasarkan data BI, rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) industri perbankan berada di level 23,10 persen pada Juli 2026.

Pada kelompok bank BUMN, rasio AL/DPK turun menjadi 16,12 persen pada Juli 2026 dari 16,18 persen pada Juni 2026.

Penurunan juga terjadi pada kelompok Bank Pembangunan Daerah (BPD), dengan rasio AL/DPK turun dari 25,61 persen menjadi 23,93 persen. Sementara kelompok Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) KBMI 1 dan 2 turun dari 30,49 persen menjadi 29,70 persen.

Di sisi lain, rasio AL/DPK kelompok BUSN KBMI 3 dan 4 meningkat dari 26,24 persen pada Juni menjadi 27,38 persen pada Juli 2026.

Kantor Cabang Bank Asing (KCBA) juga mengalami peningkatan rasio AL/DPK, dari 81,75 persen menjadi 83,62 persen.


Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Kodam XII/Tanjungpura Geser Pasukan Atasi Karhutla ke Selatan Kalbar

Sabtu, 19 September 2026 | 05:09

Ketika Politik Uang Dianggap Wajar

Sabtu, 19 September 2026 | 04:45

Profesor Webster University: Pimpinan Negara Barat Harus Contoh Prabowonomics

Sabtu, 19 September 2026 | 04:16

Ekosistem Pengolahan Ikan Skala Mikro dan Kecil Terus Diperkuat

Sabtu, 19 September 2026 | 03:45

Fapet IPB University Hasilkan Inovasi Songsong Komersialisasi Ayam Lokal

Sabtu, 19 September 2026 | 03:13

Kejati Sumut Didesak Usut Tuntas Kasus Lahan Tol Medan-Binjai

Sabtu, 19 September 2026 | 02:45

Ketika Polemik Ijazah Berubah jadi Komoditas Politik

Sabtu, 19 September 2026 | 02:17

Tim Hukum UIN Jakarta Datangi Kejati Banten Usut Korupsi Eks Rektor

Sabtu, 19 September 2026 | 01:50

Humanika Harus Bantu Presiden Bawa Keluar RI dari Middle Income Trap

Sabtu, 19 September 2026 | 01:26

Konstruksi Waktu Dugaan TPPU dan Pemerasan Kasus Febrie Tidak Sinkron

Sabtu, 19 September 2026 | 01:02

Selengkapnya