Berita

Representative Image (Foto: AI)

Dunia

Ukraina Kehilangan 75 Persen Ekspor Gandum Akibat Blokade Laut Hitam Rusia

RABU, 19 AGUSTUS 2026 | 23:22 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Ukraina menghadapi tekanan berat di sektor pertanian setelah ekspor gandum dan komoditas pangan melalui Laut Hitam anjlok 75 persen dalam dua pekan pertama Agustus 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan tajam itu terjadi di tengah puncak musim panen gandum, sehingga hasil pertanian terancam menumpuk karena terbatasnya akses ke pasar ekspor.

Serangkaian serangan Rusia terhadap infrastruktur pelabuhan di Laut Hitam disebut telah menghambat hampir seluruh aktivitas ekspor pertanian Ukraina. 


Padahal, negara tersebut merupakan salah satu produsen utama gandum, jagung, dan biji bunga matahari dunia, dengan sekitar 90 persen ekspor komoditas pertaniannya selama ini dikirim melalui jalur Laut Hitam.

Petani Ukraina, Serhiy Rybalko, merasakan langsung dampak kebuntuan tersebut. Pria 57 tahun itu sebelumnya kehilangan dua pertiga lahannya setelah Rusia menduduki sebagian besar wilayah selatan Ukraina pada awal invasi 2022. 

Kini, ketika panen gandum berada di titik puncak dan gudang penyimpanannya hampir penuh, Rybalko justru kesulitan mencari pembeli.

"Tidak ada tempat untuk mengirimkan biji-bijian ini. Ini adalah bencana besar bagi para petani," kata Rybalko, seperti dikutip dari Reuters, Rabu, 19 Agustus 2026. 

Sebelum ekspor terganggu, ia menjual hasil panennya kepada eksportir gandum besar Ukraina, Nibulon, dan sejumlah pabrik pengolahan lokal. Namun, menurutnya, pembelian kini nyaris terhenti.

"Semuanya tiba-tiba berhenti. Keuangan terhenti. Aliran pendapatan mengering. Tidak ada ekspor," ujarnya.

Krisis tersebut berpotensi memberikan pukulan besar terhadap perekonomian Ukraina. Sektor pertanian menyumbang hampir 60 persen pendapatan ekspor negara itu.

Wakil Kepala Serikat Petani Ukraina (UAC), Denys Marchuk, mengatakan dampak gangguan pasokan juga dapat merembet ke negara-negara yang bergantung pada impor pangan, terutama di Afrika dan Timur Tengah.

"Ukraina memasok sekitar 6 persen gandum dunia dan sekitar 11 persen jagung dunia," kata Marchuk. 

Dia memperingatkan keterlambatan pasokan dapat memicu kelaparan di sejumlah negara importir yang selama ini mengandalkan hasil pertanian Ukraina.

Di tengah ancaman tersebut, Ukraina diperkirakan tetap menghasilkan sekitar 60 juta ton gandum tahun ini, hampir sama dengan capaian 2025. Ironisnya, peningkatan produksi tidak otomatis meningkatkan pendapatan petani.

Harga gandum di pasar domestik justru merosot karena pasokan menumpuk, sementara harga acuan gandum global sempat mencapai level tertinggi dalam lebih dari setahun pada Juli akibat gangguan di Laut Hitam dan kekhawatiran terhadap pasokan dunia.

Kondisi tersebut membuat petani kesulitan menutup biaya produksi. Berdasarkan penilaian analis terhadap berbagai komoditas serealia, petani diperkirakan hanya mampu memperoleh keuntungan dari ekspor gandum, sedangkan hasil komoditas lainnya berisiko tidak cukup untuk menutup ongkos produksi.

"Dana ini dibutuhkan untuk terus membeli bahan bakar, membayar upah, dan mempersiapkan penanaman tanaman musim dingin," kata Marchuk.

Persoalan yang lebih mengkhawatirkan adalah ancaman terhadap musim tanam berikutnya. Tanpa pemasukan dari ekspor, petani tidak memiliki cukup modal untuk membeli bahan bakar, membayar pekerja, serta mempersiapkan lahan untuk tanaman musim dingin. 

Jalur alternatif melalui darat dan kereta api yang pernah digunakan ketika pelabuhan Laut Hitam diblokade pada awal perang juga kini semakin sulit diandalkan. 

Hubungan dengan Polandia memburuk setelah petani negara tersebut sebelumnya memprotes masuknya gandum Ukraina yang lebih murah. 

Selain itu, aturan perdagangan dengan Uni Eropa semakin ketat, permukaan air Sungai Danube menurun, sementara serangan Rusia terhadap infrastruktur kereta api turut mempersempit pilihan Ukraina.

Ekonom Kyiv School of Economics, Oleh Nivievskyi, memperingatkan dampak ekonomi dari gangguan pelabuhan kali ini bisa lebih parah dibandingkan sebelumnya.

"Ukraina harus bersiap menghadapi kemungkinan bahwa konsekuensi ekonomi dari blokade pelabuhan mungkin tidak kalah parah, atau bahkan lebih buruk, daripada sebelumnya," kata Nivievskyi melalui Telegram.

Administrasi pelabuhan Ukraina mencatat Rusia melancarkan lebih dari 70 serangan terhadap infrastruktur pelabuhan Laut Hitam dan 62 serangan terhadap kapal sepanjang Juli hingga awal Agustus. 

Rusia menyatakan serangan tersebut menyasar infrastruktur militer, logistik, dan kapal yang mengangkut senjata asing.

Bank sentral Ukraina memperkirakan blokade pelabuhan dapat membuat negara tersebut kehilangan sekitar 2,5 miliar dolar AS pendapatan valuta asing hingga akhir tahun. 

Sementara UAC memperkirakan petani berpotensi menanggung kerugian sekitar 3 miliar dolar AS akibat melonjaknya biaya logistik. Angka tersebut menambah kerugian sektor pertanian Ukraina yang sejak 2022 telah melampaui 90 miliar dolar AS.

Direktur sebuah perusahaan pertanian di wilayah Kharkiv, Felix Fyodorov, menggambarkan ironi yang dihadapi petani Ukraina. Produksi meningkat, tetapi harga justru jatuh.

"Hasil panen tahun ini, termasuk gandumnya, hampir dua kali lipat lebih baik dibandingkan tahun lalu. Namun, harganya hanya setengah dari harga tahun lalu," kata Fyodorov kepada Reuters. 

Pemerintah Ukraina telah mengeluarkan paket bantuan darurat bagi petani, termasuk memperluas program pinjaman negara, melonggarkan persyaratan kredit, dan menurunkan suku bunga pinjaman modal kerja. 

Namun, bagi para petani, persoalan terbesar bukan hanya menyelamatkan hasil panen tahun ini, melainkan memastikan lahan tetap bisa ditanami pada musim berikutnya.

Sebab, jika petani tidak memiliki modal untuk kembali menanam gandum dan tanaman musim dingin, gangguan ekspor saat ini dapat berubah menjadi krisis produksi pangan di masa depan.

Populer

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

UPDATE

Menteri Haji Usul BPIH 2027 Naik 10-15 Persen

Rabu, 19 Agustus 2026 | 18:22

Perpres Ojol 2026 Dikebut, Ini 3 Tarif yang Bakal Diatur Pemerintah

Rabu, 19 Agustus 2026 | 18:12

Film Insidious: Out of the Further Resmi Tayang di Indonesia, Ini Sinopsisnya

Rabu, 19 Agustus 2026 | 18:01

Penyegaran AKD Golkar Strategis Perkuat Kinerja DPR

Rabu, 19 Agustus 2026 | 17:54

Rupiah Menguat Rp17.840 Usai BI Tahan Suku Bunga

Rabu, 19 Agustus 2026 | 17:38

Trump Hentikan Latihan Militer AS-Korsel Lebih Cepat Demi Hubungan Baik dengan Korut

Rabu, 19 Agustus 2026 | 17:26

IGCE 2026 Momentum Indonesia Jadi Raksasa Geothermal Dunia

Rabu, 19 Agustus 2026 | 17:23

Polri-Kejagung Kompak Minta Hakim Tolak Praperadilan Febrie Adriansyah

Rabu, 19 Agustus 2026 | 17:21

Mantan Pelatih Pelatnas Panjat Tebing Jadi Tersangka Pelecehan Atlet

Rabu, 19 Agustus 2026 | 17:01

Gerak Cepat Pemerintah Harus Dirasakan Rakyat NTT

Rabu, 19 Agustus 2026 | 16:45

Selengkapnya