Berita

Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf dan Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak. (Foto: RMOL/Sarah Alifia Suryadi)

Politik

Indonesia Kirim Surat Keberatan atas Ancaman Saudi Blokir Dana Haji Rp59 Miliar

RABU, 19 AGUSTUS 2026 | 16:38 WIB | LAPORAN: SARAH ALIFIA SURYADI

Indonesia keberatan dengan rencana pemerintah Arab Saudi memblokir dana 14 juta Riyal atau sekitar Rp59 miliar milik Indonesia menyusul dugaan pelanggaran klaim asuransi terhadap lebih dari 600 jemaah haji.

Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI menilai rencana tersebut dinilai sepihak. Pasalnya, dana yang diancam diblokir merupakan bagian dari uang muka (DP) operasional penyelenggaraan haji tahun 2027.

Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak menjelaskan, duduk perkara bermula saat Indonesia telah memindahkan dana operasional lebih dari Rp4 triliun untuk persiapan haji 2027. Di tengah proses tersebut, Arab Saudi melayangkan surat teguran terkait dugaan pelanggaran ketentuan asuransi 600 jemaah yang dinilai tak memenuhi syarat istitha'ah kesehatan.


"Yang dilakukan Saudi Arabia bagi kami problematik. Kenapa problematik? Kami ingin data lengkapnya dulu," tegas Dahnil dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi VIII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2026.

Dahnil menegaskan, pihak Kemenhaj telah melayangkan nota keberatan diplomatik resmi. Ada dua poin mendasar yang disoal Indonesia: pemblokiran melanggar regulasi keuangan karena menyasar uang muka haji 2027, serta klaim angka 14 juta riyal tersebut belum diverifikasi secara terperinci.

"Kami sudah dibalas suratnya, tapi belum detail. Kami ingin penjelasan dan verifikasi bersama," jelasnya.

Jika hasil verifikasi mengharuskan Indonesia membayar penalti, pemerintah tak akan memotong dana Rp4 triliun yang sudah dikirim. Pembayaran bakal mengandalkan dana efisiensi haji 2026 atas persetujuan DPR RI.

"Berarti kan kita harus bayar dari dana efisiensi tadi, bukan dari dana Rp4 triliun yang sudah kita kirim," tambah Dahnil.

Senada dengan itu, Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf (Gus Irfan) menegaskan pemerintah terus menempuh jalur diplomasi untuk menyelesaikan sengkarut ini sembari meminta sokongan politik Parlemen.

"Proses itu sedang berjalan lewat jalur diplomatik. Kami sudah kirimkan nota keberatan, dan tentu kami butuh dukungan tegas dari Parlemen," pungkas Gus Irfan.

Populer

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Pernah Puji LSP Kapolri Terbaik, Habiburokhman Ungkap Istilah ‘Perkalian Nol’

Minggu, 08 November 2026 | 04:30

Penahanan LSP Jadi Pukulan Berat bagi Jokowi

Minggu, 08 November 2026 | 04:18

Pengamat Puji Ketenangan Jokowi saat Tunjukkan Ijazah di Persidangan

Minggu, 08 November 2026 | 04:00

Ziarah ke Makam Bung Karno, Sekjen PDIP: Kekuasaan itu untuk Rakyat

Minggu, 08 November 2026 | 03:32

Penyadapan Prabowo Mustahil Bukan untuk Tujuan Makar

Minggu, 08 November 2026 | 03:19

Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Sarana Tinju di Kampung Melayu

Minggu, 08 November 2026 | 03:00

Wapres Gibran Tidak Lagi Memiliki Legitimasi sebagai Pemimpin

Minggu, 08 November 2026 | 02:32

Ada Aroma Kuat Makar di Balik Penyadapan terhadap Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 02:22

Kasus Ijazah Jokowi Mirip Pembunuhan Brigadir Yosua

Minggu, 08 November 2026 | 02:04

Wapres Gibran Wajib Menghormati Putusan MA

Minggu, 08 November 2026 | 01:43

Selengkapnya