Berita

Ilustrasi (Artificial inteligence)

Bisnis

Logam Mulia Serempak Anjlok Dihantam Naiknya Imbal Hasil Obligasi

RABU, 19 AGUSTUS 2026 | 07:25 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pergerakan harga logam mulia dunia secara serempak mengalami tekanan yang signifikan pada penutupan perdagangan Selasa 18 Agustus 2026. 

Harga emas spot tercatat merosot 1,1 persen menjadi 4.364,90 Dolar AS per ons, sementara emas berjangka Amerika Serikat untuk kontrak pengiriman Desember menyusut 1,2 persen ke posisi 4.420,60 Dolar AS per ons. 

Tren pelemahan ini turut memukul pasar logam mulia lainnya, di mana perak spot merosot 2,8 persen menjadi 63,96 Dolar AS per ons, platinum anjlok 2,5 persen ke level 1.725,41 Dolar AS per ons, dan paladium terkoreksi paling dalam hingga 3,1 persen menjadi 1.291,78 Dolar AS per ons.


Anjloknya pasar logam mulia ini utamanya dipicu oleh lonjakan imbal hasil surat utang pemerintah di Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman yang mencapai titik tertinggi dalam beberapa dekade terakhir. Biaya pinjaman jangka panjang yang mahal membuat instrumen seperti emas menjadi kurang menarik di mata investor. 

Tekanan ini semakin diperberat oleh menguatnya harga minyak mentah akibat eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Kebuntuan diplomasi dan ancaman penutupan Selat Hormuz memicu lonjakan harga energi, yang pada akhirnya memperkuat kekhawatiran akan tingginya inflasi global.

Kondisi tersebut memberikan alasan kuat bagi bank sentral untuk menahan atau bahkan menaikkan suku bunga demi meredam inflasi, meskipun sejumlah data ekonomi Amerika Serikat terbaru justru menunjukkan tren pelemahan. 

Saat ini, fokus pelaku pasar tertuju pada rilis risalah rapat Federal Reserve untuk meraba arah kebijakan moneter ke depan. 

Prospek jangka panjang emas dinilai masih positif setelah melewati masa konsolidasi. 

Menurut Bank of America, volume pembelian oleh investor saat ini baru cukup untuk menopang harga di kisaran 4.000 Dolar AS per ons, sehingga diperlukan lonjakan permintaan yang lebih masif untuk bisa mendorong emas menembus level 5.000 Dolar AS per ons.


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Masuk Tahap Pembuktian, Denny Indrayana Minta MK Panggil Gibran

Senin, 28 September 2026 | 18:16

Bukan Sekadar Parlemen, MPR Penjaga Konstitusi dan Kebangsaan

Senin, 28 September 2026 | 18:09

Dari 49 Tahun, Antrean Faktual Haji Kini Jadi 14 Tahun

Senin, 28 September 2026 | 17:44

Prabowo Perintahkan Audit Forensik Tata Kelola Keuangan Haji

Senin, 28 September 2026 | 17:38

Warga Ngadu ke DPR Gegara Kasus Dugaan Mafia Tanah Disetop

Senin, 28 September 2026 | 17:33

Mengenal Megathrust, 14 Segmen Sumber Gempa di Indonesia dan Potensi Magnitudonya

Senin, 28 September 2026 | 17:25

Dirjenpas Janji Bongkar 13 Bangunan Lapas Cibinong

Senin, 28 September 2026 | 17:16

Apa Itu Fenomena Blue Fire di Gunung Papandayan? Ini Penjelasan Ahli

Senin, 28 September 2026 | 17:08

Kesaktian Silfester Mulai Berkurang

Senin, 28 September 2026 | 17:05

Harga BBM Pertamina 28 September 2026, Pertalite hingga Pertamax Masih Segini

Senin, 28 September 2026 | 16:59

Selengkapnya