Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi Penulis)

Publika

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

RABU, 19 AGUSTUS 2026 | 04:42 WIB

SAAT mengamati pergolakan di Timur Tengah, puncaknya perang Iran vs Amerika dan Israel, mungkin kebanyakan dari kita memfokuskan isu pertahanan dan penjagaan kedaulatan Negara pada ancaman dari luar negeri (asing). Alhasil, pikiran kita tertuju pada bagaimana mengembangkan sistem pertahanan, alutsista, hingga penyiapan doktrin pertahanan modern dalam mengantisipasi serangan musuh.

Namun, bagi anda yang mengamati entitas Pantai Indah Kapuk 2 (PIK-2), memasuki kawasan ini, maka pikiran anda pasti akan berubah. Ancaman pertahanan dan serangan terhadap kedaulatan negara itu bukan hanya dari luar, bukan hanya dari asing, tapi bisa muncul dari dalam negeri. 

Salah satu sebab, kami menggugat proyek PIK-2 yang pada era Jokowi diberi status PSN (Proyek Strategis Nasional), adalah adanya ancaman kedaulatan dan pertahanan negara dari entitas PIK-2. Komplek hunian ekslusif yang langsung menghadap bibir pantai dan samudera, menghadap Laut Cina Selatan dan bisa langsung menuju daratan China.


Siapa, yang bisa mengontrol arus orang dan barang, masuk dan/atau keluar dari kawasan PIK-2?

Sejumlah kasus penggerebekan dan penyitaan narkoba di PIK-2, memantik pertanyaan kritis. Darimana barang haram itu masuk? Apakah hanya narkoba? Bagaimana dengan miras dan barang-barang ilegal? Apakah barang ini masuk dari pelabuhan dan bandara resmi, atau langsung dari bibir pantai di kawasan PIK-2?

Saat Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) secara resmi menyita dan menyegel 1.601 hektare kawasan hutan lindung Paku Haji di area PIK-2, Kabupaten Tangerang, Banten, penulis dan sejumlah aktivis Banten lega. Pasalnya, kami sudah lama menyuarakan masalah ini, dari kasus pagar laut hingga reklamasi terhadap kawasan hutan lindung di PIK-2.

Terbukti, penyitaan yang dilakukan pada Maret 2026 ini, yang diikuti pencoretan proyek Tropical Coastland (anak bisnis Agung Sedayu Group) dari status Proyek Strategis Nasional (PSN) oleh pemerintah, mengkonfirmasi bahwa proyek ini bermasalah.

Berdasarkan Evaluasi pemerintah menemukan bahwa lahan tersebut masuk ke dalam kawasan hutan lindung. Dokumen Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) belum lengkap, ada masalah status pertanahan, serta potensi konflik sosial.

Satgas PKH akhirnya mencabut izin PT Mutiara Intan Permai (anak perusahaan pengembang) karena memanfaatkan kawasan hutan secara tidak sah. Pencoretan Status PSN resmi dicabut melalui Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 16 Tahun 2025.

Bahkan, Satgas PKH dengan tegas mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan transaksi bisnis atau jual-beli di atas properti/tanah yang telah disita tersebut.

Hanya saja, kami melihat Aguan dan Anthoni Salim selaku pemilik proyek tidak tinggal diam. Agung Sedayu Group terus berusaha melobi kekuasaan, agar lahan sitaan itu bisa dikelola kembali dengan modus proyek perumahan rakyat.

Negara tidak boleh kalah oleh oligarki PIK-2. Pertahanan dan kedaulatan Negara, tidak boleh bocor dan dironggrong dari dalam. Atas pertimbangan itulah, kami akan mendatangi Kantor Kementerian Pertahahan, dimana Menhan menjabat sebagai Ketua Pengarah Satgas PKH, bersama Kapolri, Kajagung dan Panglima TNI sebagai Wakil Ketua.

Mulanya, ada usulan untuk cukup mendatangi Satgas PKH. Namun, setelah mendengar banyak masukan, juga menilai urgensi isu pertahanan dan kedaulatan Negara, maka kami memutuskan untuk beraudiensi langsung dengan Kementerian Pertahanan.

Semoga, ikhtiar yang kecil ini memberikan sumbangsih untuk negeri. Demi kehormatan Bangsa dan Negara, agar tak kalah oleh rongrongan oligarki.


Ahmad Khozinudin, S.H.
Advokat, Koordinator Tim Advokasi Melawan Oligarki Rakus Perampas Tanah Rakyat (TA-MOR-PTR)



Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

UPDATE

Titik Terang di Beltim, PT Timah Diperbolehkan Beli Timah Rakyat

Selasa, 18 Agustus 2026 | 21:38

Mantri BRI Rela Terobos Kabut dan Jalan Terjal demi Jaga Asa Pelaku Usaha

Selasa, 18 Agustus 2026 | 21:21

Alunan Bella Ciao Iringi Pembubaran Demo BEM UI

Selasa, 18 Agustus 2026 | 20:57

BEM UI: Kemerdekaan Indonesia Masih Semu

Selasa, 18 Agustus 2026 | 20:45

Serba-Serbi Demo, Intel Cegat Massa Tak Berseragam Merapat Barisan BEM UI

Selasa, 18 Agustus 2026 | 20:39

Peringatan Dini BMKG Modal Penting Hadapi Karhutla

Selasa, 18 Agustus 2026 | 20:28

MES Siapkan Jurus Jadikan Indonesia Pusat Ekonomi Syariah Dunia

Selasa, 18 Agustus 2026 | 20:13

Budaya KKN dan Koncoisme Penghalang Cita-cita Merdeka

Selasa, 18 Agustus 2026 | 20:00

Waspada! El Nino Tahun Ini Lebih Kuat dari 2015

Selasa, 18 Agustus 2026 | 19:48

Said Abdullah: Rekam Jejak Destry-Aida Jadi Modal Pimpin BI

Selasa, 18 Agustus 2026 | 19:38

Selengkapnya