Berita

Pimpinan Partai Golkar dalam rangka peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kantor DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta Barat, Selasa, 18 Agustus 2026. (Foto: RMOL/Sarah Alifia Suryadi)

Politik

Fraksi Golkar Siap Kawal Belanja Pemerintah Demi Target Ekonomi 6 Persen di 2027

RABU, 19 AGUSTUS 2026 | 01:34 WIB | LAPORAN: SARAH ALIFIA SURYADI

Lambatnya realisasi anggaran pemerintah dinilai dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Karena itu, seluruh anggota Fraksi Partai Golkar di DPR diminta aktif mengejar kementerian yang masih lambat merealisasikan anggaran.

Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia menyampaikan hal tersebut saat memberikan pengarahan kepada kader dan anggota Fraksi Partai Golkar dalam rangka peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kantor DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta Barat, Selasa, 18 Agustus 2026.

Bahlil meminta anggota fraksi serius mengikuti pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027, termasuk memastikan adanya korelasi antara arah kebijakan presiden, program kementerian, dan alokasi anggaran.


"Harus ada korelasi yang nyambung antara apa yang disampaikan oleh Bapak Presiden dengan apa yang menjadi program di kementerian dengan alokasi. Jangan terjadi distorsi antara apa yang menjadi gagasan dan apa yang menjadi program," kata Bahlil.

Ia kemudian meminta anggota Fraksi Golkar tidak ragu mengkritisi kementerian yang lambat menjalankan anggaran. Menurutnya, pengawasan parlemen diperlukan agar program pemerintah dapat segera dieksekusi.

"Nah, saya harus jujur mengatakan bahwa terlepas dari persoalan berapa besar pendapatan yang dianggarkan, saya juga meminta kepada seluruh fraksi agar mengejar kementerian-kementerian yang realisasinya itu lambat," tegasnya.

Bahlil menilai keterlambatan realisasi anggaran dapat berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi. Sebab, belanja pemerintah merupakan salah satu komponen yang mendorong pertumbuhan ekonomi selain konsumsi, investasi, serta ekspor-impor.

"Kalau belanja pemerintah sebagai trigger terhadap pertumbuhan lambat untuk dieksekusi itu pasti akan terdampak pada lapangan pekerjaan dan pertumbuhan," jelas Bahlil.

Dalam kesempatan tersebut, Bahlil juga menyinggung target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan dalam penyusunan RAPBN 2027. Ia meminta target tersebut menjadi acuan untuk mendorong percepatan program pemerintah.

"Pertumbuhan ekonomi kita itu ditargetkan memang agak besar di 2027 dan memang saya pikir ini harus kita jadikan sebagai acuan dalam rangka memotivasi kita untuk mendorong agar bisa tercapai yaitu 6 persen," ujarnya.

Senada dengan Bahlil, Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menilai target pertumbuhan ekonomi 6 persen dalam RAPBN 2027 menunjukkan keyakinan pemerintah terhadap prospek perekonomian nasional.

Politikus Partai Golkar itu melihat target tersebut sebagai langkah penting untuk membawa Indonesia keluar dari pola pertumbuhan di kisaran 5 persen dan memasuki level pertumbuhan yang lebih tinggi.

"Pertumbuhan ekonomi 6 persen ini adalah pertumbuhan ekonomi yang memberikan pesan yang kuat kepada pasar bahwa Bapak Presiden memberikan sinyal yang optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi kita tahun 2027 nanti. Jadi, 2027 kita ditargetkan keluar dari zona pertumbuhan 5 persen. 6 persen ini adalah zona baru pertumbuhan ekonomi kita untuk menuju ke 8 persen seperti yang ditargetkan dalam visi Bapak Presiden," ujar Misbakhun kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2026. 

Menurut Misbakhun, pencapaian target tersebut membutuhkan koordinasi dan kerja bersama seluruh pemangku kepentingan. Bauran kebijakan fiskal dan moneter perlu diperkuat untuk menjaga likuiditas, menggerakkan sektor riil, sekaligus mendorong peningkatan penyaluran kredit perbankan.

"Konsolidasi besar ini tidak bisa berjalan sendiri hanya dari dorongan kebijakan fiskal semata maupun kebijakan moneter semata. Harus berasal dari bauran kebijakan sehingga resultannya adalah pertumbuhan ekonomi yang semakin meningkat menuju target 6 persen," kata Misbakhun.

Menurut Bahlil, koreksi dari parlemen terhadap kementerian tidak seharusnya dipandang sebagai bentuk ketidakdukungan. Menurutnya, kritik diperlukan untuk memastikan pemerintah mampu mengeksekusi program sesuai tanggung jawabnya.


Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Hari Buruh, Wall Street Libur

Selasa, 08 September 2026 | 08:29

Krakatau Steel Rombak Direksi, Segini Pendapatan KRAS Semester I-2026

Selasa, 08 September 2026 | 08:15

Konflik Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dekati 100 Dolar AS

Selasa, 08 September 2026 | 07:57

OJK Wajibkan Free Float 15 Persen, Tegaskan Transparansi Tanpa Kompromi

Selasa, 08 September 2026 | 07:40

Saat Batu Bara Tertekan, UNTR Makin Mesra dengan Emas

Selasa, 08 September 2026 | 07:21

Anak Krakatau Erupsi, Kursi Bos Krakatau Steel Berganti

Selasa, 08 September 2026 | 07:01

Nellava Group dan Emas Now Pilih Jalur Hukum Hadapi Serangan di Ruang Digital

Selasa, 08 September 2026 | 06:50

Pemerintah Dituntut Siapkan Anggaran dan Kesiapsiagaan Logistik terkait Bencana

Selasa, 08 September 2026 | 06:09

Kewajiban Moral Lindungi Rakyat dari Manipulasi Harga dan Mutu Beras

Selasa, 08 September 2026 | 05:44

Empat Pejabat Kejagung Diduga Terima Rp40 Miliar dari Tan Kian, Ini Tanggapan Kapuspenkum

Selasa, 08 September 2026 | 05:27

Selengkapnya