Berita

Representative Image (Foto: X)

Dunia

UEA Kecam Serangan Rudal terhadap Kapal ADNOC di Selat Hormuz

MINGGU, 09 AGUSTUS 2026 | 12:08 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Uni Emirat Arab (UEA) mengecam keras serangan rudal yang menyasar salah satu kapal milik Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) saat melintasi Selat Hormuz, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Mengutip keterangan ADNOC, melaporkan serangan terjadi pada Sabtu dini hari waktu setempat, 8 Agustus 2026.

Perusahaan minyak nasional UEA tersebut mengonfirmasi salah satu kapalnya menjadi target rudal ketika tengah berlayar melalui jalur maritim strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan minyak dan gas dunia.


Kementerian Luar Negeri UEA menyebut insiden tersebut sebagai serangan agresif Iran terhadap kapal tanker ADNOC.

“Serangan ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB 2817, yang menekankan kebebasan navigasi dan menolak serangan terhadap kapal komersial atau gangguan terhadap jalur maritim internasional,” kata kementerian tersebut dalam pernyataannya.

Abu Dhabi juga menilai penargetan kapal komersial serta pemanfaatan Selat Hormuz sebagai instrumen tekanan ekonomi merupakan tindakan yang membahayakan stabilitas kawasan. 

Kementerian Luar Negeri UEA mendesak Iran menghentikan apa yang disebutnya sebagai serangan agresif, mengakhiri seluruh permusuhan serta membuka kembali Selat Hormuz.

Sebelumnya, kantor berita semi-resmi Iran, Fars News Agency, melaporkan sebuah kapal yang diduga tanker minyak terbakar di koridor selatan Selat Hormuz. 

Mengutip pemantauan satelit, Fars menyebut kapal tanggap tumpahan minyak dan pemadam kebakaran ADNOC AR01 telah tiba di lokasi kejadian.

Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya kembali ketegangan regional. 

Pada 28 Februari, Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan terkoordinasi terhadap Iran dengan menargetkan infrastruktur militer, nuklir dan energi, yang kemudian dibalas Teheran melalui serangan rudal dan drone terhadap target Israel dan AS di kawasan.

Pada 18 Juni, Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman melalui mediasi Pakistan dan Qatar untuk mengakhiri permusuhan aktif dan membuka negosiasi menuju kesepakatan final. 

Namun, pembicaraan tersebut kemudian terhenti akibat sengketa mengenai keamanan maritim dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz. 

Populer

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Kasus OTT Pemalang: Anggota Polri yang Bertugas di KPK Jadi Tersangka

Kamis, 30 Juli 2026 | 10:29

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Perbedaan Perlakuan Tersangka Jadi Ujian Kesetaraan Hukum

Minggu, 09 Agustus 2026 | 08:23

KDKMP Kembalikan Kendali Ekonomi ke Warga Desa

Minggu, 09 Agustus 2026 | 08:19

Jangan Terjebak Angka, Pertumbuhan Ekonomi Harus Berdampak ke Masyarakat

Minggu, 09 Agustus 2026 | 07:24

Gus Salam: Caketum PBNU Harus Bersaing Secara Sehat

Minggu, 09 Agustus 2026 | 07:21

Kuasa Hukum Yaqut Tegaskan Kebijakan Kuota Haji Harus Dinilai Utuh

Minggu, 09 Agustus 2026 | 07:14

Konsolidasi Rakyat untuk Pemerintahan Bersih

Minggu, 09 Agustus 2026 | 06:48

Petani Diminta Jangan Tertipu Konten Pupuk Viral di Medsos

Minggu, 09 Agustus 2026 | 06:23

Menteri Luar Negeri Layak Diganti karena Dicap Tidak Profesional

Minggu, 09 Agustus 2026 | 05:54

InfraNexia jadi Pilar Utama Bisnis Telkom untuk Wholesale Connectivity

Minggu, 09 Agustus 2026 | 05:27

BGN Libatkan Peran Guru Perkuat Pengawasan MBG

Minggu, 09 Agustus 2026 | 04:48

Selengkapnya