Berita

Ilustrasi pergerakan IHSG. (Foto: RMOL/Alifia)

Bisnis

IHSG Terbang 1,56 Persen, Dolar AS Tembus Rp18.111 Sore Ini

KAMIS, 30 JULI 2026 | 17:00 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona hijau pada perdagangan Kamis sore, 30 Juli 2026. 

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup di level 6.187, naik 94 poin atau 1,56 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan hari ini IHSG bergerak ke level tertinggi di 6.186 dan terendah di 6.106.


Volume transaksi tercatat mencapai 30 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp12,9 triliun dan frekuensi sebanyak 1,7 juta kali transaksi.

Sebanyak 495 saham ditutup menguat, 158 saham melemah, dan 136 saham lainnya tidak mengalami perubahan.

Di pasar valuta asing, Rupiah justru melemah. Mengutip data Bloomberg, mata uang Garuda berada di level Rp18.111 per Dolar AS, anjlok 38 poin atau 0,21 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan Dolar AS menguat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang Iran.

“Presiden Trump mengancam akan menyerang dengan "sangat keras" menyusul serangan rudal Iran pada hari Selasa terhadap pangkalan AS di Yordania,” kata Ibrahim dalam risetnya.

Menurut Komando Pusat AS, pihaknya juga telah melancarkan serangan terhadap Iran selama dua jam pada Rabu waktu setempat. 

“Tindakan ini mengakhiri jeda serangan AS terhadap Iran yang telah berlangsung sejak akhir pekan. Iran menutup jalur perairan tersebut yang sebelumnya menjadi jalur bagi sekitar seperlima aliran minyak dan gas dunia setelah perang AS-Israel pecah pada 28 Februari,” kata Ibrahim.

Sementara dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti proyeksi ekonom mengenai pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2026 yang akan berada antara 4,8 persen sampai 4,9 persen.

“Proyeksi itu jauh lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi periode sebelumnya atau kuartal I/2026 yang capai 5,61 persen. Perlambatan ini dipicu tekanan dari tingginya biaya produksi akibat gejolak global, pengetatan kebijakan moneter, hingga ketidakpastian tata kelola fiskal di dalam negeri,” tandasnya.


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Masuk Tahap Pembuktian, Denny Indrayana Minta MK Panggil Gibran

Senin, 28 September 2026 | 18:16

Bukan Sekadar Parlemen, MPR Penjaga Konstitusi dan Kebangsaan

Senin, 28 September 2026 | 18:09

Dari 49 Tahun, Antrean Faktual Haji Kini Jadi 14 Tahun

Senin, 28 September 2026 | 17:44

Prabowo Perintahkan Audit Forensik Tata Kelola Keuangan Haji

Senin, 28 September 2026 | 17:38

Warga Ngadu ke DPR Gegara Kasus Dugaan Mafia Tanah Disetop

Senin, 28 September 2026 | 17:33

Mengenal Megathrust, 14 Segmen Sumber Gempa di Indonesia dan Potensi Magnitudonya

Senin, 28 September 2026 | 17:25

Dirjenpas Janji Bongkar 13 Bangunan Lapas Cibinong

Senin, 28 September 2026 | 17:16

Apa Itu Fenomena Blue Fire di Gunung Papandayan? Ini Penjelasan Ahli

Senin, 28 September 2026 | 17:08

Kesaktian Silfester Mulai Berkurang

Senin, 28 September 2026 | 17:05

Harga BBM Pertamina 28 September 2026, Pertalite hingga Pertamax Masih Segini

Senin, 28 September 2026 | 16:59

Selengkapnya