Berita

Presiden Rusia Vladimir Putin (Foto: X)

Dunia

Rusia Tolak Usulan Damai Kazakhstan, Bersikeras Capai Target di Ukraina

MINGGU, 26 JULI 2026 | 17:01 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Kremlin menolak usulan Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev untuk menghentikan perang Rusia-Ukraina sebagai langkah awal menuju perdamaian. 

Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov menegaskan penghentian konflik bukan soal membekukan pertempuran, melainkan memastikan seluruh tujuan operasi militer Rusia tercapai. 

Menurutnya, perang bahkan dapat berakhir dalam waktu singkat apabila Kyiv bersedia mengambil keputusan sesuai tuntutan Moskow.


"Menghentikan (perang) itu sendiri bukanlah hal yang mungkin," kata Peskov, seperti dikutip Minggu, 26 Juli 2026.

Peskov menjelaskan Rusia tetap berpegang pada syarat penghentian permusuhan, yakni penarikan pasukan Ukraina dari wilayah Donbas dan pembatalan rencana Kyiv untuk bergabung dengan NATO. 

"Bagi kami hanya ada satu syarat utama, yaitu kami harus mencapai tujuan kami," ujarnya seraya menyebut Presiden Vladimir Putin juga telah memberikan penjelasan rinci kepada Tokayev mengenai perkembangan apa yang disebut Moskow sebagai "operasi militer khusus" di Ukraina.

Usulan perdamaian itu disampaikan Tokayev saat bertemu Putin di Kota Omsk, Rusia, pada Sabtu, 25 Juli 2026.

Dalam pertemuan tersebut, Presiden Kazakhstan mengusulkan agar konflik dibekukan sementara dan proses negosiasi kembali mengacu pada konsep "Istanbul Formula 2.0", yang menurutnya pernah menghasilkan kemajuan berarti.

"Mungkin konflik ini harus dibekukan, dan kita harus kembali ke 'Formula Istanbul 2.0,' karena hasil yang signifikan telah dicapai di sana. Kemudian, tentu saja, dengan jaminan dari kekuatan-kekuatan besar, termasuk Rusia, kita dapat bergerak menuju perdamaian yang telah lama ditunggu-tunggu," ujar Tokayev.

Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Ukraina atas usulan Tokayev tersebut. 

Penolakan Kremlin menunjukkan bahwa Moskow masih mempertahankan posisi tawarnya dan belum bersedia membuka jalan bagi penghentian konflik tanpa terpenuhinya seluruh target strategis yang telah ditetapkan Rusia.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Warga Gembira TransJakarta Layani Rute Kepulauan Seribu

Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:10

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

UPDATE

Harga Minyak Dunia Merangkak Naik ke 93 Dolar AS

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:17

TransNusa dan Tourism Malaysia Ajak Media Eksplorasi Penang, Perlis hingga Langkawi

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:57

Rupiah Perpanjang Tren Positif di Jumat Pagi

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:51

Strategi Mendapatkan Libur Panjang Saat Peringatan Maulid Nabi 2026

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:46

OTT Rektor Unsoed, KPK Tangkap 14 Orang dan Amankan Uang Ratusan Juta

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:35

IHSG Naik ke 6.526,30, Saham Mayoritas Menguat

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:20

Salah Paham tentang Kembali ke UUD 1945

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:06

Kebutuhan Pangan Pengungsi NTT Dipastikan Terpenuhi, Stok Beras 39 Ribu Ton

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:00

Bursa Asia Merah Tergusur Sentimen Wall Street

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:58

Terjaring OTT KPK, Rektor Unsoed Diduga Terkait Korupsi PMB

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:49

Selengkapnya