Berita

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (Foto: RMOL)

Bisnis

Menkeu Purbaya Akui Sulit Tambah Belanja Kementerian, Lembaga dan Daerah

SABTU, 25 JULI 2026 | 14:37 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Harapan pemerintah menambah belanja untuk kementerian/lembaga (K/L) dan pemerintah daerah terancam buyar. Penyebabnya, harga minyak mentah dunia kembali melonjak hingga menyentuh level 100 Dolar AS per barel.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui lonjakan harga minyak membuat ruang fiskal pemerintah semakin sempit. Padahal, ketika harga minyak sempat turun, pemerintah melihat peluang untuk memperbesar belanja negara.

"Tadinya kan gini, ketika harga minyak turun, saya pikir saya ada ruang untuk menambah belanja, daerah dan lain-lain ya, termasuk kementerian/lembaga. Artinya sekarang, kalau balik lagi (harga minyak) ke sedia, ruangnya semakin terbatas aja," ujar Purbaya di kantornya, Jakarta, dikutip Sabtu, 25 Juli 2026.


Meski begitu, Purbaya memastikan kondisi tersebut belum mengganggu pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Menurutnya, pemerintah sudah mengantisipasi kemungkinan itu dengan menetapkan asumsi harga minyak di kisaran 100 Dolar AS per barel.

"Berarti kan balik seperti sebelumnya, kan kita asumsikan kan 100 Dolar AS. Berarti keadaan ini bukan hal yang baru untuk kita. Jadi bisa kita adjust lagi nanti anggarannya seperti sebelumnya, jadi enggak kaget lah," jelasnya.

Di pasar global, harga minyak Brent sempat melonjak sekitar 7 persen dan ditutup di atas level 100 Dolar AS per barel pada Kamis (23/7). Ini menjadi kali pertama Brent kembali menembus level tersebut sejak Mei 2026.

Pada perdagangan Jumat kemarin, Brent memang terkoreksi 0,72 persen menjadi 99,97 Dolar AS per barel. Namun, secara mingguan masih mencatat potensi kenaikan sekitar 13,5 persen.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 0,76 persen ke level 91,49 Dolar AS per barel. Meski melemah, WTI masih berada di jalur penguatan mingguan sekitar 10,9 persen.

Reli harga minyak dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan jalur pelayaran Bab el-Mandeb, salah satu jalur distribusi minyak paling strategis di dunia. Ketegangan geopolitik di kawasan juga memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan meminta Iran bertanggung jawab atas setiap serangan lanjutan.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Masuk Tahap Pembuktian, Denny Indrayana Minta MK Panggil Gibran

Senin, 28 September 2026 | 18:16

Bukan Sekadar Parlemen, MPR Penjaga Konstitusi dan Kebangsaan

Senin, 28 September 2026 | 18:09

Dari 49 Tahun, Antrean Faktual Haji Kini Jadi 14 Tahun

Senin, 28 September 2026 | 17:44

Prabowo Perintahkan Audit Forensik Tata Kelola Keuangan Haji

Senin, 28 September 2026 | 17:38

Warga Ngadu ke DPR Gegara Kasus Dugaan Mafia Tanah Disetop

Senin, 28 September 2026 | 17:33

Mengenal Megathrust, 14 Segmen Sumber Gempa di Indonesia dan Potensi Magnitudonya

Senin, 28 September 2026 | 17:25

Dirjenpas Janji Bongkar 13 Bangunan Lapas Cibinong

Senin, 28 September 2026 | 17:16

Apa Itu Fenomena Blue Fire di Gunung Papandayan? Ini Penjelasan Ahli

Senin, 28 September 2026 | 17:08

Kesaktian Silfester Mulai Berkurang

Senin, 28 September 2026 | 17:05

Harga BBM Pertamina 28 September 2026, Pertalite hingga Pertamax Masih Segini

Senin, 28 September 2026 | 16:59

Selengkapnya