Delegasi MUI di Global Coalition for AlQuds & Palestine (GCQP) di Istanbul, Turki (Foto: MUI)
Solidaritas Indonesia terhadap Palestina memiliki akar sejarah yang panjang.
Menurut Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional (HLNKI) MUI, Duta Besar Bunyan Saptomo, dukungan tersebut telah berlangsung selama 100 tahun dan menjadi bagian dari perjalanan perjuangan kedua bangsa melawan penjajahan.
Menurutnya, jejak sejarah tersebut dapat ditelusuri hingga dekade 1920-an ketika sejumlah pelajar Indonesia di Mesir aktif dalam gerakan kemerdekaan dunia Islam, termasuk Indonesia dan Palestina.
Salah satu tokoh yang menonjol adalah Prof. Dr. Abdul Kahar Muzakir yang menghadiri Konferensi Dunia Islam di Yerusalem pada 1930.
Bahkan, sejumlah pemuda Indonesia tercatat gugur sebagai syuhada dalam perlawanan rakyat Palestina terhadap penjajahan Inggris pada era 1930-an.
"Dukungan bangsa Indonesia pada perjuangan bangsa Palestina telah berlangsung sejak 100 tahun yang lalu (1 abad)," ujarnya saat membuka Global Coalition for AlQuds & Palestine (GCQP) di Istanbul, Turki, dikutip Minggu, 19 Juli 2026.
Hubungan historis yang telah terjalin sejak masa perjuangan itu, lanjut Bunyan, menjadi landasan kuat bagi eratnya hubungan Indonesia dan Palestina.
Karena ikatan tersebut, Mufti Besar Palestina bersama para pemimpin dunia Arab memberikan dukungan dan pengakuan terhadap kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamasikan pada 1945.
Di hadapan sekitar 300 peserta dari 30 negara, Bunyan juga memperkenalkan delegasi Indonesia yang terdiri atas perwakilan MUI, Oke Setiadi dan Kurniasih Zulhadji, bersama sejumlah lembaga filantropi pendukung Palestina, yakni Rumah Zakat, Qudwah, Adara, Smart 171, serta pengurus eksekutif Koalisi Asia Pasifik untuk Al-Quds dan Palestina (APCQP), Irvan Nugraha dan Lukman.
Dalam paparannya, Bunyan turut membeberkan sejumlah langkah konkret Indonesia untuk memperkuat solidaritas terhadap Palestina.
Di antaranya penyelenggaraan Asia Pacific Conference for AlQuds & Palestine di DPR RI pada akhir 2025 yang merekomendasikan pembentukan kantor pusat APCQP di Jakarta, keikutsertaan MUI dalam Konferensi Solidaritas Palestina di Davao, Filipina, awal 2026, proses legalisasi APCQP yang ditargetkan rampung pada 19 Agustus 2026, serta persiapan Konferensi Asia Pasifik kedua yang akan digelar di Malaysia pada Oktober tahun ini.