Berita

Demo RUU Perampasan Aset. (Foto: Istimewa)

Publika

Etika Berbangsa Naik, Korupsi Turun

MINGGU, 19 JULI 2026 | 06:29 WIB

SAYA agak aneh saja mendengar, kok ada pihak-pihak yang begitu getol mendorong pengesahan RUU Perampasan Aset, seolah-olah paling anti-korupsi, dan merasa RUU itulah yang menjadi solusi paling mujarab bagi pemberantasan korupsi di negeri ini?

Sebab, di depan mata kita saat ini, kita saksikan bahwa yang bermasalah itu bukan Undang-Undangnya, melainkan Aparat Penegak Hukum (APH) itu sendiri. Tiba-tiba saja menggeledah rumah orang, dan tiba-tiba ditemukan tumpukan uang dan emas, lalu tiba-tiba pula seperti berdamai begitu saja.

Kalau APH kita benar-benar baik dan bersih, maka Undang-Undang yang sudah ada saja seperti UU No. 31/1999 yang diubah UU No. 20/2021 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dan UU No. 8/2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, itu sudah cukup untuk memberantas korupsi lenyap di negeri ini.


Bahkan, kalau budaya anti-korupsi kita bagus, maka UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan TPPU pun, sebetulnya tak diperlukan. Yang merasa khilaf korupsi sebesar apa pun, langsung mundur dari jabatannya, karena merasa bersalah. Uang yang dikorupsi langsung dikembalikan kepada kas Negara.

Tapi, kalau budaya anti-korupsi kita dari sononya memang tidak bagus, dan APH juga tidak baik dan tidak bersih, maka UU sebentuk apa pun, termasuk RUU Perampasan Aset, tetap tak akan bisa mengurangi, apalagi menghapus budaya korupsi di negeri ini.

Bahkan, UU baru itupun berpotensi dijadikan oleh APH sebagai lahan korupsi baru. Bukankah dugaan korupsi yang dilakukan eks Jampidsus Febrie Ardiansyah itu adalah korupsi dari uang korupsi pula? Persis seperti yang dilakukan para Hakim Tipikor tempo hari. Uang maling dimaling lagi.

Saya tidak bisa bayangkan kalau UU Perampasan Aset itu disahkan, maka itu akan menjadi senjata baru bagi APH untuk "memalak" pengusaha hitam atau mungkin juga politisi hitam. Tanpa UU itu saja sudah terjadi seperti yang kita saksikan saat ini.

Maka, dapat dipahami, kenapa UU itu mangkrak di DPR. Sebab, DPR tahu pasti UU Perampasan Aset itu bisa menjadi pisau bermata dua bagi dirinya. Dan itu hanya menyerahkan senjata baru bagi APH yang korup, untuk menyalahgunakan UU baru itu.

Bukan mustahil pihak-pihak yang mendorong pengesahan RUU Perampasan Aset itu hanya akan mendeskreditkan DPR (parpol), karena ia tahu DPR "kesulitan" mengesahkan RUU itu. Bukan apa-apa. Karena APH kita memang, belum bisa dipercaya.

Seperti kata Menko Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, kita ini tak kekurangan norma hukum, lembaga penegak hukum untuk memberantas korupsi, yang kurang adalah etika berbangsa.

Hal ini memang harus dibentuk dari sejak dini. Mulai dari pendidikan di sekolah, rekruitmen menjadi abdi negara atau aparat hukum, rekruitmen menjadi pejabatnya, dan seterusnya. Naikkan etika berbangsa, maka otomatis korupsi akan turun dengan sendirinya.

Jadi, dugaan saya, mereka yang sok-sok mendorong pengesahan RUU Perampasan Aset itu, bisa jadi punya motif politik tertentu, bukan murni untuk pemberantasan korupsi itu sendiri. Saya mau menyebut pihak-pihak tertentu itu, tapi tak enak juga. Mereka sedang berusaha berpolitik dengan cara sok bersih saja, padahal kotor juga.

Tapi memang, dorong pengesahan RUU Perampasan Aset itu cukup merepotkan DPR atau partai politik. Kalaupun nanti RUU itu disahkan, saya yakin isinya tak akan semenyeramkan yang kita bayangkan pula. Pastinya, tajinya dibuat tidak akan terlalu runcing yang bisa menusuk justru anggota DPR itu sendiri.

Erizal
Direktur ABC Riset & Consulting

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

Hak Angket Ijazah Gibran Sudah Masuk Angin

Senin, 26 Oktober 2026 | 10:04

UPDATE

Mensos: Tiga Korban Penganiayaan di Sekolah Rakyat Jember Kembali Belajar

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:30

Agrinas Palma Bareng CPP Peringati Sumpah Pemuda Lewat Giat Sosial

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:11

KNMP Disiapkan untuk Dongkrak Pendapatan Nelayan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:11

KoMPAS Minta Polri Bersihkan Oknum Bermasalah dari Jabatan Strategis

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:03

Kapolri Mutasi Lagi, Kapusdokkes dan Kapuskeu Diganti

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:55

Dugaan Pencemaran Nama Baik di Medsos, Wanita Asal Sumut Dipolisikan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:44

Investasi Era Prabowo Tembus Rp3.923 Triliun Serap 5,4 Juta Tenaga Kerja

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:43

BRI Fellowship Journalism 2026 Ajak Jurnalis Terlibat dalam Urban Farming di Bandung

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:33

Kasus ISPA di 7 Provinsi Turun Drastis Usai Diguyur Hujan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:17

Prabowo Gratiskan Biaya Sekolah dan Perluas Kampus SMA Taruna Nusantara

Jumat, 30 Oktober 2026 | 18:58

Selengkapnya