Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Pasar Modal RI Dibayangi Risiko Turun Kelas, S&P DJI Soroti Transparansi dan Regulasi BEI

RABU, 08 JULI 2026 | 12:58 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pasar modal Indonesia menghadapi peringatan serius dari S&P Dow Jones Indices (S&P DJI). 

Lembaga penyedia indeks global tersebut resmi memasukkan Indonesia ke dalam Country Classification 2027 Watchlist, membuka peluang turunnya status pasar modal nasional dari Emerging Market menjadi Special Measures/Frontier apabila berbagai persoalan yang menjadi perhatian tidak segera dibenahi.

Dalam pengumuman yang dirilis pada  Selasa, 7 Juli 2026, S&P DJI menyatakan Indonesia masih berstatus Emerging Market, namun kini berada dalam proses pemantauan. 


Evaluasi tersebut dilakukan menyusul masih adanya kekhawatiran terhadap transparansi kepemilikan saham, efektivitas regulasi Bursa Efek Indonesia (BEI), serta kualitas keterbukaan informasi dan likuiditas pasar.

S&P DJI menegaskan bahwa apabila kondisi tersebut terus memburuk, Indonesia dapat dikenakan special measures atau perlakuan khusus dalam klasifikasi indeksnya. Bahkan, jika berbagai persoalan yang menjadi perhatian belum terselesaikan dalam waktu satu tahun sejak kebijakan tersebut diterapkan, status pasar modal Indonesia akan kembali dievaluasi pada tinjauan tahunan berikutnya.

"S&P DJI akan memberikan peringatan lebih keras. Apabila kondisi tersebut memburuk, lembaga ini dapat menerapkan special treatment terhadap efek-efek Indonesia. Jika berbagai persoalan belum terselesaikan selama satu tahun sejak penerapan special measures, status klasifikasi pasar Indonesia akan dievaluasi kembali pada tinjauan tahunan berikutnya," ujar pengumuman S&P DJI.

Masuknya Indonesia ke dalam watchlist menjadi sinyal bahwa kualitas tata kelola pasar modal nasional kini berada di bawah pengawasan lembaga indeks global. Status Emerging Market selama ini menjadi salah satu daya tarik utama bagi investor institusi internasional karena mencerminkan tingkat aksesibilitas, transparansi, dan likuiditas yang relatif lebih baik.

Sebaliknya, apabila Indonesia benar-benar direklasifikasi menjadi Frontier Market, potensi aliran dana asing berisiko tertekan. Banyak pengelola dana global memiliki mandat investasi yang membatasi penempatan dana hanya pada negara dengan status Emerging Market, sehingga perubahan klasifikasi dapat berdampak terhadap arus modal dan likuiditas pasar.

Dalam Country Classification 2027 Watchlist, Indonesia bukan satu-satunya negara yang menjadi perhatian. Turki juga masuk dalam daftar negara yang berpotensi diturunkan menjadi Special Measures/Frontier, sementara Nigeria dipertimbangkan naik kelas dari Standalone menjadi Frontier.

Di tengah sorotan dari S&P DJI tersebut, tekanan terhadap pasar modal Indonesia juga datang dari penyedia indeks global lainnya, MSCI. 

Sehari sebelumnya, MSCI memutuskan membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS) bagi saham-saham Indonesia, sehingga tidak ada penambahan emiten baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI) maupun promosi saham ke kategori kapitalisasi yang lebih besar. 

MSCI juga menegaskan akan terus mengevaluasi dan menghapus saham yang dinilai memiliki tingkat konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC).


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

AXA Mandiri Financial Digugat ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 17:59

Menteri Pigai Keliling SPBU: Hari Ini Distribusi BBM Bali Aman!

Minggu, 18 Oktober 2026 | 17:35

AS Ultimatum Iran: Patuhi Kesepakatan Nuklir atau Hancur

Minggu, 18 Oktober 2026 | 17:26

Bareskrim dan BNN Obok-Obok Kelab Malam, Sembilan Orang Positif Narkoba

Minggu, 18 Oktober 2026 | 17:17

Wali Kota Prancis Dipukuli Warga Israel di Tepi Barat

Minggu, 18 Oktober 2026 | 16:45

Masyarakat Diimbau Tingkatkan Kesadaran dan Partisipasi dalam Pencegahan Karhutla

Minggu, 18 Oktober 2026 | 16:42

Kabut Asap Picu Lonjakan Penjualan Tabung Oksigen dan Air Purifier di Asia Tenggara

Minggu, 18 Oktober 2026 | 16:04

Perlu Sistem Pencegahan Karhutla agar Warga Tak Terus Jadi Korban

Minggu, 18 Oktober 2026 | 15:51

Syarikat Islam Didorong Jadi Kekuatan Besar Ekonomi Umat

Minggu, 18 Oktober 2026 | 15:26

KPK Evaluasi Alasan Nusron Wahid Mangkir Sebelum Terbitkan Surat Perintah Membawa

Minggu, 18 Oktober 2026 | 15:11

Selengkapnya