Berita

Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Foto: Dok PSI)

Politik

Hensat: Belum Apple to Apple Bandingkan PDIP dengan PSI

RABU, 08 JULI 2026 | 09:30 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

PDIP dinilai belum bisa dibandingkan secara langsung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI), meski belakangan muncul safari politik Joko Widodo (Jokowi) dan Gibran Rakabuming Raka yang oleh sebagian pihak dianggap berpotensi menggerus kekuatan partai berlambang banteng tersebut.

Pengamat Politik Hendri Satrio atau Hensat menilai PDIP masih menjadi salah satu partai politik terkuat di Indonesia. Menurutnya, selama ajaran Bung Karno tetap dipelihara, PDIP akan terus memiliki akar ideologis dan basis politik yang kokoh.

"PDIP itu salah satu partai yang kuat, bos. Selama ajaran Bung Karno dipelihara, partai ini akan terus ada," ujar Hensat kepada wartawan, Rabu, 8 Juli 2026.


Founder Lembaga Survei KedaiKOPI itu menegaskan, membandingkan PDIP dengan PSI saat ini belum tepat karena keduanya berada pada level politik yang berbeda.

Ia mengibaratkan PDIP sebagai pemenang Pemilu yang berada di puncak klasemen liga utama, sedangkan PSI masih merupakan partai nonparlemen.

"Belum apple to apple membandingkan PDI Perjuangan dengan PSI. PDI Perjuangan pemuncak klasemen, sementara PSI belum keluar dari zona liga dua," katanya.

"Maksudnya, PDI-P pemenang pemilu, PSI itu masih partai nonparlemen. Jadi masih jauh kalau membandingkan PSI dengan PDI Perjuangan," sambung Hensat.

Meski demikian, Hensat mengingatkan bahwa dinamika politik masih sangat mungkin berubah menjelang Pemilu 2029. Menurutnya, safari politik Jokowi dan Gibran bukan semata terkait hubungan dengan PDIP atau PSI, melainkan bagian dari strategi memperkuat posisi elektoral.

"Peta politik hari ini mungkin akan berubah esok hari atau ke depannya. Namun, nampaknya Jokowi dan Gibran sedang tidak ambil pusing pada posisi mereka dengan Prabowo saat ini, lebih ke memperkuat elektoral saja," ujarnya.

Hensat menilai Jokowi dan Gibran tengah membangun kekuatan melalui pendekatan mikro-politik dengan turun langsung ke masyarakat melalui gaya blusukan yang selama ini menjadi ciri khas Jokowi.

Menurutnya, langkah tersebut bertujuan menjaga sekaligus meningkatkan elektabilitas keduanya agar tetap menjadi kekuatan yang diperhitungkan dalam konstelasi politik nasional.

"Apa tujuannya? Supaya elektabilitas Gibran dan Jokowi naik, dan Prabowo melihat mereka sebagai kekuatan yang perlu digandeng untuk Pilpres 2029," katanya.

Ia menambahkan, apabila Jokowi dan Gibran tidak lagi dipandang sebagai kekuatan politik yang signifikan, Prabowo berpeluang memilih figur lain sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2029.

"Kalau tidak dilihat sebagai kekuatan yang perlu digandeng, Prabowo bisa memilih wakil presiden sesuai yang dia inginkan," ujarnya.

Hensat juga menilai posisi Gibran pada Pilpres 2029 akan menjadi penentu keberlanjutan pengaruh politik keluarga Jokowi.

"Kalau Gibran tidak dipilih oleh Prabowo untuk mendampingi di 2029, maka era Gibran sebagai politisi yang mampu menghipnotis kecerdasan warga negara Indonesia akan berakhir," tuturnya.

"Nah, ini kan tidak diinginkan oleh Jokowi. Dia ingin Gibran terus bersama Kaesang menembus batas di jajaran elite politisi Indonesia," pungkas Hensat.


Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Hari Buruh, Wall Street Libur

Selasa, 08 September 2026 | 08:29

Krakatau Steel Rombak Direksi, Segini Pendapatan KRAS Semester I-2026

Selasa, 08 September 2026 | 08:15

Konflik Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dekati 100 Dolar AS

Selasa, 08 September 2026 | 07:57

OJK Wajibkan Free Float 15 Persen, Tegaskan Transparansi Tanpa Kompromi

Selasa, 08 September 2026 | 07:40

Saat Batu Bara Tertekan, UNTR Makin Mesra dengan Emas

Selasa, 08 September 2026 | 07:21

Anak Krakatau Erupsi, Kursi Bos Krakatau Steel Berganti

Selasa, 08 September 2026 | 07:01

Nellava Group dan Emas Now Pilih Jalur Hukum Hadapi Serangan di Ruang Digital

Selasa, 08 September 2026 | 06:50

Pemerintah Dituntut Siapkan Anggaran dan Kesiapsiagaan Logistik terkait Bencana

Selasa, 08 September 2026 | 06:09

Kewajiban Moral Lindungi Rakyat dari Manipulasi Harga dan Mutu Beras

Selasa, 08 September 2026 | 05:44

Empat Pejabat Kejagung Diduga Terima Rp40 Miliar dari Tan Kian, Ini Tanggapan Kapuspenkum

Selasa, 08 September 2026 | 05:27

Selengkapnya