Berita

Tan Malaka. (Foto: Istimewa)

Publika

Khayal Seorang Revolusioner

RABU, 08 JULI 2026 | 05:15 WIB | OLEH: JIMMY H SIAHAAN

NEGARA China kini melakukan revolusi modern. Hancurnya Revolusi Kebudayaan. Setelah berakhirnya Revolusi Kebudayaan, kepemimpinan beralih kepada Deng Xiaoping. 

Menjelang akhir tahun 1970-an, tepatnya pada tahun 1978, Deng memperkenalkan kebijakan "Reformasi dan Keterbukaan" (Gaiyan Kaifang). Kebijakan ini secara resmi menandai pergeseran dari ekonomi komunis yang tertutup menuju sistem sosialisme dengan karakteristik pasar bebas.

Karena filsafat China adalah perubahan. Orang-orang China melihat perubahan iklim, perubahan cuaca, dan perubahan di dalam segalanya. Alam adalah perubahan itu sendiri, dan perubahan adalah inti dari revolusi, yakni perubahan yang cepat dan mendasar.


Pendapat yang sama dapat ditemukan di dalam pemikiran Herakleitos, filsuf Yunani Kuno. Ia berpendapat, bahwa inti terdasar dari seluruh kenyataan yang ada adalah perubahan. Ia kemudian merumuskan argumen: pantha rei, yang berarti mengalir. Seluruh alam, termasuk manusia, itu terus mengalir dan berubah, tanpa henti.

Revolusi adalah sebentuk perubahan. Bedanya, revolusi adalah perubahan yang disadari, terjadi secara cepat dan mendasar. Reformasi, seperti yang dilakukan di Indonesia sejak 1998, adalah perubahan di permukaan, bagaikan menambal kain yang rusak. 

Ini jelas bukanlah revolusi. Revolusi bagaikan membakar kain yang lama, lalu berusaha menjahit baju yang baru dari kain yang baru dengan teknik yang lebih baik.

Reformasi sebagai harapan menjadi tragis miris. Soal lama KKN  bertumbuh subur.  Menurut Tocqueville, "masa lalu tidak menyuluhi masa depan, sedangkan jiwa tertatih-tatih dalam kegelapan". China konsisten menjalankan Reformasi dan Keterbukaan. Tidak salah jika negara kita tertinggal jauh dibanding China.

Seharusnya seperti dijelaskan oleh Herakleitos dan mayoritas aliran berpikir di dalam filsafat Cina, perubahan itu tak pernah berhenti. Revolusi, juga, tak pernah berhenti. Ia bagaikan air yang menghempas, menantang orang untuk mengubah cara hidupnya. Ia adalah perubahan dengan rencana, walaupun kita tahu pasti, tidak ada rencana yang 100 persen bisa terjadi di kenyataan.

Ketika revolusi sudah dianggap selesai, maka keadaan akan berubah menjadi dogmatis. Revolusi dihentikan atas nama kestabilan. Stabilitas memang amat diperlukan dalam hidup. Namun, stabilitas tidak pernah boleh menjadi situasi aman nyaman yang membunuh kreativitas dan kebaruan. 

Sebaliknya, stabilitas justru harus memungkinkan lahirnya ide-ide baru yang lebih baik. Ia tidak boleh menyembunyikan ketakutan atas kebaruan di baliknya.

Revolusi Kemerdekaan

Bab terakhir dari "Masa Actie" salah satu buku Tan Malaka berjudul  "Khayal Seorang Revolusioner" yang memberi inspirasi WR Supratman. Kata-kata di buku mirip syair "Indonesia Raya". Saat Kongres Pemuda lagu "Indonesia Raya" diperdengarkan dengan biola.

Pakem Tan Malaka adalah melawan kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme harus dengan gerakan massa rakyat yang teratur. Pemuda harus menjadikan dirinya pemimpin dari gerakan massa rakyat itu.

Menurut Maroeto, tokoh kemerdekaan, bila ada organisasi mahasiswa di Hindia Belanda yang harus ditulis dengan tinta emas  dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, maka itu adalah Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI). Motto yang diperjuangkan anggota PPPI adalah "Hidup hanya sekali tetapi kemerdekaan untuk selama-lamanya". 

Sesungguhnya "Sumpah Pemuda" 1928 adalah  juga sebuah revolusi Intelektual dan peristiwa batu loncatan jalannya revolusi.

Saat itu anak-anak muda menggerakkan revolusi. Sjahrir yang dulu dianggap sebagai mentor anak muda mulai dikecam karena keputusannya untuk ambil jalan diplomasi. Soekarno-Hatta sebagai pemimpin yang berusaha untuk menyatukan semua meski situasinya rumit dan berat. Begitu pula Sudirman panglima tinggi yang rendah hati dan berusaha untuk selalu bijak. 

Hanya Tan Malaka mungkin yang paling senior, meyakini kemampuan revolusioner anak muda tapi dianggap sebagai bahaya bagi Republik yang maunya mengambil jalan berunding.

Menatap kisah itu semua kita seperti mengalami situasi persis seperti hari ini. Anak-anak muda yang kehilangan harapan karena perubahan politik yang tak sesuai dengan ‘harapan’. 

Tidak adanya pemimpin yang mampu mewadahi militansi serta kerinduan mereka pada perubahan radikal. Tanpa adanya pemimpin anak-anak muda itu seperti gerombolan yang ditatap dengan sikap awas, diikuti oleh kebijakan yang makin ketat sembari meyakinkan pada mereka baiknya jalan diplomasi. 

Sebuah perjalanan Republik yang tragis: dibangun dengan nyali, dipertahankan dengan darah tapi diteruskan melalui berjalan ditempat, kompromi demi kompromi. Reformasi kita dihentikan dan menjadi tertutup di-peties-kan. Pada hal Revolusi berjalan tanpa henti.

*Penulis adalah Eksponen Gema 77/78


Populer

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Helikopter Pemadam Karhutla BNPB Jatuh di Sungai Barito

Minggu, 08 November 2026 | 14:30

Putin Pastikan Rusia-AS-Ukraina Kembali Berunding Pekan Depan di Abu Dhabi

Minggu, 08 November 2026 | 14:26

Plt Bupati Klaten Dicecar KPK soal Penerimaan Uang Hamenang dan Era Sebelumnya

Minggu, 08 November 2026 | 14:19

Al Aqsha Travel Gelar Akademi Marketing Haji untuk Perkuat Kompetensi Mitra

Minggu, 08 November 2026 | 14:02

Bahlil Ancam Tempuh Jalur Hukum Gegara Namanya Dikaitkan dengan Isu Penyadapan Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 13:47

Gempa 5,7 Magnitudo Guncang Jepang, 20 Orang Terluka

Minggu, 08 November 2026 | 13:42

Penyadapan Presiden Prabowo Biang Kerok Ekonomi Tidak Stabil

Minggu, 08 November 2026 | 13:28

Green Wakaf, Memperluas Manfaat Wakaf untuk Menjaga Kelestarian Alam

Minggu, 08 November 2026 | 13:08

Pengamat: Peran Seskab Teddy Strategis dalam Komunikasi Politik Pemerintah

Minggu, 08 November 2026 | 13:02

AS Siapkan Rp362 Miliar untuk Pembocor Informasi Nuklir Iran

Minggu, 08 November 2026 | 12:40

Selengkapnya