Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Politik

Politik Berbiaya Tinggi dalam Pilkada Harus Segera Diakhiri

RABU, 01 JULI 2026 | 20:26 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Mahkamah Konstitusi baru saja mengeluarkan Putusan Nomor 195/PUU-XXIV/2026 pada Senin 29 Juni 2026 di Jakarta. Putusan ini menegaskan bahwa Pilkada tetap dilaksanakan secara langsung oleh rakyat. 

Direktur Eksekutif Laboratorium Politik Hukum (Labpolhum) MHZ Centre, Muhammad Haris Zulkarnain mendukung pelaksanaan Pilkada tetap dilakukan secara langsung oleh rakyat, hanya saja persoalan kita pada hari ini, kita belum menciptakan sistem Pilkada berbiaya ringan yang dapat diakses siapa saja dan menghasilkan kepala daerah yang berintegritas. 

“Tingginya biaya politik untuk bisa menjabat sebagai kepala daerah, baik itu sebagai gubernur, bupati, hingga wali kota, telah menjadi tekanan dan beban moral bagi siapapun yang menjabat dalam kondisi sekarang untuk bisa mengembalikan modal yang telah dikeluarkan selama kampanye melalui korupsi APBD dan penyalahgunaan kekuasaan,” kata Haris dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Rabu, 1 Juli 2026.


Ia menyebut dalam Riset berjudul “The Price of Power: Membongkar dan Mengatasi Kuasa Uang dalam Pilkada di Indonesia yang disusun oleh LP3ES bekerja sama dengan KITLV Leiden, Universitas Diponegoro, dan Universitas Gadjah Mada memotret secara lebih rinci bagaimana biaya politik bekerja dalam kontestasi Pilkada, mulai dari sumber pendanaan kandidat, pola pengeluaran selama kampanye, hingga berbagai faktor yang menyebabkan biaya politik terus meningkat. 

“Pertanyaan yang diajukan bukan hanya berapa uang yang dikeluarkan seorang kandidat, tetapi juga bagaimana mereka memperoleh dana tersebut, bagaimana dana itu dibelanjakan, dan apa yang dapat dilakukan untuk mengurangi tingginya biaya politik di Indonesia,” ungkapnya. 

Lanjut Haris, dalam survei yang melibatkan 478 calon kepala daerah pada Pilkada 2024, baik kandidat yang menang atau kalah, penelitian menemukan besarnya dana yang dikeluarkan selama proses kontestasi politik. Rata-rata pengeluaran seluruh kandidat tercatat mencapai sekitar Rp20 miliar. 

Sedangkan kandidat yang berhasil memenangkan Pilkada menghabiskan dana rata-rata sebesar Rp. 27,4 miliar. Penelitian juga menemukan bahwa 87,8 persen kandidat mengaku mengeluarkan biaya politik sejak proses pencalonan. Dari keseluruhan pengeluaran, sekitar 41,3 persen pengeluaran digunakan untuk praktik pembelian suara.   

Haris juga mengkritik praktik politik berbiaya tinggi yang sudah lama dibiarkan tanpa adanya perbaikan, sehingga pemerintahan hanya diisi oleh kelompok dinasti politik, status quo, pragmatis, hingga pengusaha. 

“Faktor keterpilihan hanya ditentukan oleh money politic baik untuk menjadi kepala daerah dan Anggota DPRD, mau jadi apa pemerintahan daerah kita kalau terus menerus keterpilihan pejabat publik kalau hanya ditentukan lewat money politics, sementara gagasan, program, profesional, berkapasitas dan berintegritas justru diabaikan?” tegasnya.

“Pilkada pada hari ini berbiaya tinggi yang disebabkan pemberian rekomendasi dukungan partai politik terhadap kandidat yang sarat kepentingan, biaya kampanye, mobilisasi massa, biaya survei, hingga biaya pemenangan. Sehingga kandidat yang ingin mengikuti Pilkada dan ingin terpilih, terpaksa harus berkompromi dengan para bohir, oligarki, pemodal dengan balas budi melalui berbagai proyek yang bersumber dari APBD dan berbagai kebijakan setelah menjabat sebagai kepala daerah,” tambahnya.

Sedangkan Anggota DPRD ketika sudah terpilih, rata-rata mereka menggadaikan SK Jabatan untuk kredit yang peruntukannya macam-macam, mulai dari bayar hutang kampanye, modal usaha, renovasi rumah, beli kendaraan, dan lainnya. Hingga terlibat dalam penyimpangan APBD bersama kepala daerah.

Haris juga mengusulkan agar diterapkan recall election terhadap kepala daerah dan anggota DPR, dimana konstituen atau pemilih dapat memecat dan mencabut mandat kepala daerah  atau anggota parlemen jika dinilai tidak becus bekerja, melanggar janji politik, mengkhianati kepercayaan rakyat, gagal mengelola dapil dan wilayahnya tanpa harus menunggu pemilu selanjutnya. 

“Tercatat ada 10 kepala daerah yang terjaring dalam OTT KPK sebagai akumulasi dari penindakan yang berlangsung selama 2025 hingga 20 Maret 2026, modus dugaan tindak pidana korupsi kerap berulang, dengan pola serupa dan modus yang kerap terjadi seperti suap proyek, pemerasan, jual beli jabatan hingga gratifikasi,” pungkasnya.


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Main di Kandang PSIM, Persija Menang Telak 4-0

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 19:49

Cukai MBDK Mulai Dipungut Semester II/2027, Target Rp1,7 Triliun

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 19:30

DPR Ingatkan Bijak di Ruang Digital dan Cegah Perundungan Siber

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:51

Ekspor Emas Anjlok, Bea Cukai Ungkap Perusahaan Tahan Pengiriman

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:38

Usai Dilantik, Kapolda Metro Jaya Serap Aspirasi Insan Pers

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:49

Pertamina Perkuat Ekosistem MyPertamina di MotoGP Mandalika

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:30

Tegas dan Loyal, Demokrat: Tidak Ada Nama Selain Prabowo untuk Kontestasi 2029

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:36

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

YLBHI Minta Polresta Solo Hentikan Dugaan Kriminalisasi Kasus Perdata jadi Pidana

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 15:36

Pertamina Perkuat Pengelolaan Sampah Mandalika Lewat Dukungan untuk Bank Sampah Putri Nyale

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 15:09

Selengkapnya