Berita

Presiden ke-7 RI, Joko Widodo saat menerima gelar kehormatan dari lima kerajaan adat di Kedaton Keagungan, Bandar Lampung, Sabtu, 27 Juni 2026. (Foto: Istimewa)

Politik

Pengamat Bongkar Blunder Politik Jokowi Usai Turun Gunung ke PSI

MINGGU, 28 JUNI 2026 | 16:40 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Langkah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), yang memilih turun gunung menyokong Partai Solidaritas Indonesia (PSI) terus memantik sorotan tajam. Publik dinilai bakal makin kritis membaca arah manuver mantan penguasa RI-1 tersebut.

Direktur Pusat Riset Politik, Hukum, dan Kebijakan Indonesia (PRPHKI), Saiful Anam menilai, taji Jokowi tidak akan keluar secara maksimal jika hanya "numpang nama" tanpa memegang kendali penuh di PSI.

"Dengan posisi hanya sebagai dewan pembina, pengaruh Jokowi dinilai tidak akan maksimal jika dibandingkan bila ia memegang kendali langsung sebagai ketua umum," ujar Saiful kepada RMOL, Minggu, 28 Juni 2026.


Dalam kalkulasi politik praktis, kata Saiful, posisi simbolis semacam itu jelas tidak akan cukup kuat untuk menggebrak dan menggerakkan mesin partai secara signifikan di lapangan.

"Maka wajar jika muncul anggapan bahwa peran tersebut terlalu kecil untuk figur sekelas Jokowi yang pernah berada di puncak kekuasaan nasional," cetusnya.

Lebih lanjut, Saiful melihat langkah turun gunung yang dilakoni Jokowi belakangan ini justru berpotensi memicu mosi tidak percaya di tengah masyarakat, terlebih jika manuver tersebut miskin substansi dan target politik yang jelas.

"Di titik ini, muncul kesan bahwa langkah 'turun gunung' ini setengah hati. Terlalu besar jika hanya untuk peran simbolik, namun juga terlalu kabur jika tidak disertai tujuan politik yang jelas," urai Saiful.

Ia mengingatkan, pemilih hari ini sudah semakin cerdas dan tidak lagi mempan disuapi narasi-narasi normatif. Publik menuntut transparansi arah politik pasca-istana.

"Tanpa itu, setiap langkah politik (Jokowi) akan selalu dibaca sebagai bagian dari agenda tersembunyi, bukan pengabdian murni," tegasnya.

Efek domino dari manuver ini, menurut Saiful, tidak hanya akan menggerus reputasi personal Jokowi semata, melainkan juga bakal merusak preseden dan standar etika politik pasca-kekuasaan di tanah air.

Sebagai figur yang pernah memimpin negara, Jokowi harusnya mampu memberikan impresi yang anggun dan berwibawa saat melepaskan takhta kekuasaan, bukan justru terkesan enggan menjauh dari pusaran instabilitas partai.

"Seorang mantan presiden seharusnya mampu menunjukkan keteladanan dalam melepaskan kekuasaan secara elegan, bukan justru terus berada di orbitnya tanpa kejelasan peran," sindir Saiful.

"Jika tidak, maka publik akan terus mempertanyakan: ini tentang negara, atau sekadar perpanjangan pengaruh?" pungkasnya.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Ramos-Horta Puji Toleransi dan Ketangguhan Rakyat Indonesia

Jumat, 28 Agustus 2026 | 22:17

Polisi Konfirmasi Korban Tewas saat Demo DPR Seorang Pedagang Cermin

Jumat, 28 Agustus 2026 | 22:10

Aturan Turunan UU DKJ Harus Rampung Sebelum Keppres IKN Terbit

Jumat, 28 Agustus 2026 | 22:09

Astra Sudah Jangkau 35.726 Warga Lewat 7 Posko Gempa NTT

Jumat, 28 Agustus 2026 | 22:04

Penanganan Karhutla di Riau Jadi Contoh yang Baik

Jumat, 28 Agustus 2026 | 22:01

Budi Arie Pasang Badan Cuci Nama Jokowi

Jumat, 28 Agustus 2026 | 22:00

Peluncuran Wajah Baru RS Tria Dipa, Hadirkan Teknologi Medis Teranyar

Jumat, 28 Agustus 2026 | 21:57

BI: Daripada Kredit, Mayoritas Bank Parkir Likuiditas di Surat Berharga

Jumat, 28 Agustus 2026 | 21:51

LPJ Diterima, Gus Yahya Akui Tak Sempurna Pimpin PBNU

Jumat, 28 Agustus 2026 | 21:51

Pengusutan Dugaan Korupsi di Pemkab Bogor Merembet ke Dinas Pendidikan

Jumat, 28 Agustus 2026 | 21:50

Selengkapnya