Berita

CEO Citi Indonesia Batara Sianturi. (Foto: RMOL/Alifia)

Bisnis

Bank Lokal Tumbuh Pesat, Citi Pilih Tinggalkan Bisnis Ritel Global

SABTU, 08 AGUSTUS 2026 | 21:38 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Citibank kembali mengungkapkan alasan di balik keputusan melepas bisnis perbankan konsumen (consumer banking) di sejumlah negara. 

CEO Citi Indonesia Batara Sianturi mengatakan keputusan tersebut berkaitan dengan pertumbuhan pangsa pasar bank lokal di berbagai negara. Kondisi itu membuat ruang bagi bank global untuk mengembangkan bisnis ritel secara besar-besaran semakin terbatas.

“Banyak orang bertanya-tanya mengapa Citi keluar dari bisnis perbankan konsumen di total 60 negara, alasannya sangat sederhana, meskipun terkadang orang tidak memahaminya. Alasannya adalah pangsa pasar,” ujarnya dalam diskusi dan peluncuran buku "Bankir, Growing with Purpose" di Jakarta pada Sabtu, 8 Agustus 2026.


“Tidak ada lagi yang namanya perbankan ritel global, karena bank-bank lokal sudah tumbuh sangat besar,” sambungnya.

Ia mencontohkan, bank global hanya dapat mengembangkan bisnis ritel secara optimal di negara asalnya. Citi, misalnya, memiliki ruang untuk menjadi besar melalui bisnis perbankan ritelnya di Amerika Serikat (AS).

“Jadi, satu-satunya tempat Anda bisa mengembangkan bisnis perbankan konsumen atau ritel secara besar-besaran hanyalah di negara asal Anda. Citi hanya bisa sebesar bisnis ritelnya di Amerika. JP Morgan pun demikian,” tuturnya.

Hal yang sama juga berlaku bagi Bank of America maupun Bank Mandiri yang disebut memiliki basis pasar domestik yang kuat.

“Bank of America juga sama. Bank Mandiri pun sama, hanya bisa besar di Indonesia,” lanjut Batara.

Karena itu, Citi kata Batara kini memilih memusatkan sumber dayanya pada bisnis investment banking, corporate banking, dan commercial banking.

“Saya berbicara mengenai perbankan ritel. Jadi, tidak ada yang namanya perbankan ritel global, karena hal itu sangat rumit,” tegasnya.

Selain persoalan persaingan dan pangsa pasar, operasional perbankan ritel lintas negara juga disebut menghadapi kompleksitas regulasi. 

Pasalnya, setiap negara memiliki regulator dan ketentuan yang berbeda, sehingga bank global harus menyesuaikan sistem dan operasionalnya dengan aturan di masing-masing yurisdiksi.

“Anda harus berurusan dengan banyak regulator. Jika Anda seorang kepala bidang teknologi, Anda harus mematuhi berbagai aturan kepatuhan. Oleh karena itu, fokus bank-bank global kini beralih ke perbankan institusional,” jelas Batara.

Ia menilai perubahan strategi tersebut juga membuat model bisnis Citi menjadi lebih sederhana. Kesederhanaan itu pada akhirnya dinilai memudahkan investor maupun analis dalam memahami dan menilai kinerja perusahaan.

“Itulah fokus utamanya. Ketika model bisnis Citi menjadi lebih sederhana, analis pun lebih mudah melakukan analisis. Dulu, sangat sulit bagi analis AS untuk memprediksi harga saham Citi,” kata Batara.

Ia menambahkan, penyederhanaan model bisnis tersebut turut tercermin dalam pergerakan saham Citi dalam beberapa tahun terakhir.

“Berkat perubahan ini, dalam tiga tahun terakhir, harga saham kami telah bergerak dari 40 Dolar AS menjadi 140 Dolar AS. Anda bisa memeriksanya di Google. Karena Citi itu mudah dianalisis,” pungkasnya.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Hari Buruh, Wall Street Libur

Selasa, 08 September 2026 | 08:29

Krakatau Steel Rombak Direksi, Segini Pendapatan KRAS Semester I-2026

Selasa, 08 September 2026 | 08:15

Konflik Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dekati 100 Dolar AS

Selasa, 08 September 2026 | 07:57

OJK Wajibkan Free Float 15 Persen, Tegaskan Transparansi Tanpa Kompromi

Selasa, 08 September 2026 | 07:40

Saat Batu Bara Tertekan, UNTR Makin Mesra dengan Emas

Selasa, 08 September 2026 | 07:21

Anak Krakatau Erupsi, Kursi Bos Krakatau Steel Berganti

Selasa, 08 September 2026 | 07:01

Nellava Group dan Emas Now Pilih Jalur Hukum Hadapi Serangan di Ruang Digital

Selasa, 08 September 2026 | 06:50

Pemerintah Dituntut Siapkan Anggaran dan Kesiapsiagaan Logistik terkait Bencana

Selasa, 08 September 2026 | 06:09

Kewajiban Moral Lindungi Rakyat dari Manipulasi Harga dan Mutu Beras

Selasa, 08 September 2026 | 05:44

Empat Pejabat Kejagung Diduga Terima Rp40 Miliar dari Tan Kian, Ini Tanggapan Kapuspenkum

Selasa, 08 September 2026 | 05:27

Selengkapnya