Berita

Mantan Presiden Joko Widodo. (Foto: istimewa)

Politik

Safari Politik Jokowi Diprediksi Berdampak Negatif ke Perekonomian

MINGGU, 28 JUNI 2026 | 13:16 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Safari politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) keliling Indonesia, diperkirakan akan berdampak buruk pada perekonomian nasional, di tengah kondisi geopolitik yang juga masih belum menentu.

Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J Rachbini menuturkan, safari politik Jokowi tidak dilihat sekadar manuver politik, namun juga berpengaruh terhadap ekonomi.

"Safari Politik Jokowi politik keliling Indonesia sudah dimulai dari lampung dan akan terus berkeliling ke seluruh nusantara dengan memainkan panggung politik baru di tengah tekanan nilai tukar dan pasar modal di dalam ekonomi nasional," ujar dia kepada Kantor Berita Politik dan Ekonomi RMOL, Minggu, 28 Juni 2026.


Menurutnya, Jokowi kini jelas telah menancapkan layar politik yang dalam analisa politik akan membawa konsekuensi pada Pemilu tahun 2029. 

"Tetapi karena Jokowi masih mempunyai pengaruh cukup kuat di dalam pemerintahan, maka konsekuensinya akan terlihat pula terhadap perkembangan ekonomi pada saat krisis saat ini," tuturnya.

Lebih dari itu, pakar ekonomi senior dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) ini teringat janji Jokowi pasca pensiun sebagai Presiden dua periode. Dimana, ketika pulang kampung ke Solo akan menjadi rakyat biasa, dan berkumpul dengan cucu.

Namun faktanya, Prof. Didik justru memandang safari politik Jokowi ke seluruh Indonesia akan berpengaruh pada stabilitas politik pemerintah, yang dalam hal ini akan menjadi terpecah fokus untuk memastikan perekonomian nasional menjadi tumbuh positif sesuai target Presiden Prabowo Subianto sebesar 7-8 persen.

"Dalam perspektif ekonomi politik (political economy), pelemahan hubungan antara Presiden dengan mantan-mantan Presiden yang masih memiliki pengaruh politik kuat, akan menjadi faktor penentu politik selanjutnya dan pasti berpengaruh terhadap ekonomi," tuturnya. 

"Saya pastikan pengaruh tersebut negatif, buruk dan akan menjadi faktor ketidakpasatian politik bagi investasi, dunia usaha dan lingkungan bisnis," demikian Prof. Didik menambahkan.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

Hak Angket Ijazah Gibran Sudah Masuk Angin

Senin, 26 Oktober 2026 | 10:04

UPDATE

Kuota Batu Bara Turun, Laba Bisnis Tambang Astra Tergerus 28 Persen

Kamis, 29 Oktober 2026 | 14:33

Denny Indrayana Walk Out dari Sidang Gugatan Ijazah Gibran

Kamis, 29 Oktober 2026 | 14:17

Laba Otomotif Astra Naik 8 Persen

Kamis, 29 Oktober 2026 | 14:13

Maroko Kembangkan Pelabuhan Raksasa Berkapasitas 20 Juta Kontainer

Kamis, 29 Oktober 2026 | 14:11

Lewat Program Pelita, AHY Ajak Warga Manfaatkan Energi Surya

Kamis, 29 Oktober 2026 | 14:10

Normalisasi Sungai di Jakarta Dikebut Jelang Musim Hujan

Kamis, 29 Oktober 2026 | 14:02

Laba Astra Tergerus 12 Persen, Ini Penyebabnya

Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:58

Raja Juli Batal Bahas Karhutla di DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:43

Film Laut Bercerita Resmi Tayang di Bioskop Indonesia

Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:20

BGN Perluas MBG Prasmanan, Sasar 5.000-10.000 Dapur hingga Akhir Tahun

Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:19

Selengkapnya