Berita

Ilustrasi Selat Hormuz (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube ABC News)

Dunia

AS Serang Target Militer Iran, Balas Serangan Drone terhadap Kapal Kargo di Selat Hormuz

SABTU, 27 JUNI 2026 | 09:21 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer Iran di sekitar Selat Hormuz pada Jumat 26 Juni 2026, waktu setempat.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa serangan tersebut menyasar fasilitas penyimpanan rudal dan drone milik Iran, serta sejumlah radar pantai. Dikatakan bahwa serangan tersebut sebagai balasan atas serangan pesawat nirawak (drone) Iran terhadap sebuah kapal kargo sehari sebelumnya.

"Pesawat AS menyerang lokasi penyimpanan rudal dan drone Iran serta situs radar pantai. Agresi yang tidak beralasan terhadap pelayaran komersial oleh pasukan Iran jelas melanggar gencatan senjata," kata CENTCOM, dikutip Sabtu 27 Juni 2026.


Seorang pejabat AS mengatakan kepada CNN bahwa operasi ini bukan pertanda dimulainya kembali perang berskala besar. Untuk saat ini, serangan tersebut disebut sebagai respons terbatas atas insiden yang terjadi di Selat Hormuz.

Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah menyerang posisi militer AS di kawasan sebagai balasan atas serangan tersebut. Namun, hingga kini militer AS belum mengonfirmasi klaim tersebut.

Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan bahwa Washington akan membalas setiap aksi kekerasan yang dilakukan Iran. Menurutnya, Iran telah menyepakati gencatan senjata sehingga setiap perselisihan seharusnya diselesaikan melalui jalur diplomatik.

"Iran telah menandatangani perjanjian gencatan senjata. Kami telah menghormatinya. Jika mereka memiliki perbedaan pendapat mengenai pelaksanaannya, mereka dapat menghubungi kami. Tetapi kekerasan akan dibalas dengan kekerasan," tulis Vance di media sosial X.

Sebelumnya, Presiden Donald Trump menyebut serangan drone Iran terhadap kapal kargo sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.

"Republik Islam Iran menembakkan setidaknya empat drone serang ke kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Salah satunya menghantam dek atas sebuah kapal kargo besar. Kerusakan memang terjadi, tetapi kapal tersebut masih dapat melanjutkan pelayarannya. Tiga drone lainnya berhasil kami tembak jatuh. Jelas, ini adalah pelanggaran bodoh terhadap perjanjian gencatan senjata," tulis Trump di Truth Social.

Saat ditanya apakah Iran akan menghadapi konsekuensi atas serangan tersebut, Trump hanya menjawab singkat, "Anda akan mengetahuinya." Beberapa jam kemudian, jawaban itu terwujud melalui serangan militer AS terhadap target-target Iran.

Trump juga mengakui bahwa Iran masih memiliki kemampuan militer meski telah berbulan-bulan berkonflik dengan AS.

"Mereka masih memiliki kemampuan. Memang tidak banyak, tetapi mereka masih bisa menembak. Serangan terhadap kapal itu tidak seharusnya terjadi," ujar Trump.

Serangan drone Iran terhadap kapal kargo terjadi di tengah upaya kedua negara mempertahankan gencatan senjata dan membuka kembali lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Kapal tersebut dilaporkan mengalami kerusakan pada bagian anjungan setelah dihantam proyektil, namun tidak menimbulkan korban jiwa maupun pencemaran lingkungan.

Insiden ini menjadi ujian pertama bagi kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran, sekaligus meningkatkan kembali ketegangan di salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Kodam XII/Tanjungpura Geser Pasukan Atasi Karhutla ke Selatan Kalbar

Sabtu, 19 September 2026 | 05:09

Ketika Politik Uang Dianggap Wajar

Sabtu, 19 September 2026 | 04:45

Profesor Webster University: Pimpinan Negara Barat Harus Contoh Prabowonomics

Sabtu, 19 September 2026 | 04:16

Ekosistem Pengolahan Ikan Skala Mikro dan Kecil Terus Diperkuat

Sabtu, 19 September 2026 | 03:45

Fapet IPB University Hasilkan Inovasi Songsong Komersialisasi Ayam Lokal

Sabtu, 19 September 2026 | 03:13

Kejati Sumut Didesak Usut Tuntas Kasus Lahan Tol Medan-Binjai

Sabtu, 19 September 2026 | 02:45

Ketika Polemik Ijazah Berubah jadi Komoditas Politik

Sabtu, 19 September 2026 | 02:17

Tim Hukum UIN Jakarta Datangi Kejati Banten Usut Korupsi Eks Rektor

Sabtu, 19 September 2026 | 01:50

Humanika Harus Bantu Presiden Bawa Keluar RI dari Middle Income Trap

Sabtu, 19 September 2026 | 01:26

Konstruksi Waktu Dugaan TPPU dan Pemerasan Kasus Febrie Tidak Sinkron

Sabtu, 19 September 2026 | 01:02

Selengkapnya