Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Dunia

Iran Siap Lanjutkan Kesepakatan dengan AS, Asal Israel Hentikan Serangan di Lebanon

SABTU, 20 JUNI 2026 | 09:01 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Iran menyatakan siap melanjutkan proses diplomatik dengan Amerika Serikat (AS), tetapi menegaskan bahwa Israel harus menghentikan serangan militernya di Lebanon agar kesepakatan yang telah disepakati dapat berjalan.

Pernyataan itu disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera pada Jumat, 19 Juni 2026. Ia mengatakan Teheran tetap berkomitmen melanjutkan pembicaraan dengan Washington apabila AS menunjukkan keseriusan dalam menjalankan isi nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU).

"Kami siap untuk melangkah maju selangkah demi selangkah, jika pihak lain menunjukkan keseriusan yang sama," kata Khatibzadeh.


Pernyataan tersebut muncul setelah rencana pertemuan antara AS dan Iran di Swiss pada Jumat dibatalkan. Wakil Presiden AS JD Vance juga membatalkan agenda perjalanannya ke negara tersebut.

Sebelumnya, mediator dari Pakistan dan Qatar menyebut kedua negara dijadwalkan bertemu di Burgenstock, Swiss, untuk memulai pembahasan sejumlah isu yang tercantum dalam MoU yang ditandatangani pekan ini.

Namun, perundingan itu diduga tertunda akibat kembali memanasnya pertempuran antara Israel dan Hizbullah di Lebanon selatan. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 47 orang tewas akibat serangan Israel sejak tengah malam pada Jumat.

Dalam wawancara tersebut, Khatibzadeh mengecam operasi militer Israel di Lebanon. Menurutnya, perang yang terus berlangsung berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.

"Perang yang terus berlanjut akan membawa konsekuensi serius dan langsung," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Iran terus berupaya mendorong terciptanya perdamaian di seluruh kawasan, termasuk di Gaza. Karena itu, Lebanon dimasukkan ke dalam nota kesepahaman karena konflik di negara tersebut berkaitan langsung dengan situasi yang lebih luas di Timur Tengah.

Khatibzadeh menjelaskan bahwa pasal pertama MoU secara tegas menyebut penghentian perang di Lebanon sebagai bagian penting dari upaya menciptakan gencatan senjata secara menyeluruh di kawasan.

"Tidak akan ada perdamaian atau stabilitas di Lebanon dan kawasan ini tanpa mengakhiri pendudukan dan komitmen Israel terhadap hukum internasional," tegasnya.

Iran juga memastikan akan tetap menjaga kelancaran pelayaran di Selat Hormuz dengan berkoordinasi bersama Oman dan mengikuti ketentuan hukum internasional. Teheran menyatakan tidak akan mengenakan biaya lintas kapal selama periode 60 hari yang tercantum dalam kesepakatan.

Meski demikian, Iran mengatakan mekanisme baru untuk mengelola jalur pelayaran strategis tersebut akan diperkenalkan setelah masa 60 hari berakhir dan akan dipresentasikan kepada negara-negara di kawasan.

Selain itu, Khatibzadeh menegaskan bahwa setiap kesepakatan di masa depan harus mencakup pencairan seluruh dana Iran yang selama ini dibekukan.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan konsultasi terkait kesepakatan dengan AS masih berlangsung melalui para mediator. Menurutnya, pengumuman resmi akan disampaikan apabila seluruh persyaratan untuk memulai negosiasi telah terpenuhi.

Di sisi lain, seorang pejabat Hizbullah mengatakan gencatan senjata di Lebanon dapat berjalan apabila Israel benar-benar mematuhinya. Duta Besar Israel untuk AS, Yechiel Leiter, juga menyatakan negaranya tetap berkomitmen untuk menghentikan konflik.

"Israel tetap berkomitmen penuh pada gencatan senjata segera. Jika Hizbullah menghormati perjanjian dan menghentikan permusuhannya, mereka akan disambut dengan ketenangan," tulis Leiter melalui platform X.



Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Jokowi Dalangi Operasi Politik Pertahankan Wapres Gibran

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:14

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Pejabat BNPB juga Korupsi Pengadaan HT Penanganan Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:37

Status MSCI Bukan Tanda Kiamat

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:21

Penguatan Ekosistem Dagang RI Didorong Tembus 5 Besar Ekonomi Dunia

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:06

Mengenal Ahmad Luthfi Auditor BPK yang Minta Jatah Rp600 Juta

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:37

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia, Polri Sampaikan Duka Cita

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:17

MSCI Pertanyakan Pasar RI, BEI Harus Buktikan Pengawasan Bekerja

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:06

Fahira: Mimpi dan Cita-cita Tak Boleh Dibatasi Kondisi Ekonomi

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:35

Polisi Tembak Polisi di Markas Ditpolairud Pondok Cabe, Pelaku Ditahan

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:15

Selengkapnya