Berita

Aktivitas di SPPG Dramaga Ciherang. (Foto: RMOL/Abdul Rouf Ade Segun)

Publika

Ternyata Benar, yang "Kelaparan" MBG Bukan Anak-anak

JUMAT, 19 JUNI 2026 | 05:26 WIB

AKHIRNYA sebuah teori yang selama ini hidup liar di warung kopi, kolom komentar Facebook, grup WA ormas, dan tongkrongan ronda mendapat pembuktian nyaris ilmiah. Yang kelaparan bukan anak-anak sekolah, melainkan para penguasa SPPG. 

Ketika program MBG dihentikan sementara selama libur sekolah, yang pertama kali terdengar berteriak ternyata bukan anak-anak. Bukan siswa SD yang kehilangan ayam goreng. Bukan murid SMP yang kehilangan susu kotak. Bukan pula orang tua yang khawatir anaknya kurang gizi. Yang paling keras suaranya justru para pengusaha dapur MBG.

Seketika publik merasa seperti menemukan plot twist drama BGN. Selama ini banyak orang mengira yang paling bergantung pada program tersebut adalah murid sekolah. Ternyata ketika dapur berhenti mengepul. Yang muncul lebih dulu ke permukaan bukan antrean siswa, melainkan konferensi pers.


Gabungan Pengusaha Makan Bergizi Indonesia (GAPEMBI) secara tegas menolak Surat Edaran Badan Gizi Nasional Nomor 12 Tahun 2026 yang mengatur penghentian sementara MBG selama masa libur sekolah.

Ketua DPP GAPEMBI, Alven Stony menjelaskan, surat edaran tersebut bertentangan dengan SK Kepala BGN Nomor 401.1 Tahun 2025 dan berpotensi menimbulkan persoalan hukum.

Penjelasannya lengkap. Ada SK, juknis, adendum, PKS, PTUN, dan ada ada hukum tata negara. Saking lengkapnya, rakyat yang awalnya ingin membahas nasi kotak mendadak merasa sedang mengikuti kuliah hukum administrasi negara semester tujuh.

Menurut GAPEMBI, penolakan ini bukan soal bisnis. Bukan soal keuntungan. Bukan soal uang. Murni demi tata kelola kebijakan publik yang baik.

Kalimat itu terdengar sangat mulia. Sama mulianya seperti pedagang bakso mengatakan dirinya berjualan bukan demi laba, melainkan demi menjaga kelestarian budaya kuah nasional.

Namun yang membuat kisah ini semakin epik adalah situasi di luar sana. Di saat GAPEMBI berjuang mempertahankan keberlangsungan program, mahasiswa masih turun ke jalan dengan tuntutan yang berbeda. Mereka meminta program MBG dihentikan.

Di Mahkamah Konstitusi (MK), koalisi masyarakat sipil menggugat penggunaan anggaran pendidikan untuk MBG. Sementara dari Senayan muncul suara lain lagi. Dalam rapat bersama BGN, berkembang kesepakatan untuk melakukan moratorium pembangunan dapur MBG dan evaluasi total terhadap pelaksanaannya.

Akibatnya, republik ini berubah menjadi arena pertarungan yang lebih rumit dari alur film multiverse. Mahasiswa menarik ke kiri. Pengusaha dapur menarik ke kanan. Aktivis menggugat ke MK. DPR meminta evaluasi.

Sementara anak-anak yang namanya selalu disebut dalam perdebatan itu mungkin sedang sibuk bermain bola, layangan, atau rebahan menikmati libur sekolah.

Lalu ada satu fenomena lain yang diam-diam diperhatikan publik. Pasca ditangkapknya gerombolan Dadan Hindayana cs oleh Kejagung, anehnya kabar keracunan massal di sekolah mendadak sepi, bahkan nihil. 

Dulu berita keracunan muncul bergelombang seperti serial mingguan. Kini suasananya mendadak sunyi. Seakan-akan bakteri nasional ikut terkena kebijakan efisiensi anggaran. Tentu saja ini hanyalah pengamatan publik yang berkembang di ruang percakapan masyarakat. Namun tetap saja membuat banyak orang mengangkat alis. 

Pada akhirnya, drama MBG telah melahirkan pelajaran berharga. Dalam setiap program negara, sering kali yang paling ribut bukan pihak yang namanya selalu disebut. Ketika MBG berhenti sementara, tidak terdengar gelombang demonstrasi anak SD mengepung istana sambil membawa spanduk "Kami Lapar".

Yang justru muncul adalah perdebatan kontrak, juknis, regulasi, dan potensi gugatan hukum. Maka publik pun kembali berbisik pelan, "Jadi benar dong, yang benar-benar kelaparan selama ini bukan anak-anak." Dari kejauhan, suara kompor yang tak lagi menyala terdengar seperti sedang mengonfirmasi dugaan tersebut.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Jokowi Dalangi Operasi Politik Pertahankan Wapres Gibran

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:14

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Pejabat BNPB juga Korupsi Pengadaan HT Penanganan Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:37

Status MSCI Bukan Tanda Kiamat

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:21

Penguatan Ekosistem Dagang RI Didorong Tembus 5 Besar Ekonomi Dunia

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:06

Mengenal Ahmad Luthfi Auditor BPK yang Minta Jatah Rp600 Juta

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:37

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia, Polri Sampaikan Duka Cita

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:17

MSCI Pertanyakan Pasar RI, BEI Harus Buktikan Pengawasan Bekerja

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:06

Fahira: Mimpi dan Cita-cita Tak Boleh Dibatasi Kondisi Ekonomi

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:35

Polisi Tembak Polisi di Markas Ditpolairud Pondok Cabe, Pelaku Ditahan

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:15

Selengkapnya