Berita

Anggota Komisi XI DPR Kamrussamad. (Foto: Istimewa)

Politik

Rupiah Tak Bisa Kuat hanya dengan Kebijakan Moneter

JUMAT, 19 JUNI 2026 | 00:00 WIB | LAPORAN: SARAH ALIFIA SURYADI

Penguatan nilai tukar rupiah tidak cukup ditempuh melalui kebijakan moneter jangka pendek. 

Anggota Komisi XI DPR Kamrussamad mendorong pemerintah membenahi struktur ekonomi nasional dengan memperkuat sektor manufaktur, mendorong hilirisasi industri, serta memperluas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional agar ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat terus berkurang.

"Indonesia telah memilih rupiah sebagai mata uang nasional. Tantangannya sekarang adalah bagaimana menjaga stabilitas dan memperkuat nilai tukarnya di tengah dinamika ekonomi global," kata Kamrussamad di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis 18 Juni 2026.


Menurutnya, tren pelemahan rupiah terhadap dolar AS dalam dua dekade terakhir bukan hanya dipengaruhi faktor eksternal, tetapi juga menunjukkan perlunya pembenahan struktur ekonomi nasional yang selama ini masih bertumpu pada konsumsi rumah tangga.

Karena itu, Kamrussamad menilai kontribusi sektor industri manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) harus terus ditingkatkan agar pertumbuhan ekonomi memiliki fondasi yang lebih kuat.

"Kalau industri manufaktur berkembang, maka penciptaan lapangan kerja formal juga akan meningkat secara signifikan. Ini yang akan memperkuat daya tahan ekonomi nasional," kata Kamrussamad  

Ia menambahkan, kebijakan hilirisasi sumber daya alam, penguatan sektor energi, ketahanan pangan, pertanian, dan perikanan perlu terus didorong untuk meningkatkan nilai tambah komoditas ekspor Indonesia.

Selain itu, Kamrussamad mendorong pemerintah memperluas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional melalui kerja sama bilateral maupun regional, termasuk dengan Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan.

"Secara bertahap kita harus memperbesar penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada satu mata uang saja," pungkas Kamrussamad.

Populer

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Helikopter Pemadam Karhutla BNPB Jatuh di Sungai Barito

Minggu, 08 November 2026 | 14:30

Putin Pastikan Rusia-AS-Ukraina Kembali Berunding Pekan Depan di Abu Dhabi

Minggu, 08 November 2026 | 14:26

Plt Bupati Klaten Dicecar KPK soal Penerimaan Uang Hamenang dan Era Sebelumnya

Minggu, 08 November 2026 | 14:19

Al Aqsha Travel Gelar Akademi Marketing Haji untuk Perkuat Kompetensi Mitra

Minggu, 08 November 2026 | 14:02

Bahlil Ancam Tempuh Jalur Hukum Gegara Namanya Dikaitkan dengan Isu Penyadapan Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 13:47

Gempa 5,7 Magnitudo Guncang Jepang, 20 Orang Terluka

Minggu, 08 November 2026 | 13:42

Penyadapan Presiden Prabowo Biang Kerok Ekonomi Tidak Stabil

Minggu, 08 November 2026 | 13:28

Green Wakaf, Memperluas Manfaat Wakaf untuk Menjaga Kelestarian Alam

Minggu, 08 November 2026 | 13:08

Pengamat: Peran Seskab Teddy Strategis dalam Komunikasi Politik Pemerintah

Minggu, 08 November 2026 | 13:02

AS Siapkan Rp362 Miliar untuk Pembocor Informasi Nuklir Iran

Minggu, 08 November 2026 | 12:40

Selengkapnya