SEJARAH pergerakan Indonesia sesungguhnya tidak pernah dibangun oleh kemewahan. Ia tidak lahir dari ruang-ruang nyaman milik kaum elite, melainkan tumbuh dari kegelisahan anak-anak muda yang menyaksikan langsung bagaimana rakyat menghadapi kesulitan hidup.
Karena itu, ketika nama Tiyo Ardianto muncul ke ruang publik sebagai seorang mahasiswa yang berani mengkritik kebijakan pemerintah tidak pro kerakyatan, sesungguhnya kita sedang melihat sebuah pola lama yang terus berulang dalam sejarah Indonesia.
Tiyo bukan anak konglomerat. Ia bukan pula keturunan pejabat yang memiliki akses terhadap pusat kekuasaan. Ia dikenal sebagai anak keluarga biasa yang berhasil menembus bangku kuliah di Universitas Gadjah Mada, sebuah pencapaian yang bagi banyak keluarga desa bukan sekadar soal pendidikan, tetapi juga simbol perjuangan sosial.
Dari titik inilah perjalanan Tiyo menjadi menarik. Ia hadir di tengah iklim politik yang semakin kompleks, ketika kritik terhadap pemerintah sering kali langsung dibaca sebagai keberpihakan politik tertentu. Akibatnya, ruang diskusi yang seharusnya dipenuhi argumentasi sering berubah menjadi arena saling menyerang.
Tidak mengherankan jika setiap pernyataan yang disampaikan Tiyo kemudian mengundang reaksi keras. Ia dipuji oleh sebagian kalangan karena keberaniannya, namun pada saat sama dihujat oleh pihak lain yang menganggap kritik tersebut berlebihan atau tidak tepat.
Namun sebelum terlalu jauh menilai Tiyo, mungkin kita perlu jujur melihat sejarah pergerakan Indonesia secara lebih utuh. Banyak tokoh aktivis yang hari ini dikenang sebagai bagian penting perjalanan bangsa justru berasal dari keluarga sederhana dan tumbuh di lingkungan rakyat biasa. Mereka bukan produk kemapanan, melainkan produk pergulatan sosial.
Generasi 1966 misalnya, melahirkan sejumlah nama besar seperti Cosmas Batubara, Soe Hok Gie, Taufiq Ismail, serta lainnya. Mereka muncul ketika Indonesia sedang berada dalam pusaran krisis politik dan ekonomi yang besar.
Apa yang membuat nama mereka bertahan bukan semata keberhasilan politik, tetapi keberanian mereka menyuarakan kegelisahan zamannya.
Demikian pula pada masa Peristiwa Malari 1974. Nama Hariman Siregar menjadi simbol perlawanan mahasiswa terhadap berbagai persoalan pembangunan dan ketimpangan sosial yang berkembang saat itu.
Terlepas dari perdebatan mengenai peristiwa tersebut, sejarah mencatat bahwa keberanian berbicara sering kali datang dari mereka yang merasa dekat dengan realitas kehidupan rakyat.
Lalu datang gelombang Reformasi 1998. Generasi ini melahirkan tokoh-tokoh seperti Budiman Sudjatmiko, Wiji Thukul, Syahrul Munir hingga banyak nama lain yang mungkin tidak tercatat secara luas dalam buku sejarah tetapi menjadi bagian penting dari gerakan perubahan.
Sebagian nama tetap hidup dalam memori kolektif bangsa. Dan sebagian lagi memilih tenggelam bersama pergantian zaman. Namun semuanya memiliki satu kesamaan yaitu mereka berangkat dari keyakinan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan suara rakyat.
Karena itu, kemunculan Tiyo sesungguhnya tidak berdiri dalam ruang kosong. Ia merupakan bagian dari tradisi panjang anak-anak rakyat yang memasuki kampus, menyerap ilmu pengetahuan, lalu menggunakan ruang intelektual tersebut untuk menyampaikan kritik terhadap keadaan sosial yang mereka lihat.
Yang membedakan Tiyo dengan generasi sebelumnya adalah medan tempurnya. Aktivis 1966 bergerak melalui mimbar bebas dan surat kabar. Aktivis Malari bergerak melalui konsolidasi organisasi mahasiswa. Aktivis Reformasi 1998 bertarung di jalan-jalan dan gedung parlemen. Sementara generasi Tiyo bergerak di era media sosial, ketika setiap kata dapat direkam, dipotong, disebarkan, dan diperdebatkan dalam hitungan detik.
Di era digital, hujatan sering kali datang lebih cepat daripada pemahaman. Banyak orang bereaksi terhadap potongan pernyataan tanpa membaca konteks utuhnya. Akibatnya, seorang aktivis tidak hanya berhadapan dengan kekuasaan atau kebijakan yang dikritiknya, tetapi juga harus menghadapi gelombang opini yang terbentuk secara masif di ruang digital.
Fenomena inilah yang membuat Tiyo menjadi simbol menarik. Ia tidak hanya mengguncang kebijakan yang dianggap kurang berpihak kepada rakyat, tetapi juga mengguncang pakem lama pergerakan kampus yang selama ini diwariskan oleh generasi sebelumnya.
Ia menunjukkan bahwa generasi baru tidak selalu ingin mengikuti pola pikir yang sama. Mereka menghormati sejarah, tetapi tidak ingin terjebak dalam romantisme sejarah.
Bagi sebagian aktivis senior, sikap seperti ini mungkin dianggap terlalu berani. Namun setiap generasi memang memiliki cara sendiri dalam memahami perjuangan. Tidak ada satu generasi pun yang memiliki hak eksklusif untuk mendefinisikan bagaimana aktivisme harus dijalankan.
Perlu diingat pula bahwa kampus bukan pabrik yang mencetak keseragaman pandangan. Kampus justru harus menjadi ruang yang memungkinkan lahirnya keberagaman gagasan. Jika semua mahasiswa berpikir sama, maka fungsi intelektual kampus akan kehilangan maknanya.
Karena itu, perdebatan mengenai Tiyo seharusnya tidak berhenti pada soal suka atau tidak suka terhadap dirinya. Yang lebih penting adalah apakah kritik yang disampaikan memiliki dasar argumentasi yang layak didiskusikan.
Demokrasi yang sehat tidak diukur dari seberapa banyak orang setuju terhadap suatu pendapat, tetapi dari kemampuan masyarakat memberi ruang bagi pendapat yang berbeda.
Pada akhirnya, Tiyo Ardianto hanyalah satu nama dari sekian banyak anak rakyat yang mencoba berbicara atas nama kegelisahan sosial yang mereka rasakan. Mungkin kelak namanya akan dikenang seperti sebagian aktivis terdahulu. Mungkin pula ia akan tenggelam bersama pergantian zaman, sebagaimana banyak aktivis lain yang pernah memenuhi halaman sejarah Indonesia.
Namun satu hal yang tidak berubah, sepanjang masih ada ketimpangan, sepanjang masih ada kebijakan yang dipandang tidak berpihak kepada rakyat, dan sepanjang masih ada anak-anak rakyat yang berani bersuara dari ruang kampus, maka tradisi pergerakan Indonesia akan terus hidup.
Nama boleh berganti, generasi boleh bergeser, tetapi keberanian untuk menyampaikan suara rakyat selalu menemukan jalannya sendiri dalam sejarah bangsa ini.
*Penulis adalah Pemerhati Isu Strategis & Doktor Ilmu Komunikasi Unpad