Berita

Anies Baswedan. (Foto: RMOL)

Politik

Rupiah Terpuruk, Anies Minta Pemerintah Jujur Soal Kondisi Ekonomi

JUMAT, 29 MEI 2026 | 13:42 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Tokoh nasional Anies Baswedan menyoroti kondisi ekonomi Indonesia yang dinilainya tengah berada dalam situasi tidak mudah. Menurutnya, tekanan ekonomi saat ini mulai dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Rumah tangga mulai tabungannya menipis, yang muda merasakan sulit cari pekerjaan, yang sekarang sedang bergerak di perusahaan juga mengalami kesulitan untuk pengembangan,” ujar Anies lewat kanal Youtube miliknya, Jumat, 29 Mei 2026.

Ia juga menyoroti pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) yang terus berlanjut hingga menyentuh titik terendah dalam sejarah. Namun menurut Anies, pelemahan Rupiah bukanlah masalah utama, melainkan hanya gejala dari persoalan ekonomi yang lebih besar.


“Mata uang itu sesungguhnya adalah simbol. Kalau penyakit itu namanya gejala, ada masalahnya, cerminnya adalah pada mata uang,” katanya.

Anies kemudian mengibaratkan kondisi ekonomi seperti seseorang yang sedang terserang flu. Suhu tubuh yang panas disebutnya hanya gejala, sementara sumber masalahnya adalah infeksi yang terjadi di dalam tubuh.

“Nah hari ini Rupiah kita melemah, gejalanya. Masalahnya apa?” lanjutnya.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu mempertanyakan akar persoalan yang menyebabkan nilai tukar Rupiah terus mengalami pelemahan bahkan mencapai titik terendah. Dia menilai langkah paling penting yang harus dilakukan pemerintah saat menghadapi situasi ekonomi sulit adalah membangun kepercayaan publik dan pelaku usaha.

Menurutnya, kegiatan ekonomi tidak hanya digerakkan pemerintah, tetapi juga sangat bergantung pada kepercayaan sektor swasta terhadap arah kebijakan negara.

“Langkah yang paling penting adalah membangun kepercayaan. Bagaimana seluruh pelaku itu percaya kepada langkah pemerintah dan sistem pemerintah,” jelasnya.

Anies juga menyarankan pemerintah terbuka kepada publik mengenai kondisi ekonomi yang sedang dihadapi negara. Menurutnya, sejumlah negara lain telah melakukan langkah serupa agar masyarakat memahami alasan di balik kebijakan yang diambil pemerintah.

“Di samping itu, kita punya problem ruang fiskal yang terbatas, lalu kita punya utang negara yang besar sekali,” tutup mantan Capres 2024 itu.


Populer

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Helikopter Pemadam Karhutla BNPB Jatuh di Sungai Barito

Minggu, 08 November 2026 | 14:30

Putin Pastikan Rusia-AS-Ukraina Kembali Berunding Pekan Depan di Abu Dhabi

Minggu, 08 November 2026 | 14:26

Plt Bupati Klaten Dicecar KPK soal Penerimaan Uang Hamenang dan Era Sebelumnya

Minggu, 08 November 2026 | 14:19

Al Aqsha Travel Gelar Akademi Marketing Haji untuk Perkuat Kompetensi Mitra

Minggu, 08 November 2026 | 14:02

Bahlil Ancam Tempuh Jalur Hukum Gegara Namanya Dikaitkan dengan Isu Penyadapan Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 13:47

Gempa 5,7 Magnitudo Guncang Jepang, 20 Orang Terluka

Minggu, 08 November 2026 | 13:42

Penyadapan Presiden Prabowo Biang Kerok Ekonomi Tidak Stabil

Minggu, 08 November 2026 | 13:28

Green Wakaf, Memperluas Manfaat Wakaf untuk Menjaga Kelestarian Alam

Minggu, 08 November 2026 | 13:08

Pengamat: Peran Seskab Teddy Strategis dalam Komunikasi Politik Pemerintah

Minggu, 08 November 2026 | 13:02

AS Siapkan Rp362 Miliar untuk Pembocor Informasi Nuklir Iran

Minggu, 08 November 2026 | 12:40

Selengkapnya