Berita

Ilustrasi. (Foto: Artificial Intelligence)

Publika

Otak Dijajah Video Pendek

SENIN, 18 MEI 2026 | 06:18 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

IA datang tanpa permisi, tanpa basa-basi, langsung duduk di ruang tamu kesadaran kita. Namanya video pendek. Durasi belasan atau puluhan detik, tapi efeknya bisa lebih panjang dari khutbah Jumat yang molor.

Kita kira ini sekadar hiburan, padahal menurut sebuah penelitian mendalam, video pendek yang terus dijejal sedang menulis ulang cara kerja otak kita secara diam-diam, sistematis, dan tanpa ampun.

Jurnal ilmiah Frontiers in Human Neuroscience (edisi 27 Juni 2024) mempublikasikan sebuah penelitian serius dengan judul yang cukup gamblang: “Mobile phone short video use negatively impacts attention functions: an EEG study.”


Penelitian ini dilakukan oleh Tingting Yan, Conghui Su, Weichen Xue, Yuzheng Hu, dan Hui Zhou dari Zhejiang University, China. Bukan sembarang opini netizen, ini riset laboratorium dengan rangkaian kabel, gelombang otak, dan statistik, yang dipasang di kepala.

Metodenya pun tidak main-main. Sebanyak 48 partisipan muda (rata-rata usia 21,8 tahun) diuji menggunakan Attention Network Test(ANT) sambil aktivitas otaknya direkam dengan EEG. Ini alat yang membaca gelombang listrik otak secara langsung.

Mereka juga diukur tingkat kecenderungan kecanduan video pendek mereka melalui kuesioner khusus (MPSVATQ) serta kemampuan kontrol diri mereka melalui skala psikologis (SCS). Singkatnya: bukan cuma ditanya “sering nonton?”, tapi dilihat langsung bagaimana otaknya bekerja saat berpikir.

Hasilnya? Bukan sekadar “agak terganggu”, tapi ada korelasi nyata: semakin tinggi kecenderungan kecanduan video pendek, semakin lemah aktivitas theta di bagian prefrontal otak.

Theta, wilayah yang bertanggung jawab atas kontrol diri, pengambilan keputusan, dan kemampuan menahan gangguan mereka, semakin lemah. Dengan kata lain, “direktur utama” dalam otak mereka mulai melemah, sementara “divisi hiburan” naik pangkat jadi komisaris.

Lebih ironis lagi, penurunan ini tidak selalu tampak di permukaan. Secara perilaku, seseorang bisa terlihat baik-baik saja. Mereka masih bisa menjawab soal, masih bisa bekerja, masih bisa bercakap normal seolah tak terjadi apa-apa.

Tapi di balik layar, otak mereka kehilangan daya tahan terhadap gangguan. Ia menjadi mudah terdistraksi, cepat bosan, dan sulit bertahan dalam aktivitas yang membutuhkan fokus panjang. Seperti atlet yang masih bisa berlari, tapi paru-parunya sudah bocor.

Di titik ini, video pendek bukan lagi sekadar tontonan. Ia adalah “pelatih mental” yang diam-diam melatih kita menjadi tidak sabar.

Video pendek membiasakan otak untuk hidup dalam potongan-potongan kecil, bukan dalam narasi panjang. Ia mendidik kita untuk mencari sensasi instan, bukan pemahaman mendalam.

Dan yang paling berbahaya ia membuat kita merasa semua itu normal.

Namun seperti semua tragedi, selalu ada pintu keluar meski sering tersembunyi di balik kenyamanan yang menipu. Jalan keluarnya bukan dengan membenci teknologi, apalagi mengutuk zaman. Itu terlalu mudah, dan biasanya hanya menghasilkan status Facebook yang panjang tapi tidak mengubah apa-apa.

Jalan keluarnya justru lebih sunyi yaitu mengembalikan kendali ke diri sendiri.

Kita perlu sadar bahwa setiap scroll puluhan video pendek adalah keputusan, bukan refleks. Setiap video yang kita tonton adalah “latihan mental” bagi otak kita, apakah kita sedang melatih fokus, atau justru melatih distraksi.

Disiplin bukan berarti anti hiburan, tapi tahu kapan berhenti. Batasan bukan musuh kebebasan, tapi pagar agar kebebasan tidak berubah menjadi kecanduan.

Karena pada akhirnya, algoritma hanya bekerja sejauh kita menyerahkan diri. Ia tidak punya kuasa mutlak. Kitalah yang memberinya kuasa itu, sedikit demi sedikit, setiap kali jempol bergerak tanpa kesadaran.

Maka jika hari ini kita merasa sulit fokus, mudah terdistraksi, dan cepat bosan, mungkin masalahnya bukan pada dunia yang terlalu ramai, tetapi pada diri kita yang terlalu sering menyerah pada hasrat.

Dan di situlah pelajaran paling pahit sekaligus paling jujur bahwa video pendek tidak pernah benar-benar mencuri waktu kita. Kitalah yang memberikannya, dengan sukarela.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Sambut Wacana Revisi UU Tipikor, Komisi III DPR: Perlu Dikaji Lebih Mendalam

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:32

Mahasiswa Bentangkan Poster Raksasa Tolak Karhutla

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:27

Asta Cita Sulit Berjalan Tanpa Stabilitas Keuangan dan Pemerintahan Bersih

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:22

Sahroni Minta Polisi Jaga Adik-adik Mahasiswa

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:11

Mahasiswa Demo Mabes Polri, Jangan Kriminalisasi Pegawai PLN

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:57

Nasdem Bedah Pemikiran Bung Hatta untuk Perkuat Etika Politik

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:51

Koperasi Sawit Didorong Bangun Pabrik CPO hingga Kilang Minyak Goreng

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:45

Massa Tertahan di Depan Gedung UOB, Desak Polisi Buka Jalan

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:41

IHSG Menguat Tipis Usai RUPSLB BEI Setujui Dividen Rp1,56 T

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:24

Massa Berbaju Hitam Lewat Kantor KPU RI Menuju Bundaran HI

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:14

Selengkapnya