Berita

Kiai Ashari. (Foto: Istimewa)

Publika

Ternyata Kiai Ashari Tidak Sakti

JUMAT, 08 MEI 2026 | 05:27 WIB

BANYAK yang beranggapan Kiai Ashari orang sakti. Bisa ngilang. Dijuluki "Wali Nabi." Tapi, akhirnya berakhir di tangan polisi. 

Ashari, tokoh yang selama ini berdiri gagah di balik jubah kesucian, kini berakhir seperti penjahat sinetron episode terakhir, ditangkap subuh-subuh di Wonogiri setelah lari ke sana kemari bak peserta audisi Ninja Warrior versi pesantren. 

Dari Kudus, Bogor, Jakarta, Solo, sampai Wonogiri, pelariannya panjang juga. Mungkin dikira kalau pindah kota terus, dosa bisa buffering dan polisi kehilangan jaringan.


Padahal selama ini mulutnya penuh kata suci. Mengaku Wali Nabi. Waliyullah. Khariqul ‘Adah. 

Wah, gelarnya panjang sekali. Tinggal tambah “Distributor Resmi Surga Cabang Pantura” lengkaplah sudah. Tapi seperti banyak drama negeri ini, semakin tinggi gelar spiritual dijual, sering kali semakin busuk ruang bawah tanahnya.

Benar saja. Di balik tembok pondok yang katanya tempat mendidik akhlak, justru muncul cerita paling menjijikkan yang membuat nurani waras muntah berjamaah. 

Santriwati dipanggil malam-malam dengan alasan “keperluan spiritual”. Ada yang disuruh memijat. Ada yang diminta menemani tidur. 

Semua dibungkus ancaman dosa dan laknat kalau menolak. Astaga. Setan pun mungkin geleng-geleng sambil berkata, “Wah, ini kreatif juga modusnya.”

Yang bikin amarah rakyat meledak, korbannya banyak anak yatim dan anak keluarga miskin. 

Mereka datang mencari ilmu, malah masuk jebakan manusia yang menjadikan agama seperti kartu member untuk memuaskan syahwat. 

Nuan bayangkan betapa kejamnya manipulasi ini. Anak-anak polos dicekoki doktrin, patuh pada “wali” berarti jalan menuju surga. 

Melawan berarti durhaka kepada Tuhan. Ini bukan sekadar pelecehan. Ini kolonialisme mental berkedok agama.

Lalu muncullah ironi paling lucu sekaligus paling memuakkan, lelaki yang mengaku dekat dengan Tuhan ternyata takut sekali dekat dengan kantor polisi. 

Begitu status tersangka keluar, langsung kabur. Hilang semua aura kesaktian. Tak ada cahaya langit. Tak ada mukjizat. Yang ada cuma teknik survival pengecut kelas kampung, sembunyi, pindah kota, lalu berharap rakyat lupa.

Tapi publik telanjur marah. Memang harus marah. Karena kasus beginian bukan cuma soal satu predator cabul. 

Ini penghinaan terhadap agama, penghinaan terhadap pendidikan, dan tamparan keras bagi ribuan kiai tulus yang benar-benar mengajar dengan hati. 

Ulama asli ikut tercemar gara-gara satu manusia yang menjadikan sorban sebagai kamuflase nafsu.

Kabarnya korban yang sudah melapor ada delapan. Tapi jumlah sebenarnya diduga bisa mencapai puluhan. 

Dari 2020 sampai 2026. Bertahun-tahun. Selama itu seorang manusia bisa berdiri memberi ceramah moral sambil menyimpan kebusukan di balik pintu kamar. 

Kalau kemunafikan bisa dijadikan bahan bakar, mungkin kasus ini sudah cukup menghidupi satu pembangkit listrik.

Sekarang rakyat cuma ingin satu hal, jangan ada drama jilid dua. Jangan mendadak sakit. 

Jangan mendadak lupa ingatan. Jangan mendadak muncul narasi “kriminalisasi ulama” untuk mengaburkan penderitaan korban. 

Karena terlalu sering negeri ini ganas kepada maling ayam, tapi mendadak lembut kepada manusia berjubah dan berpengaruh.

Ashari sudah tertangkap. Bagus. Tapi borgol bukan akhir cerita. Itu baru trailer. Rakyat masih menunggu film utamanya, hukuman yang benar-benar setimpal. 

Sebab luka korban tak akan sembuh hanya dengan konferensi pers dan foto tersangka pakai rompi tahanan. 

Mereka butuh keadilan yang nyata. Dan negeri ini, sekali saja, harus membuktikan bahwa jubah suci bukan tiket kebal hukum.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Komisi III DPR Dukung Kejagung Bongkar Tuntas Mafia Nikel di Sultra

Senin, 09 November 2026 | 00:30

Menanti Hoegeng di Zaman Now

Senin, 09 November 2026 | 00:06

Ratusan Ojol dan Sahabat Disabilitas Peroleh Santunan Jelang HUT ke-15 Nasdem

Minggu, 08 November 2026 | 23:41

Surya Paloh Ingatkan Ego Partai Tak Boleh Kalahkan Kepentingan Nasional

Minggu, 08 November 2026 | 23:37

Jimly Minta 8 Partai di Parlemen Segera Bermusyawarah soal Gibran

Minggu, 08 November 2026 | 23:25

UI dan Peradi Profesional Perkuat Kolaborasi Lewat Networking Golf Tournament 2026

Minggu, 08 November 2026 | 20:55

Mutu Audit jadi Penentu Kepercayaan Publik terhadap Korporasi

Minggu, 08 November 2026 | 20:00

Desak Tito Mundur, Faizal Assegaf: Dia Lingkar Inti Jokowi

Minggu, 08 November 2026 | 19:45

Ubedilah Badrun: Patron Jenderal Listyo Sigit Bertahun-tahun adalah Jokowi

Minggu, 08 November 2026 | 19:38

Prabowo Kumpulkan 10 Mantan Kapolri di Hambalang, Ada Da'i Bachtiar hingga Tito Karnavian

Minggu, 08 November 2026 | 18:48

Selengkapnya