Berita

Presiden AS Donald Trump (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube DWS News)

Dunia

Trump Tak Puas Proposal Damai Iran, Klaim Teheran Sedang Krisis Kepemimpinan

RABU, 29 APRIL 2026 | 09:05 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Upaya untuk mengakhiri konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali menemui hambatan setelah Presiden Donald Trump menyatakan ketidakpuasannya terhadap proposal perdamaian terbaru dari Teheran. 

Proposal terbaru dari Iran disebut mengusulkan agar pembahasan mengenai program nuklir ditunda hingga perang berakhir dan sengketa pelayaran di kawasan Teluk terselesaikan. Namun, menurut seorang pejabat AS yang mengetahui pembahasan internal di Gedung Putih, Trump menginginkan agar isu nuklir dibahas sejak awal, bukan ditunda ke tahap akhir negosiasi.

Dalam unggahannya di Truth Social, Trump mengungkapkan pandangannya mengenai kondisi Iran saat ini.


"Iran baru saja memberi tahu kami bahwa mereka berada dalam 'Keadaan Keruntuhan'. Mereka ingin kami 'Membuka Selat Hormuz' secepat mungkin, karena mereka mencoba menyelesaikan masalah kepemimpinan mereka (yang saya yakini akan dapat mereka lakukan!)," tulis Trump, dikutip dari Reuters, Rabu 29 April 2026.

Hingga saat ini, tidak jelas bagaimana Iran menyampaikan pesan tersebut, dan belum ada tanggapan resmi dari pihak Teheran mengenai pernyataan itu.

Sementara itu, dari pihak Iran, seorang juru bicara militer mengatakan kepada media pemerintah bahwa Republik Islam tidak menganggap perang telah berakhir. Sejak konflik dimulai pada 28 Februari, Iran diketahui membatasi sebagian besar lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan energi global, kecuali untuk pengiriman miliknya sendiri. Pada bulan ini, Amerika Serikat juga mulai memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal Iran.

Harapan untuk menghidupkan kembali proses perdamaian semakin memudar setelah rencana kunjungan utusan khusus AS, Steve Witkoff, dan menantu Trump, Jared Kushner, ke Pakistan dibatalkan pada akhir pekan lalu. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi melakukan perjalanan bolak-balik ke Islamabad untuk membawa proposal perdamaian tersebut.

Situasi politik di Iran sendiri turut memengaruhi dinamika negosiasi. Setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei pada hari pertama perang, posisi tersebut digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei, yang dilaporkan mengalami luka. 

Sejumlah pejabat Iran dan analis menilai bahwa perubahan kepemimpinan ini membuat komandan garis keras dari Islamic Revolutionary Guard Corps memiliki pengaruh yang lebih besar, sehingga sikap Iran dalam perundingan menjadi semakin keras.

Dalam proposal yang dibawa Iran, pembicaraan dirancang dilakukan secara bertahap. Tahap pertama adalah penghentian perang dan pemberian jaminan bahwa Amerika Serikat tidak akan memulai kembali konflik. Setelah itu, barulah dibahas penghentian blokade laut oleh Angkatan Laut AS serta pembukaan kembali Selat Hormuz di bawah kendali Iran. Isu lain, termasuk sengketa lama terkait program nuklir Iran dan hak pengayaan uranium, baru akan dibicarakan setelah tahap-tahap awal tersebut diselesaikan.

Di tengah kebuntuan negosiasi, dampak perang semakin terasa di pasar energi global. Harga minyak kembali naik, dengan minyak mentah Brent meningkat hampir 3 persen menjadi sekitar 111 Dolar AS per barel. Bank Dunia memperkirakan harga energi bisa melonjak hingga 24 persen pada tahun 2026 jika gangguan akibat perang ini terus berlanjut.

Konflik ini juga memicu ketegangan di antara negara-negara produsen minyak di kawasan Teluk. Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan memutuskan keluar dari kelompok OPEC dan OPEC+, menandakan adanya perbedaan sikap terhadap situasi Iran.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Kodam XII/Tanjungpura Geser Pasukan Atasi Karhutla ke Selatan Kalbar

Sabtu, 19 September 2026 | 05:09

Ketika Politik Uang Dianggap Wajar

Sabtu, 19 September 2026 | 04:45

Profesor Webster University: Pimpinan Negara Barat Harus Contoh Prabowonomics

Sabtu, 19 September 2026 | 04:16

Ekosistem Pengolahan Ikan Skala Mikro dan Kecil Terus Diperkuat

Sabtu, 19 September 2026 | 03:45

Fapet IPB University Hasilkan Inovasi Songsong Komersialisasi Ayam Lokal

Sabtu, 19 September 2026 | 03:13

Kejati Sumut Didesak Usut Tuntas Kasus Lahan Tol Medan-Binjai

Sabtu, 19 September 2026 | 02:45

Ketika Polemik Ijazah Berubah jadi Komoditas Politik

Sabtu, 19 September 2026 | 02:17

Tim Hukum UIN Jakarta Datangi Kejati Banten Usut Korupsi Eks Rektor

Sabtu, 19 September 2026 | 01:50

Humanika Harus Bantu Presiden Bawa Keluar RI dari Middle Income Trap

Sabtu, 19 September 2026 | 01:26

Konstruksi Waktu Dugaan TPPU dan Pemerasan Kasus Febrie Tidak Sinkron

Sabtu, 19 September 2026 | 01:02

Selengkapnya