Berita

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi data BPS 2025. (Foto: BPS)

Publika

Obsesi GDP di Planet yang Terbatas

SELASA, 28 APRIL 2026 | 20:02 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

FLUKTUATIF! Pertumbuhan ekonomi, diukur dengan angka sakti Produk Domestik Bruto (GDP). Kenaikan nilai tersebut diasumsikan sebagai kemajuan, tetapi perlu melihat relasi angka dengan makna realitas pada rasa kebahagiaan publik dan kelestarian alam.
 
Kini kita hidup dalam era pemujaan terhadap angka, data statistik dianggap lebih nyata daripada kesejahteraan manusia itu sendiri. Padahal, GDP hanyalah ukuran transaksi moneter, bukan ukuran kualitas hidup. Celakanya, obsesi tanpa henti terhadap angka pertumbuhan, justru mendorong kita ke ambang krisis ekologi yang eksistensial.
 
Ironisnya, Simon Kuznets, pencipta GDP pada dekade 1930-an, sudah sejak awal mengingatkan agar temuannya jangan digunakan sebagai ukuran kesejahteraan nasional (Kuznets, 1934; Ardhani, 2021). Kuznets menyadari bahwa GDP memiliki kebutaan yang fatal.
 

 
Dalam perspektif ekologis, GDP dapat mencatat nilai transaksi penebangan pohon sebagai keuntungan ekonomi, tetapi memberi nilai nol pada pohon yang berdiri tegak yang memberikan oksigen dan mencegah banjir (Hickel, 2020).
 
Logika ekonomi hari ini, terperangkap dalam bisnis ekstraksi. Kekayaan dirasakan ketika mengeruk batu bara dan membabat hutan, padahal kita melikuidasi modal alam yang menjadi tumpuan hidup generasi mendatang. Kondisi tersebut, dinyatakan sebagai upaya pertumbuhan tanpa batas di planet yang terlimitasi, sebuah kegilaan logis (Daly, 1990).
 
Para ekonom sering lupa, pada hukum dasar fisika. Ekonomi bukanlah sistem di ruang hampa, melainkan subsistem dari biosfer bumi. Berdasarkan Hukum Termodinamika, proses ekonomi adalah pengubahan energi bermanfaat menjadi limbah (Georgescu-Roegen, 1971).
 
Setiap kali GDP tumbuh, entropi atau kekacauan di planet meningkat (Taaha et al., 2024). Kondisi aktual menunjukkan, bahwa kita telah melampaui batas.
 
Laporan Planetary Health Check 2025, menyatakan batas aman termasuk krisis iklim dan keanekaragaman hayati telah terlampaui, akibat aktivitas manusia yang didorong oleh target pertumbuhan ekonomi tahunan (Potsdam Institute, 2025; Rockström et al., 2023).
 
Treadmill Hedonik
 
Bila pertumbuhan ekonomi membawa kesejahteraan, mengapa tingkat stres dan depresi justru meningkat? Di sinilah Paradoks Easterlin bekerja, peningkatan pendapatan nasional ternyata tidak serta-merta meningkatkan kebahagiaan penduduk dalam jangka panjang (Easterlin, 1974; Tarik et al., 2024).
 
Kita terjebak dalam Hedonic Treadmill. Terus berlari mengejar konsumsi material yang lebih tinggi, tetapi level kebahagiaan tetap di tempat, karena dengan cepat beradaptasi pada kemewahan baru (Easterlin, 2010).
 
Data BPS tahun 2021, secara mengejutkan menunjukkan bahwa provinsi dengan PDRB per kapita tinggi seperti Jakarta, justru memiliki indeks kebahagiaan yang lebih rendah, dibandingkan Maluku Utara (Ibrahim et al., 2024).
 
Degrowth, Melambat Selamat
 
Solusi, sebagai gagasan radikal menyebut Degrowth atau penurunan pertumbuhan yang terencana. Degrowth bukan berarti kita kembali ke zaman batu atau sengaja menciptakan resesi. Bermakna merancang ulang ekonomi, agar fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar manusia secara adil tanpa harus menghancurkan planet (Hickel, 2020).
 
Di sektor pariwisata misalnya, bisa beralih dari mengejar volume wisatawan (kuantitas) menuju pariwisata berbasis komunitas yang menjaga kelestarian alam (kualitas) (Nuryananda et al., 2024). Hal ini mengubah filosofi dari: lebih banyak lebih baik, menuju cukup itu indah.
 
Para ekonom, memperkenalkan konsep model ekonomi donat. Tujuannya sederhana: membawa umat manusia ke dalam ruang aman berbentuk donat. Lingkaran dalam adalah fondasi sosial: pangan, air, pendidikan yang tidak boleh berkekurangan, sedang lingkar luar adalah batas ekologis bumi yang tidak boleh dilampaui (Raworth, 2020).
 
Dibutuhkan keberanian, untuk tidak lagi menjadikan pertumbuhan angka GDP sebagai berhala kebijakan publik. Adopsi indeks ekonomi hijau dan ekonomi biru, menjadi standar baru kemajuan.
 
Pilihan bergantung di tangan kekuasaan, yang seharusnya menimbang masa depan publik. Apakah akan terus menghamba pada angka pertumbuhan semu, atau mengembalikan fungsi ekonomi sebagai alat untuk melayani kesejahteraan manusia dan menjaga bumi?
 
Pertumbuhan abadi di planet yang terbatas, hanyalah ilusi berbahaya.

Doktoral Ilmu Hukum Universitas Islam Sultan Agung

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

UPDATE

MNC Siap Lawan Putusan CMNP Lewat Banding hingga PK!

Selasa, 28 April 2026 | 20:09

Menyambut Hardiknas 2026: Mengupas Makna Tema, Filosofi Logo, dan Harapan Pendidikan Indonesia

Selasa, 28 April 2026 | 20:06

RUPS bjb Angkat Susi Pudjiastuti Jadi Komut, Ayi Subarna Dirut

Selasa, 28 April 2026 | 20:02

KAMMI Ingin Perempuan jadi Penggerak Kedaulatan Energi

Selasa, 28 April 2026 | 20:01

Membaca Paslon Pimpinan NU di Muktamar ke-35

Selasa, 28 April 2026 | 19:59

Prabowo Sempatkan Ziarah ke Makam Sang Kakek Margono Djojohadikusumo

Selasa, 28 April 2026 | 19:47

Jamaluddin Jompa Kembali Jabat Rektor Unhas

Selasa, 28 April 2026 | 19:47

Legislator Golkar Desak Dirut KAI Mundur

Selasa, 28 April 2026 | 19:44

RUPST bank bjb, Susi Pudjiastuti Komut Independen

Selasa, 28 April 2026 | 19:42

Polri Unjuk Gigi, Timnas Silat Sapu Emas di Belgia

Selasa, 28 April 2026 | 19:34

Selengkapnya