Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari. (RMOL/Sarah Alifia Suryadi)
Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) menyampaikan duka cita mendalam atas insiden kecelakaan kereta yang melibatkan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek di kawasan Bekasi Timur.
“Pertama-tama, atas nama pemerintah, saya menyampaikan duka cita yang mendalam atas musibah KRL dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur,” kata Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari di Jakarta, Selasa 28 April 2026.
Ia juga mendoakan para korban luka agar segera pulih.
“Belasungkawa kami untuk keluarga korban, serta doa agar korban yang luka segera pulih,” tambahnya.
Qodari memastikan, sejak awal kejadian, penanganan dilakukan secara cepat oleh berbagai pihak, termasuk PT KAI dan kementerian terkait. Proses evakuasi hingga penanganan korban disebut berjalan intensif di lapangan.
Pemerintah, lanjutnya, menyerahkan proses investigasi kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) guna mengungkap penyebab insiden secara objektif. Langkah ini dinilai penting agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Menurutnya, insiden ini menjadi peringatan keras atau “wake up call” bagi semua pihak untuk memperbaiki sistem pengamanan di perlintasan kereta, agar potensi kecelakaan bisa ditekan ke depannya.
Ia menegaskan, pemerintah akan terus memastikan keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama, sekaligus mendorong perbaikan sistem secara lebih menyeluruh dan terukur.
Pada Selasa malam, 27 April 2026 sekitar pukul 20.52 WIB, terjadi kecelakaan antara KRL dengan mobil taksi Green SM di perlintasan sebidang Ampera di dekat Stasiun Bekasi Timur.
Akibat kecelakaan itu, KRL lainnya tertahan di Stasiun Bekasi Timur. Tak lama kemudian, datang KA Argo Bromo Anggrek arah Cikarang di jalur yang sama, sehingga KRL yang tertahan di Stasiun Bekasi Timur tertabrak.
Akibat kecelakaan itu, sebanyak 14 orang meninggal dunia, luka-luka sebanyak 84 orang yang dirawat di 8 rumah sakit. Korban semuanya perempuan.