Berita

Ilustrasi peta Selat Hormuz (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube WSJ)

Dunia

Iran Siapkan Tatanan Baru di Selat Hormuz, Akses Kapal AS dan Israel Terancam Diblokir

SENIN, 06 APRIL 2026 | 09:45 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Iran melalui Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan lagi berada dalam kondisi seperti sebelumnya, terutama bagi Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Dalam pernyataan yang diunggah melalui platform X dan dikutip dari Anadolu Agency pada Senin, 6 April 2026, IRGC menyatakan bahwa situasi di selat strategis tersebut akan berubah secara signifikan. 

“Selat Hormuz tidak akan pernah kembali ke keadaan semula, terutama bagi AS dan Israel," tulis IRGC.


Mereka juga mengungkapkan telah memasuki tahap akhir persiapan operasional untuk menerapkan sistem keamanan baru di kawasan itu.

Langkah ini sejalan dengan kebijakan yang tengah disiapkan oleh parlemen Iran. Beberapa hari sebelumnya, parlemen menyetujui rancangan undang-undang awal yang mengatur lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Dalam aturan tersebut, Iran berencana memberlakukan biaya transit bagi kapal yang melintas, mewajibkan pembayaran menggunakan mata uang rial, serta melarang kapal milik AS dan Israel untuk melewati jalur tersebut. Negara-negara yang menjatuhkan sanksi terhadap Iran juga akan dikenai pembatasan tertentu.

Selain pengaturan lalu lintas kapal, rancangan tersebut menegaskan klaim kedaulatan Iran atas Selat Hormuz. Aturan ini juga mencakup perluasan peran militer dalam menjaga keamanan, perlindungan lingkungan, serta penguatan kerja sama hukum dengan Oman.

Ketegangan di kawasan meningkat tajam sejak serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, dan memicu respons keras dari Teheran.

Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal ke sejumlah target, termasuk wilayah Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi fasilitas militer AS. Serangan ini mengakibatkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan terhadap pasar global dan jalur penerbangan internasional.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

UPDATE

Tom Holland dan Zendaya Bakal Rehat Setelah Spider-Man Brand New Day

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:52

IAW: Ada Dugaan Intervensi Kasus Dedi Congor

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:51

Sidang Perdana Praperadilan Febrie Adriansyah Digelar 18 Agustus

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:42

Prabowo Tinjau Deretan Inovasi BRIN, dari Air Minum Darurat hingga Teknologi Nuklir

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:35

Komisi III DPR Minta Polisi Ungkap Pemasok Senpi di Yayasan Sekolah Jaksel

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:28

Partisipasi Bermakna di Black Box Regulasi Kesehatan

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:15

Amplop Berisi 14 Ribu Dolar Singapura Memang Dikembalikan, tapi Isinya Berkurang

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:02

Prabowo Tekankan Pentingnya Sains dan Teknologi bagi Masa Depan Bangsa

Kamis, 06 Agustus 2026 | 18:54

Isu Pergantian Kapolri Bisa Merugikan Presiden jika Tidak Hati-Hati

Kamis, 06 Agustus 2026 | 18:53

Food Station Masih Andalkan Laba Bersih dari PSO

Kamis, 06 Agustus 2026 | 18:30

Selengkapnya