Puing reruntuhan di Israel akibat serangan Iran (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube Al-Jazeera)
Iran dikabarkan telah menolak 15 poin proposal yang diajukan Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri perang karena dinilai terlalu memaksakan dan tidak masuk akal.
Seorang sumber diplomatik tingkat tinggi yang dikutip media Al-Jazeera menyebutkan bahwa Iran menganggap rencana tersebut tidak realistis, bahkan terlihat menyesatkan sejak awal. Menurutnya, isi proposal itu "tidak baik bahkan hanya di atas kertas”.
Pernyataan ini muncul di tengah klaim Presiden AS Donald Trump, yang mengatakan bahwa negosiasi sedang berlangsung antara Washington dan Teheran. Namun, Iran membantah adanya pembicaraan langsung. Meskipun begitu, kedua pihak tetap saling mengirim pesan melalui perantara dari beberapa negara. Sebelumnya, Pakistan dilaporkan telah menyampaikan tuntutan gencatan senjata dari Amerika Serikat kepada Iran.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa tidak ada negosiasi resmi dengan AS, meskipun ada komunikasi tidak langsung melalui mediator. Ia juga menekankan bahwa Iran tidak ingin melanjutkan perang dan menginginkan konflik ini berakhir secara permanen. Namun, Iran menuntut adanya kompensasi atas kerusakan akibat serangan AS dan Israel.
Upaya diplomasi terus dilakukan oleh beberapa negara. Pakistan dan Mesir mendorong agar pertemuan langsung antara Iran dan AS dapat segera dilakukan. Pakistan dinilai memiliki posisi unik sebagai mediator karena memiliki hubungan yang cukup baik dengan Iran, sekaligus menjalin kerja sama pertahanan dengan Arab Saudi dan kedekatan dengan negara-negara Teluk.
Sementara itu, Mesir menyatakan kesiapannya untuk menjadi tuan rumah perundingan selama hal tersebut bertujuan meredakan konflik. Turki juga ikut berperan dengan menjadi perantara komunikasi antara kedua pihak.
Di sisi lain, Iran tetap bersikukuh dengan syaratnya sendiri untuk mengakhiri perang. Menurut seorang pejabat yang dikutip media Iran, Iran hanya akan menghentikan perang jika syarat-syaratnya dipenuhi. Syarat tersebut mencakup penghentian pembunuhan pejabat Iran, jaminan tidak ada serangan lanjutan, pembayaran ganti rugi, penghentian konflik secara total, serta pengakuan atas kedaulatan Iran di Selat Hormuz.
Proposal dari AS sendiri dilaporkan mencakup beberapa hal penting, seperti pelonggaran sanksi, pembatasan program nuklir Iran, pembatasan kemampuan rudal, serta pembukaan kembali Selat Hormuz yang merupakan jalur penting bagi distribusi energi dunia.
Meski ada upaya diplomasi, situasi di lapangan masih memanas. Serangan udara Israel ke Teheran terus berlangsung, sementara Amerika Serikat menambah kekuatan militernya di kawasan tersebut. Iran juga melancarkan serangan balasan ke Israel dan beberapa negara Teluk, termasuk serangan yang menyebabkan kebakaran besar di Bandara Internasional Kuwait.