Berita

Kilang minyak Balikpapan. (Foto: Detik.Com)

Publika

Indonesia, dari Dongeng Kaya Raya ke Realita Impor Minyak

KAMIS, 26 MARET 2026 | 05:41 WIB

KITA ini dari kecil dicekoki dongeng versi premium. Indonesia negara kaya. SDA melimpah. Mau apa saja tinggal ambil. Minyak? Ada. Gas? Tinggal sedot. Sawit? Tinggal panen. 

Pokoknya kalau bumi ini supermarket, Indonesia itu cabang yang raknya selalu penuh. Anehnya, tiap kali ke kasir, kita malah bayar pakai kartu impor. Plot twist level sinetron azab.

Realitanya lebih brutal dari yang kita kira. Konsumsi minyak kita sekarang sudah tembus sekitar 1,7 juta barel per hari. 


Produksi? Santai saja di angka sekitar 860 ribu barel per hari. Artinya, hampir setengah kebutuhan kita itu harus ditambal dari luar. 

Ini bukan defisit kecil yang bisa ditutup pakai optimisme dan pidato. Ini defisit yang kalau divisualisasikan, seperti ember bocor disiram hujan badai. Air masuk banyak, tapi keluar lebih brutal.

Kenapa bisa begitu? Karena ladang minyak kita itu bukan lagi “ladang”, tapi sudah kayak veteran perang. Tua, lelah, dan penuh luka. 

Banyak sumur masuk fase mature field, alias produksi turun drastis, airnya malah naik. Praktisi migas memprediksi, kalau begini terus, produksi kita bisa nyungsep ke 570–580 ribu barel per hari di 2026. 

Sementara target pemerintah 610 ribu barel? Itu optimisme yang kalau dijual bisa jadi bahan bakar roket.

Lalu muncul pertanyaan klasik, “Kan kita punya kilang?” Nah, ini bagian yang sering bikin orang terkecoh. 

Kita memang punya kilang dengan kapasitas sekitar 1,1 juta barel per hari. Kedengarannya gagah. Tapi masalahnya, kilang itu bukan alat sulap. 

Minyak mentah itu macam-macam jenisnya. Ada yang cocok, ada yang harus dicampur dulu dengan minyak impor supaya hasil akhirnya sesuai standar, misalnya BBM Euro 5. Meskipun kita punya dapur, bahan masakannya tetap harus impor biar rasanya “lulus uji emisi.”

Belum lagi soal stok. Cadangan energi kita itu cuma cukup sekitar 23 hari. Dunia ideal menyimpan sampai 90 hari. 

Kalau ada gangguan global, kita ini ibarat orang yang punya mie instan tinggal dua bungkus, tapi listrik sering mati. Deg-degannya bukan main.

Nah, soal impor dari negara Teluk juga sering digoreng seolah-olah kita ini pelanggan setia Timur Tengah. Faktanya, porsinya sekitar 20-25 persen dari total impor. 

Memang Arab Saudi pernah jadi pemasok besar, di atas 1,2 miliar dolar AS per tahun, tapi itu dari total impor, bukan dari total konsumsi. 

Narasi “kita tergantung total” itu agak lebay, walau tetap saja, ketergantungan itu nyata.

Menariknya, pemerintah sekarang mulai geser arah. Karena kawasan Teluk rawan konflik, Selat Hormuz saja dilewati sekitar 20 juta barel minyak dunia per hari, Indonesia mulai alihkan sekitar 25 persen impor ke Amerika Serikat. 

Ini langkah realistis. Kalau jalan utama lagi rawan, ya cari jalan tikus, bukan malah ngebut sambil tutup mata.

Di tengah semua itu, kita juga disuguhi narasi yang bikin hati hangat. Tenang, kita punya sawit, bisa diolah jadi B50, bahkan B100. 

Kita tidak akan tergantung impor lagi. Kedengarannya seperti sihir level dewa. Dari pohon jadi bahan bakar, dari defisit jadi mandiri. 

Tapi publik juga mulai nyeletuk, itu B50 di mana? B100 masih jadi bahan seminar atau sudah benar-benar mengalir di SPBU? 

Karena sampai sekarang, yang benar-benar jalan luas baru B35. Itu pun masih sambil tarik napas panjang karena urusan teknis, biaya, dan distribusi.

Satu-satunya kabar yang benar-benar bikin dada agak lega, kita sudah berhenti impor solar. Kilang Balikpapan yang di-upgrade jadi 360 ribu barel per hari sekarang bisa memenuhi kebutuhan nasional sekitar 19 juta kiloliter per tahun. 

Ini bukan janji, ini kejadian. Tapi bensin? Masih impor. LPG? Lebih ngeri lagi, sekitar 7,8 juta ton per tahun, dipakai lebih dari 70 juta rumah tangga. 

Kalau ini terganggu, yang panik bukan cuma pejabat, tapi seluruh dapur di Indonesia berubah jadi ruang rapat darurat. Saya tak bisa bayangkan dengan dapur MBG, gizi anak terganggu.

Kesimpulannya sederhana. Kita bukan tidak kaya, tapi kita belum benar-benar berdaulat atas kekayaan itu. Produksi turun, konsumsi naik, teknologi belum cukup fleksibel, dan solusi sering kali lebih cepat diucapkan dari diwujudkan. 

Impor itu bukan aib. Yang bikin miris adalah ketika kita terlalu lama nyaman di situ, sambil sibuk menjual mimpi-mimpi energi masa depan yang belum juga muncul di dunia nyata.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Jokowi Dalangi Operasi Politik Pertahankan Wapres Gibran

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:14

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Pejabat BNPB juga Korupsi Pengadaan HT Penanganan Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:37

Status MSCI Bukan Tanda Kiamat

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:21

Penguatan Ekosistem Dagang RI Didorong Tembus 5 Besar Ekonomi Dunia

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:06

Mengenal Ahmad Luthfi Auditor BPK yang Minta Jatah Rp600 Juta

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:37

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia, Polri Sampaikan Duka Cita

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:17

MSCI Pertanyakan Pasar RI, BEI Harus Buktikan Pengawasan Bekerja

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:06

Fahira: Mimpi dan Cita-cita Tak Boleh Dibatasi Kondisi Ekonomi

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:35

Polisi Tembak Polisi di Markas Ditpolairud Pondok Cabe, Pelaku Ditahan

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:15

Selengkapnya