Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Publika

Lebaran di Tengah Bayang-bayang Konflik Global

Saatnya Indonesia Tetap Tenang dan Bersatu
KAMIS, 19 MARET 2026 | 04:45 WIB

DUNIA saat ini sedang berada dalam situasi yang tidak sepenuhnya stabil, dan dampaknya terasa semakin dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Perang antara Iran vs Israel, dan Amerika Serikat bukan hanya menjadi isu geopolitik yang jauh di sana, tetapi sudah menjalar menjadi tekanan global yang nyata. Ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya yang menyangkut jalur distribusi energi dunia, berpotensi mengganggu stabilitas harga minyak internasional. Ketika harga minyak bergerak naik, maka efeknya tidak bisa dihindari oleh negara mana pun, termasuk Indonesia.

Kita mungkin tidak berada di pusat konflik, tetapi kita tidak bisa sepenuhnya lepas dari dampaknya. Indonesia masih memiliki ketergantungan terhadap pasokan energi global, sehingga setiap gangguan pada rantai pasok akan berpengaruh pada kondisi dalam negeri. Kenaikan harga minyak dunia pada akhirnya akan berdampak pada harga BBM, biaya distribusi, dan bahkan harga kebutuhan pokok masyarakat. Inilah yang membuat pemerintah perlu mengambil langkah antisipatif sejak dini agar dampaknya tidak semakin meluas.

Presiden Prabowo Subianto telah menunjukkan sikap yang responsif dalam menghadapi situasi ini dengan mengingatkan pentingnya penghematan energi dan kesiapsiagaan nasional. Berbagai opsi kebijakan mulai dikaji, termasuk pengurangan mobilitas dan penerapan work from home (WFH) sebagai salah satu cara menekan konsumsi BBM. Langkah ini bukan bentuk pembatasan, melainkan strategi untuk menjaga stabilitas ekonomi agar tetap terkendali. Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, kebijakan preventif justru menjadi kunci agar kita tidak terlambat merespons.


Sebagai bagian dari Fraksi PAN yang berada dalam koalisi pemerintah, penulis memandang langkah ini sebagai bentuk kepemimpinan yang bertanggung jawab. Dukungan terhadap kebijakan penghematan dan efisiensi bukan hanya soal politik, tetapi soal keberpihakan pada kepentingan rakyat yang lebih luas. Kita semua tentu ingin agar dampak konflik global tidak sampai membebani masyarakat secara berlebihan. Oleh karena itu, penting bagi seluruh elemen bangsa untuk mendukung langkah-langkah yang diambil pemerintah.

Di sisi lain, kita juga perlu menyadari bahwa Indonesia tidak berada dalam posisi yang paling lemah. Kita memiliki sumber daya yang cukup, pengalaman dalam menghadapi berbagai krisis, serta kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan global. Pemerintah juga telah menyiapkan berbagai skenario untuk menghadapi kemungkinan terburuk, sehingga langkah yang diambil tidak bersifat reaktif, tetapi terukur. Hal ini menunjukkan bahwa negara hadir dan bekerja untuk menjaga stabilitas di tengah situasi yang tidak mudah.

Meski demikian, kewaspadaan tetap harus dijaga tanpa harus menimbulkan kepanikan. Informasi yang beredar di tengah masyarakat sering kali bercampur antara fakta dan spekulasi, sehingga berpotensi menimbulkan kekhawatiran yang berlebihan. Dalam kondisi seperti ini, yang dibutuhkan adalah sikap tenang dan rasional dalam menyikapi situasi. Kita perlu percaya bahwa pemerintah telah melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga kondisi tetap terkendali.

Di tengah situasi global yang penuh tantangan ini, Idul Fitri hadir sebagai momentum yang sangat penting bagi bangsa Indonesia. Lebaran bukan hanya tentang perayaan keagamaan, tetapi juga tentang memperkuat hubungan sosial dan mempererat persaudaraan. Tradisi saling memaafkan, bersilaturahmi, dan berbagi menjadi nilai-nilai yang sangat relevan dalam menghadapi situasi saat ini. Ketika dunia diwarnai konflik, Indonesia justru memiliki kesempatan untuk memperkuat harmoni dan kebersamaan.

Nilai-nilai yang diajarkan selama Ramadan dan Idul Fitri mengingatkan kita bahwa kekuatan terbesar bangsa ini terletak pada persatuan. Ketika masyarakat saling peduli dan saling mendukung, maka tantangan apa pun akan terasa lebih ringan untuk dihadapi. Sebaliknya, jika kita terpecah, maka tekanan sekecil apa pun bisa menjadi beban yang besar. Oleh karena itu, menjaga persatuan bukan hanya menjadi tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab kita bersama sebagai warga negara.

Kita juga perlu memahami bahwa tidak semua kebijakan akan terasa nyaman dalam jangka pendek, terutama ketika berkaitan dengan penghematan atau penyesuaian. Namun kebijakan tersebut harus dilihat dalam konteks yang lebih besar, yaitu menjaga stabilitas jangka panjang. Setiap langkah yang diambil pemerintah bertujuan untuk melindungi masyarakat dari dampak yang lebih berat di kemudian hari. Dengan memahami hal ini, kita dapat menyikapi kebijakan dengan lebih bijak dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang menimbulkan keresahan.

Pada akhirnya, kita mungkin tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi di tingkat global. Kita belum bisa menghentikan konflik di Timur Tengah secara instan, dan kita di dalam dunia yang saling berkaitan, kita tidak bisa menentukan arah harga minyak dunia. Namun kita masih memiliki kendali atas bagaimana kita merespons situasi tersebut sebagai bangsa. Kita bisa memilih untuk tetap tenang, saling menguatkan, dan menjaga persatuan di tengah berbagai tantangan yang ada.

Lebaran tahun ini menjadi pengingat bahwa di tengah segala ketidakpastian, kita masih memiliki kekuatan besar sebagai bangsa. Kekuatan itu bukan hanya pada sumber daya alam atau kebijakan negara, tetapi pada rasa kebersamaan yang telah menjadi bagian dari jati diri Indonesia. Mari kita jadikan Idul Fitri sebagai momentum untuk memperkuat persatuan, menjaga ketenangan, dan mendukung langkah-langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas bangsa. Dengan kebersamaan, kita akan mampu menghadapi situasi apa pun yang terjadi di dunia. Selamat Idul Fitri 1447 H, mohon maaf lahir dan batin.
 
Okta Kumala Dewi S.E., M.Ak
Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PAN


Populer

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

Fahira Idris Dukung Pelarangan Medsos Buat Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:58

Golkar Berduka, Putri Akbar Tandjung Wafat

Rabu, 11 Maret 2026 | 15:27

UPDATE

Forum IPEM 2026 Momentum Penting Perkuat Diplomasi Energi

Kamis, 19 Maret 2026 | 00:08

Polres Metro Tangerang Kota Ungkap 14 Kasus Curas Sepanjang Ramadan

Rabu, 18 Maret 2026 | 23:45

Negara Bisa Menjadi Totaliter Lewat Teror dan Teknologi

Rabu, 18 Maret 2026 | 23:28

Pengungkapan Pelaku Teror Air Keras Bukti Ketegasan Prabowo

Rabu, 18 Maret 2026 | 23:10

YLBHI: Ada Pola Teror Berulang terhadap Aktivis hingga Jurnalis

Rabu, 18 Maret 2026 | 22:51

Observatorium Bosscha: Hilal 1 Syawal Tipis di Ufuk Barat

Rabu, 18 Maret 2026 | 22:32

TNI-Polri Harus Kompak Bongkar Teror Air Keras Aktivis KontraS

Rabu, 18 Maret 2026 | 22:10

Umat Hindu Semarang Gelar Tawur Agung Kesanga Sambut Nyepi Saka 1948

Rabu, 18 Maret 2026 | 21:56

YLBHI Minta Kasus Air Keras Andrie KontraS Disidang di Peradilan Umum

Rabu, 18 Maret 2026 | 21:40

Kinerja Cepat Polri Ungkap Kasus Penyiraman Air Keras Tuai Apresiasi

Rabu, 18 Maret 2026 | 21:11

Selengkapnya