Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Publika

Penyiraman Andrie Yunus dan Logika Teror Politik

SELASA, 17 MARET 2026 | 03:32 WIB

KASUS penyiraman air keras terhadap aktivis Andrie Yunus oleh orang tak dikenal (OTK) adalah peristiwa yang tidak bisa dilihat secara sederhana. Dalam situasi politik dan ekonomi yang sedang bergejolak, setiap tindakan kekerasan terhadap tokoh publik selalu berpotensi memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar kriminalitas biasa.

Ruang publik kita seringkali terlalu cepat menyimpulkan siapa pelaku dan siapa yang harus disalahkan. Padahal dalam praktik politik tingkat tinggi, serangan semacam ini justru sering menjadi bagian dari permainan propaganda yang lebih kompleks. Dalam kondisi seperti sekarang ketika arah kebijakan ekonomi nasional sedang mengalami penataan ulang banyak pihak merasa dirugikan. Mereka bisa berasal dari jaringan bisnis lama, kelompok kepentingan, hingga aktor politik yang kehilangan pengaruh.

Karena itu, penyiraman terhadap Andrie Yunus sangat mungkin memiliki lebih dari satu motif. Pihak yang merasa dirugikan oleh aktivitas atau sikap politiknya bisa saja menjadi pelaku. Namun tidak menutup kemungkinan pula bahwa tindakan tersebut dirancang sebagai operasi propaganda: sebuah serangan yang sekaligus dimaksudkan untuk menimpakan kesalahan kepada pihak lain. Dengan kata lain, sekali mendayung dua atau tiga pulau terlampaui membalas sakit hati sekaligus menciptakan persepsi publik yang menyesatkan.


Sejarah politik Indonesia menunjukkan bahwa pola teror seperti ini bukan hal baru. Kita pernah menyaksikan bagaimana pejabat negara juga mengalami ancaman serius ketika mulai menyentuh kepentingan besar. Pada awal menjabat sebagai Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa juga menghadapi berbagai bentuk tekanan dan ancaman teror ketika mulai mengganggu jaringan ekonomi lama yang selama bertahun-tahun menikmati kenyamanan dari sistem yang tidak transparan. Tekanan semacam itu adalah ciri klasik ketika kekuasaan mulai menyentuh sarang mafia ekonomi.

Dalam konteks hari ini, situasi politik dan ekonomi global sedang berada dalam ketegangan tinggi. Konflik geopolitik, perlambatan ekonomi dunia, hingga persaingan kekuatan global menciptakan tekanan tambahan bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia. Pada saat yang sama, pemerintahan Prabowo Subianto sedang menunjukkan keberanian politik untuk membongkar jaringan mafia, koruptor, dan oligarki hitam yang selama ini dianggap menggerogoti kedaulatan ekonomi bangsa.

Ketika kepentingan besar mulai terganggu, maka berbagai bentuk gangguan pun biasanya muncul: dari propaganda informasi, pembentukan opini publik yang manipulatif, hingga aksi teror yang dimaksudkan untuk menciptakan kekacauan persepsi.

Karena itu, kasus penyiraman Andrie Yunus tidak boleh dipolitisasi secara terburu-buru. Publik perlu menahan diri dari kesimpulan prematur. Aparat penegak hukum harus diberi ruang untuk mengungkap fakta secara objektif dan menyeluruh.

Yang perlu kita pahami adalah bahwa dalam situasi transisi kekuasaan dan perubahan besar dalam tata kelola ekonomi, berbagai bentuk operasi propaganda bisa terjadi. Serangan fisik terhadap seseorang bisa saja memiliki tujuan yang jauh lebih besar menciptakan kegaduhan nasional, memecah konsentrasi publik, atau bahkan menggiring opini untuk melemahkan agenda pemberantasan mafia ekonomi.

Indonesia tidak boleh terjebak dalam permainan semacam ini. Yang dibutuhkan adalah kedewasaan publik dalam membaca setiap peristiwa secara jernih. Sebab pada akhirnya, siapa pun pelaku sebenarnya, tujuan utamanya hampir selalu sama: membuat bangsa ini saling curiga dan kehilangan fokus terhadap agenda besar membersihkan negara dari korupsi dan oligarki gelap.

Dan di tengah suasana global yang tidak menentu, persatuan serta kejernihan berpikir justru menjadi benteng terkuat bagi bangsa ini.

Indria Febriansyah
Aktivis Mantan Pendiri Forum BEM DIY, Ketua Umum Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

UPDATE

Main di Kandang PSIM, Persija Menang Telak 4-0

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 19:49

Cukai MBDK Mulai Dipungut Semester II/2027, Target Rp1,7 Triliun

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 19:30

DPR Ingatkan Bijak di Ruang Digital dan Cegah Perundungan Siber

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:51

Ekspor Emas Anjlok, Bea Cukai Ungkap Perusahaan Tahan Pengiriman

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:38

Usai Dilantik, Kapolda Metro Jaya Serap Aspirasi Insan Pers

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:49

Pertamina Perkuat Ekosistem MyPertamina di MotoGP Mandalika

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:30

Tegas dan Loyal, Demokrat: Tidak Ada Nama Selain Prabowo untuk Kontestasi 2029

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:36

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

YLBHI Minta Polresta Solo Hentikan Dugaan Kriminalisasi Kasus Perdata jadi Pidana

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 15:36

Pertamina Perkuat Pengelolaan Sampah Mandalika Lewat Dukungan untuk Bank Sampah Putri Nyale

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 15:09

Selengkapnya