Ilustrasi (RMOL via Gemini)
Ilustrasi (RMOL via Gemini)
Alih-alih mengandalkan kekuatan militer semata, Iran menggunakan kendali strategisnya atas jalur pelayaran energi dunia sebagai alat tekanan. Dengan membatasi lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, Teheran berupaya mengguncang pasar energi global sekaligus menekan lawan melalui dampak ekonomi yang luas.
Selat Hormuz: Titik Nadi Energi Dunia
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling vital di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global biasanya melewati perairan sempit tersebut setiap hari.
Posisi geografis Iran yang berada di pesisir utara selat ini memberinya pengaruh besar terhadap arus energi global. Ketika konflik pecah pada 28 Februari 2026, lalu lintas kapal di Selat Hormuz dilaporkan anjlok hingga sekitar 97 persen menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Gangguan terhadap jalur ini segera menimbulkan efek berantai terhadap harga energi dan stabilitas ekonomi global.
Menghidupkan Kembali “Perang Tanker”
Strategi Iran sebenarnya memiliki preseden sejarah. Pada perang Iran-Irak tahun 1980-1988, konflik di Teluk Persia memicu apa yang dikenal sebagai “Perang Tanker”, ketika kapal-kapal minyak menjadi target serangan.
Pada masa itu, situasi di kawasan menjadi sangat berbahaya sehingga Amerika Serikat harus mengerahkan armada untuk mengawal kapal tanker yang melintasi Teluk Persia.
Namun dibandingkan masa lalu, kemampuan Iran saat ini dinilai jauh lebih maju. Negara tersebut dilaporkan memiliki persediaan besar rudal murah serta drone yang dapat menyerang target di wilayah luas.
Teknologi ini memungkinkan Iran mengganggu jalur pelayaran strategis tanpa harus menutup selat secara total atau melakukan penambangan laut dalam skala besar.
Perang Asimetris Melawan Kekuatan Militer Besar
Menurut analis dari International Crisis Group, Ali Vaez, Iran memahami bahwa mereka tidak mungkin memenangkan perang secara langsung melawan kekuatan militer Amerika Serikat dan Israel.
Karena itu, strategi yang diambil adalah memperluas dampak konflik dan meningkatkan biaya politik bagi lawannya.
“Jika Iran menyandera ekonomi global, Trump kemungkinan akan menjadi pihak yang lebih dulu mundur,” ujar Vaez, seperti dikutip dari Reuters, Sabtu 14 Maret 2026.
Pendekatan ini dikenal sebagai perang asimetris—ketika pihak yang lebih lemah secara militer menggunakan cara-cara tidak langsung untuk menekan lawan yang lebih kuat. Dengan memicu gangguan pada harga minyak dan perdagangan energi, Iran berharap tekanan dari pasar global dan masyarakat internasional akan meningkat terhadap pemerintah Amerika Serikat.
Bertahan Meski Kepemimpinan Terpukul
Strategi Iran juga dirancang agar tetap berjalan bahkan ketika struktur kepemimpinan negara mengalami guncangan. Setelah pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas pada hari pertama konflik, sistem komando militer tetap beroperasi melalui struktur yang lebih terdesentralisasi.
Dengan menyebarkan pusat kendali dan melancarkan serangan dari berbagai arah, Iran berupaya memastikan kemampuan tempurnya tetap bertahan meski menghadapi tekanan militer besar.
Tujuan Utama: Bertahan Lebih Lama dari Lawan
Pada akhirnya, tujuan Iran bukan sekadar meraih kemenangan militer. Strategi yang dijalankan lebih berfokus pada kelangsungan rezim dan kemampuan bertahan dalam konflik jangka panjang.
Dengan menjadikan jalur energi global sebagai alat tekanan dan memperluas dampak perang ke ekonomi dunia, Teheran bertaruh bahwa mereka dapat bertahan cukup lama hingga lawannya memilih menghentikan konflik.
Populer
Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09
Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49
Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44
Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54
Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42
Senin, 09 Maret 2026 | 00:13
Minggu, 08 Maret 2026 | 01:58
UPDATE
Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:15
Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:14
Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:52
Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:47
Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:23
Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:10
Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:41
Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:23
Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:08
Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48