Berita

Jaya Suprana dan Ismail Marzuki (Foto: Dokumen Pribadi)

Publika

Gumun Harmoni dan Syair “Kunang Kunang”

MINGGU, 08 MARET 2026 | 09:22 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SETELAH menelaah mahluk ajaib yang disebut sebagai kunang-kunang secara biologis di jalur evolusi, kini saya memberanikan diri menelaah lagu “Kunang Kunang” mahakarya Ismail Marzuki secara musikologis di jalur tata harmoni serta sastramologis di jalur struktur puisi.

Naskah sederhana ini diawali permohonan maaf kepada Pak Harto. Saya mengaku bersalah tidak sanggup mematuhi wejangan Pak Harto untuk ojo gumunan. Saya terpaksa gumun terhadap lagu “Kunang Kunang” yang menurut pendapat saya merupakan mahakarya Ismail Marzuki paling menakjubkan dalam hal akrobat harmoni maupun metafora kata dan kalimat.

Menurut tafsir subyektif saya, syair lagu “Kunang Kunang” lembut disentuh Ismail Marzuki dengan sukma impresionistik plus surrealistik lebih ke gaya Miro ketimbang Chirico apalagi Dali. Di akhir bait lirik lagu baru kita tersadar setelah melayang-layang di awang-awang kembali mendarat di permukaan bumi sebagai ungkapan rindu kepada kekasih yang sedang berjuang di medan perang kemerdekaan Indonesia.


Demi memudahkan analisa harmoni, secara melodi dengan sistem abjad nada bukan Jerman, tanpa birama, notasi lagu “Kunang Kunang” dapat ditulis sebagai berikut: CDED CBAC AACA ABCB AAFA AABG / CBesCBes GECD EFGA EDED CAFidD / EFisDG CDED CBAC AACA / ABCB ABCB AAGE EDED / EFAC BesAsBesG GGisAC AFDA AGEC.

Rangkaian nada lagu terkesan sederhana tersebut menjadi luar biasa menakjubkan apabila ditelusuri pada gerak gerik harmoni berhias akrobatik kaliber salto mortale penuh dengan gerakan modulasi tangga nada secara fantastis yang mungkin tidak disadari oleh Ismail Marzuki sendiri.

Ada kesan bahwa Ismail Marzuki menulis melodi “Kunang Kunang” secara tulus naluriah sekaligus nuraniah tanpa pretensi memperhitungkan konsekuensi harmonialnya. Maka saya harus memeras habis daya tafsir harmonial saya demi mampu menelaah akrobat harmoni “Kunang Kunang” sehingga mata saya berkunang-kunang akibat kehabisan enerji lahir batin.

Bagian awal melodi Kunang-Kunang sudah memicu problematika harmoni tersendiri sehingga saya pribadi memilih sekuenza harmoni akord tujuh besar susul-menyusul silih berganti dengan akord tujuh mengkerut yang memang potensial digunakan untuk mengiringi untaian melodi apa pun termasuk yang paling irasional.

Mengagumkan secara mengejutkan bagaimana pada bait ke dua tepatnya pada “CBesCBes”, Bang Ismail mempersiapkan gelagat suasana bahwa akan terjadi modulasi dari “C besar” ke “F besar” tetapi tidak langsung ke tonika namun terlebih dahulu ke dominan sebelum ke EFGA di mana “A” berfungsi sebagai bukan “la” tetapi “mi” sebelum meloncat ke paralel “CBesCbes” yaitu “EDED” disusul “CAfisD” sebagai dominan ganda yang memodulasikan tangga nada “F” ke “G” di mana kemudian “G” berfungsi sebagai dominan untuk kembali mendaratkan melodi ke tangga nada semula. Yaitu “C besar”. 

Keajaiban jilid dua terjadi pada melodi “BesAsBesG” yang sengaja tidak saya tulis “AisGisAisG” demi mengarahkan gerak modulasi tangga nada ke “Es besar” atau bisa juga “G kecil”. Namun dugaan saya meleset sebab ternyata harmoni yang muncul alih-alih “E besar” malah “E kecil”.

Lagu “Kunang Kunang” pada hakikatnya merupakan fakta bahwa segenap teori akademis musikologi memang berguna untuk menganalisa namun sekaligus juga rawan menjadi kendala dalam gerak proses kreatifitas menggubah musik.

Terbukti bahwa saya yang mempelajari teori musik maka terjebak pada perangkap kaidah-kaidah akademis, justru mustahil mampu menciptakan sebuah lagu sederhana namun atau maka mahadahsyat dalam kreatifitas ketulusan keindahan natural seperti yang telah dilakukan sang Pahlawan Nasional Indonesia, Ismail Marzuki dalam menggubah “Kunang Kunang”. MERDEKA!

*Penulis merupakan Budayawan dan Pendiri MURI

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Masuk Tahap Pembuktian, Denny Indrayana Minta MK Panggil Gibran

Senin, 28 September 2026 | 18:16

Bukan Sekadar Parlemen, MPR Penjaga Konstitusi dan Kebangsaan

Senin, 28 September 2026 | 18:09

Dari 49 Tahun, Antrean Faktual Haji Kini Jadi 14 Tahun

Senin, 28 September 2026 | 17:44

Prabowo Perintahkan Audit Forensik Tata Kelola Keuangan Haji

Senin, 28 September 2026 | 17:38

Warga Ngadu ke DPR Gegara Kasus Dugaan Mafia Tanah Disetop

Senin, 28 September 2026 | 17:33

Mengenal Megathrust, 14 Segmen Sumber Gempa di Indonesia dan Potensi Magnitudonya

Senin, 28 September 2026 | 17:25

Dirjenpas Janji Bongkar 13 Bangunan Lapas Cibinong

Senin, 28 September 2026 | 17:16

Apa Itu Fenomena Blue Fire di Gunung Papandayan? Ini Penjelasan Ahli

Senin, 28 September 2026 | 17:08

Kesaktian Silfester Mulai Berkurang

Senin, 28 September 2026 | 17:05

Harga BBM Pertamina 28 September 2026, Pertalite hingga Pertamax Masih Segini

Senin, 28 September 2026 | 16:59

Selengkapnya